Belajar dari sejarah gastronomi Indonesia, mari kembali ke pangan lokal

Posted on

Indonesia adalah negeri yang kaya akan budaya dan kuliner lokal. Bahkan kuliner fusion di tiap daerah memiliki perbedaan rasa dan penampilan.

Misal Mie Aceh di Aceh, Mie Gomak di Sumatera Utara, Mie Celor di Palembang, Mie Bangka di Bangka, Soto Mie di Bogor, Mie Kopyok di Semarang, Mie Kocok di Bandung, Mie Koclok di Cirebon, Mie Ongklok di Banyumas, Mie Jawa di Yogya, Mie Titi di Makassar, dan Mie Cakalang di Manado.

Mie olahan dalam bentuk mie siap saji, juga memiliki variasi berbeda, seperti ayam bawang, kari ayam, soto ayam, mie goreng rendang, mie goreng sambel matah dan mie Bangladesh.

Namun seiring gencarnya promosi dari para pedagang kuliner, banyak diantara kita yang meninggalkan cita rasa pangan lokal, karena pengaruh globalisasi. Sehingga kini generasi muda lebih mengenal mie ramen, mie ramyun, dan spaghetti.

Apalagi kita yang memilih makanan olahan, seperti nugget, sarden, atau sosis, yang kurang sehat. Dengan alasan praktis dan mudah menyiapkannya.

Kenapa kita harus kembali lagi ke pangan lokal ? Apa alasannya ?

Untuk jelasnya, marilah kita meninjau sejarah gastronomi Indonesia.

Sejarah Gastronomi Indonesia

Gastronomi Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan sangat kaya yang banyak dipengaruhi oleh budaya dan tradisi.

Diawali dengan era prasejarah, dimana manusia purba Indonesia masih berburu hingga mengenal cara mengolah makanan. Saat itu manusia purba sudah mengenal talas.

Dilanjutkan dengan era hidrolis, saat pertanian dan peternakan serta memanfaatkan sumber daya alam memperkaya jenis makanan.

Pada era kerajaan yang dilanjutkan era kolonial, pengaruh asing mulai menunjukkan masuk dan mempengaruhi kuliner Indonesia, seperti dari China, India, dan Eropa.

Pada abad ke 16, pedagang Portugis mulai memperdagangkan tomat, cabai dan jagung. Pada abad ke 19, Belanda memperkenalkan kentang, wortel dan buncis. Salah satu kuliner Solo yang mengadopsinya adalah Selat Solo.

Memasuki era awal republik, banyak terjadi fusion antara kuliner asing dengan kuliner lokal. Hingga berkuasanya Orde Baru yang bersifat Jawa-sentris, sehingga padi / beras menjadi begitu populer. Bahkan bisa menggantikan pangan lokal yang telah membudaya lama, seperti sagu di Indonesia Timur.

Era globalisasi menyebabkan populernya makanan siap saji. Yang diikuti era  teknologi pangan. Namun juga muncul fase regeneratif yang mempopulerkan kuliner kukusan untuk menggantikan gorengan.

Sesi Bincang Pangan

Setelah diawali dengan tari Budaya Nusantara, talk show dimulai dengan. mengundang naik tiga narasumber dan moderator.

Narasumber pertama dalam Talk Show “Melacak Jejak Pangan Nasional” yang diselenggarakan oleh PasarModern.combekerja sama dengan Kompas TV, Repa Kustipia pada Kamis, 18 Desember 2025 bertempat di studio 2 Kompas TV – Menara Kompas, Jakarta Pusat. Telah menguraikan sejarah gastronomi Indonesia dengan jelas.

Kuliner pada umumnya dipengaruhi oleh kebiasaan. Jadi, bila kita terbiasa makan pagi dengan roti atau mie cepat saji yang berbahan dasar gandum, yang masih di impor, memang sangat sulit untuk merubah ke pangan lokal yang cukup melimpah di Indonesia, dan telah diteliti oleh BRIN, seperti dikemukakan oleh narasumber kedua, Dwinita Wikan.

Beberapa pangan lokal yang telah terbukti memiliki gizi baik, adalah talas, singkong, ubi jalar, jagung, dan sorgum. Serta buah-buahan lokal, seperti pisang, sukun, dan pepaya.

Pangan Lokal, Kekayaan Budaya dan Gizi

Pangan lokal Indonesia sangat banyak ragamnya dan kaya gizi. Sebut saja, nasi goreng, gado-gado, nasi pecel, soto, bakso, hingga sate. Dan uniknya tiap daerah memiliki kuliner khas. Seperti soto, Indonesia memiliki banyak sekali varian, soto Medan, soto Padang, soto Banjar, Soto Semarang, soto Kudus, coto Makassar dan masih banyak lagi. Sate juga sangat beragam, kita mengenal sate Padang, sate Madura, sate Lilit, sate Maranggi, sate Klopo, sate Kere, sate Klathak dan lainnya.

Selain menggugah selera, pangan lokal juga memiliki kelebihan dalam hal kesehatan, karena terbuat dari bahan-bahan alami yang segar.

Ironisnya, seiring dengan modernisasi, banyak pangan lokal yang mulai ditinggalkan. Makanan olahan dan makanan cepat saji sering menjadi pilihan karena lebih praktis dan mudah. Akibatnya, kita tahu sendiri banyak diantara kita menjadi obesitas, terkena penyakit kronis, seperti kanker, diabetes, jantung dan hipertensi.

Sisi Negatif Modernisasi 

Meninggalkan pangan lokal dapat menimbulkan dampak negatif pada kesehatan dan ekonomi. Kesehatan, karena makanan olahan sering kali mengandung bahan kimia, gula dan garam berlebihan yang berdampak penyakit kronis seperti disebutkan di atas.

Dampak ekonominya, kesejahteraan petani, peternak dan nelayan sulit tercapai. Keuntungan mengalir ke perusahaan besar bahkan importir. Ironisnya, makanan sejuta umat tahu dan tempe, ternyata masih tergantung dari kedelai impor. Sehingga bisa disebutkan sebagai kuliner mewah.

Cara Kembali ke Pangan Lokal

Setelah memahami sejarah gastronomi dan untung ruginya modernisasi, kita kembali diingatkan untuk kembali ke pangan lokal.

Apa bisa merasa kenyang ? Masyarakat Indonesia sudah identik dengan selalu makan nasi. Ada istilah yang populer, kalau belum makan nasi itu namanya belum makan.

Cara kembali ke pangan lokal, pilihlah cara yang sesuai bagi gaya hidup kita, seperti:

* Belanja di pasar tradisional, temukan bahan makanan yang alami dan segar.

* Mengolah masakan sendiri, selalu gunakan bahan-bahan segar, bukan bahan olahan. Contoh sarapan roti, kita ganti dengan aneka kukusan: jagung, pisang, waluh, ubi jalar, ubi kayu dan telur.

* Dukung petani / peternak / nelayan lokal, belilah hasil produk mereka, jangan produk olahan, meski lebih praktis.

* Coba resep kuliner lokal, cobalah aneka kuliner nusantara yang sangat beragam, dari Sumatera hingga Papua.

* Bagikan pengalaman kita, dengan menjadi pembuat konten untuk mempromosikan pangan lokal melalui media sosial.

Seperti film pendek yang diputar sebelum talk show dimulai. Sepiring nasi bisa memiliki cerita berbeda, antara anak di pulau Jawa, Sulawesi dan Sumba. Tetapi mereka sama-sama menjadi anak Indonesia yang kuat dan tangguh, sehingga bisa rajin belajar.

Talk show diakhiri dengan narasumber ketiga, Dadan yang mempromosikan serangga sebagai protein pengganti daging hewani (ayam atau ikan). Cara mengolahnya  juga mudah, dan serangga itu bersih karena hanya mengkonsumsi tumbuh-tumbuhan. Contoh serangga banyak dikonsumsi di Gunung Kidul (laron, jangkrik, belalang,) dan Blora (ulat daun jati). Karena kandungan protein serangga itu 6x dari daging sapi.

Talk show dengan moderator COO PasarModern.commas Heru atau mas Embong yang memimpin jalannya talk show dengan lugas, ditutup dengan standup o.

Kembali ke pangan lokal bukan hanya tentang cita rasa, melainkan untuk melestarikan tradisi dan budaya. Yuk kembali ke pangan lokal dengan karbo hidrat (jagung, ubi jalar, ubi kayu, waluh, talas, pisang), protein (ayam, ikan atau serangga) dan serat (sayur-sayuran) serta buah-buahan lokal (pisang, nanas, sukun, pepaya).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *