Berani beraksi nyata menjaga alam untuk dunia berkelanjutan

Posted on

Dalam sebuah kesempatan mengikuti kegiatan orientasi kepemimpinan pemuda gereja di Kabanjahe (tempat tinggal penulis), pada saat sesi istirahat seluruh peserta dipersilakan menikmati makanan ringan sambil ngopi atau minum teh. Ada sebuah ironi saat menyandingkan materi acara dengan kenyataan pada saat sesi istirahat itu.

Jangankan berhasil membekali peserta untuk bisa memimpin orang lain atau sebuah organisasi, ternyata memimpin diri sendiri untuk bisa membuang sampah pada tempat yang telah disediakan saja tampaknya panitia belum berhasil. 

Sampah makanan dari kemasan plastik tampak berserakan di antara kaki para peserta yang tampak asyik mengobrol entah soal apa sambil menyantap makanan dan minuman, sebagiannya bahkan tampak terbahak-bahak dengan suara menggema.

Itu hanya secuil potret gambaran pemuda masa kini yang membuat slogan aksi untuk mewujudkan dunia berkelanjutan tampak kontradiktif dengan kenyataan. Kalau kesadaran perlunya mewariskan sebuah bumi yang sehat untuk generasi selanjutnya tidak juga tercipta di kalangan generasi muda, lalu kepada siapa lagi kesadaran itu bisa diharapkan akan bisa terwujud?

Mewujudkan dunia berkelanjutan adalah isu yang terasa semakin aktual dan relevan untuk digumuli ketika kita diperhadapkan dengan visi Indonesia Emas 2045, “Negara Nusantara Berdaulat, Maju, dan Berkelanjutan.” Apa peran yang bisa dilakukan oleh pemuda untuk mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045 itu?

Untuk membahasnya, kita perlu terlebih dahulu membangunkan kesadaran kita untuk melihat kondisi kita, alam dan manusia di bumi dewasa ini. Seperti apa kenyataannya?

Tuhan Sudah Berhenti Mencipta?

Orang-orang tua di kampung kami, Kabanjahe, sering mengajarkan kepada anak-anaknya, “Tuhan enggo ngadi nepa taneh, tapi jelma lalap reh teremna.” Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kira-kira maksud kalimat itu bahwa Tuhan sudah berhenti menciptakan tanah (daratan) sebagai ruang untuk hidup manusia, tapi manusia masih dan akan selalu bertambah banyak.

Bukan hal yang baru kita ketahui bersama, bahwa banyak konflik terjadi di berbagai tempat dipicu oleh masalah keterbatasan ruang. Sementara itu, di saat yang sama, tingkat pertumbuhan penduduk di dunia secara agregat menunjukkan tren yang terus meningkat.

Selain membutuhkan tempat, manusia juga membutuhkan makanan untuk hidup. Manusia yang makan sudah pasti juga akan menghasilkan sampah, dan untuk itu manusia juga membutuhkan ruang untuk sampah-sampah yang dihasilkannya. Maka patutlah kita khawatir, bahwa manusia dan sampah yang tidak berhenti bertumbuh berpotensi menjadi pemicu konflik dalam kehidupan dewasa ini.

Sudah sangat sering kita dengar, sesama tetangga di sebuah kompleks perumahan berkelahi hanya gara-gara sampah. Hewan-hewan peliharaan yang lepas liar ikut terlibat dalam persoalan ini.

Misalnya saja berita di kompleks perumahan tentang anjing peliharaan yang kurang diperhatikan hingga mencari makan ke tempat sampah tetangga, dan karenanya ikut menyeret diapers atau pampers anak bayi tetangga. Atau berita tentang warga dua daerah yang bermusuhan karena satu tidak terima daerah tempat tinggalnya dijadikan tujuan “ekspor” sampah, karena lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah ada di kotanya.

 Gaya Hidup Leisure Class yang Mengancam Kesinambungan Alam

Leisure class adalah konsep kelas sosial pemboros yang diperkenalkan oleh sosiolog Thorstein Veblen. Masyarakat yang hidup dengan konsep ini menggunakan waktu luang dan kekayaan untuk memamerkan status serta gengsi tinggi melalui konsumsi barang-barang mahal, sebagai bentuk pencitraan diri, dan pamer keunggulan di mata masyarakat.

Dalam komunitas masyarakat global dewasa ini, hampir semua hal tampak sebagai sesuatu yang bisa dibeli dengan uang. Manusia sebagian besar lebih memilih jalan pintas dalam memudahkan hidupnya di sebuah lingkungan yang bergerak serba cepat dan serba tidak pasti.

Dewasa ini kita sering mendengar celetukan di tengah percakapan sehari-hari, “Jangankan uang halal, uang haram pun sekarang susah untuk dicari.” Atau ada juga yang mengatakan, “Tidak zamannya lagi berpikir bahwa orang sabar dikasihani Tuhan. Sekarang orang sabar akan diinjak-injak.” Ungkapan itu hanya segelintir contoh bahwa persolan-persoalan praktis telah mengalahkan hal-hal yang etis di zaman ini.

Oleh karena itu, dalam jenis masyarakat yang demikian, sering terjadi sikap konformis sehingga kelihatannya apa pun bisa dibeli asalkan ada uang yang cukup. Bagi yang kaya dan kelebihan uang, hidup menjadi sangat mudah, tinggal dinikmati saja.

Bila ditelisik, sebenarnya gaya hidup yang serba mudah, serba nikmat, dan serba cepat itu, turut memproduksi sampah-sampah dengan demikian mudah dan cepatnya. Ini pun sebuah ironi dan kontradiksi, di tengah kenikmatan hidup yang serba mudah (bagi yang kaya), produksi sampah besar-besaran yang menjadi dampak sampingannya justru membuat hidup menjadi semakin sulit.

Apa yang praktis dan yang ekonomis memang bisa saja menjadikan manusia menjadi egois. Mungkin kita ingat juga pepatah bijak yang mengatakan, “Bumi mampu mencukupi kebutuhan seluruh umat manusia, tapi tidak cukup untuk memenuhi keserakahan seorang manusia.” Patut diperhitungkan, bahwa sampah yang dibuang sembarangan bisa dikatakan sebagai salah satu penanda manusia modern yang egois. Sekalipun ia mengeklaim diri sebagai orang yang serba praktis dan ekonomis.

Berdasarkan pengalaman pribadi yang berlangsung di sekitar lingkungan keseharian kita, inilah beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai aksi nyata menjaga alam untuk dunia berkelanjutan. Mungkin hanya aksi sederhana. Namun, itulah tanda cinta kita kepada bumi yang tampak ringkih, tapi tidak tergantikan hingga kini.

1. Mengoptimalkan Pemanfaatan Lahan yang Sempit dengan Memberi Makan Bumi

“Memberi makan bumi” adalah pelajaran kehidupan dalam hubungan manusia dan bumi yang saling memberi dan saling menerima. Itu adalah proses menimbun ke dalam tanah segala bahan organik yang merupakan residu dari seluruh aktivitas penghuni rumah.

Mulai dari sisa makanan yang tidak dihabiskan anak-anak, kulit buah-buahan, sisa potongan sayuran, jeroan ikan, dan bahan-bahan lainnya yang organik. Sebagai catatan, saya sendiri hampir tidak pernah menyisakan makanan apapun, dan selalu mengajarkan ke anak-anak untuk tidak pernah menyisakan makanan.

Menanam bahan-bahan organik ke dalam tanah ini sendiri akan sangat membantu meringankan beban layanan kebersihan kota oleh petugas kebersihan, apalagi saat layanan petugas kebersihan tidak optimal.

Memberi makan bumi dalam jangka waktu yang panjang akan menghasilkan lahan yang subur dan tanah yang gembur bagi tumbuh kembang berbagai tanaman yang ditanam di pekarangan.

2. Manusia Perlu Untuk Hidup Lebih Fungsional

Kita akan menghindari perdebatan soal hal-hal yang agamis, teori-teori menyangkut hal mana yang paling praktis dan ekonomis untuk menjauhkan pertikaian di antara kita. Setidaknya, kesinambungan kehidupan kita manusia bersama dengan alam lingkungan tempat kita hidup sebagai sebuah kesatuan adalah titik temu yang menjadi kepentingan bersama umat manusia.

Hari ini saya menggali drainase meskipun bukan jadwalnya untuk gotong royong warga. Kenapa? Karena saluran pembuangan di depan rumah saya mampet, dan saya tidak mungkin menunggu lebih lama jadwal gotong royong warga lingkungan untuk mengorek endapan di saluran air di depan rumah saya sendiri.

Kalau perlu, saya akan mengorek drainase hingga di depan rumah-rumah tetangga sepanjang terjangkau dan semampu saya. Kenapa? Karena sekalipun drainase saya bersih, tapi apabila di hilir tersumbat, air akan tetap tergenang di depan rumah saya.

Mewujudkan Indonesia Emas bukan hanya soal capaian ekonomi dan teknologi. Tidak jarang kita luput mempedulikan hal-hal yang tampak kecil tapi mendasar. Hanya dengan semakin banyak orang yang peduli dengan bahaya membuang sampah sembarangan, semakin banyak orang yang peduli untuk mengendalikan dan mengelola sampahnya sendiri, hingga pada akhirnya semua orang akan dapat bersama-sama menikmati ruang hidup, alam dan lingkungan yang lestari berkelanjutan.

Dibutuhkan banyak pemuda yang berani beraksi nyata menjaga alam untuk dunia berkelanjutan. Sekali pun dari hal-hal yang tampak kecil dan sederhana.