Banjir Kendal Tak Kunjung Surut, Warga Buat Dapur Umum

Posted on

Inisiatif Warga Membangun Dapur Umum di Kebondalem

Di tengah banjir yang masih menggenangi wilayah Kabupaten Kendal, warga Kelurahan Kebondalem menunjukkan kepedulian mereka dengan membentuk dapur umum. Inisiatif ini dilakukan oleh masyarakat setempat bersama Pemerintah Desa (Pemdes) untuk memberikan bantuan makanan kepada korban banjir.

Widiastuti, salah satu anggota dari kelompok warga yang terlibat dalam pembuatan dapur umum, menyatakan bahwa mereka memasak dalam porsi besar untuk dibagikan kepada warga terdampak. Meskipun rumahnya juga terendam banjir, dia dan sembilan warga lainnya serta mahasiswa KKN UPGRIS bekerja sama untuk mendirikan dapur umum dan menyiapkan makanan seadanya.

Logistik konsumsi yang digunakan berasal dari berbagai instansi seperti Dinas Sosial, BPBD, Baznas, dan PMI Kabupaten Kendal. Lokasi pendirian dapur umum berada di rumah warga yang sudah ditinggikan, sehingga tidak terlalu terdampak oleh banjir.

Dapur umum ini menjadi bagian dari Desa Tanggap Bencana (Destana), sebuah organisasi yang dibentuk melalui kesiapsiagaan masyarakat sebagai pelaku utama dalam pengurangan risiko bencana berbasis komunitas. Destana memiliki kemampuan mandiri dalam menghadapi, beradaptasi, dan pulih dari ancaman dan dampak bencana alam.

Widiastuti menjelaskan bahwa dapur umum ini didirikan atas inisiatif warga bersama Pemdes. Dia menyulap bagian belakang rumah menjadi tempat distribusi makanan ke warga terdampak banjir. “Kemarin sudah 300 bungkus nasi kita bagikan, hari ini ada 400 bungkus lagi,” katanya.

Proses memasak dilakukan selama sehari sekali. Setelah semua siap, bungkus demi bungkus nasi langsung dibagikan ke warga. “Kalau kurang, kita bagikan secara mentah. Ini ada mi, nasi, telur, sama tempe. Karena kan yang masak juga terbatas,” ungkapnya.

Selama dua hari di dapur umum tersebut, pihaknya telah mendistribusikan makanan ke sekitar 25 RT. Jika banjir tak kunjung surut, dapur umum ini akan terus beroperasi untuk melayani sesama.

“Sehari sekali baginya. Kadang untuk makan sore, atau makan siang. Itu tergantung dari pasokan logistik yang kami terima, kadang ada yang pagi, ada yang siang,” tuturnya.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kendal, Muntoha, menjelaskan bahwa dapur umum itu didirikan atas inisiatif RT setempat. Adapun untuk logistik berasal dari berbagai instansi. “Itu inisiatif dari pak RT ya, kita juga sudah dropping logistik, dari Dinsos, BPBD, PMI serta Baznas,” ujarnya.

Sementara itu, Kasi Kedaruratan BPBD Kendal, Iwan Sulistyo, mengatakan pihaknya belum meningkatkan status bencana menjadi tanggap darurat. Sehingga pendirian dapur umum juga belum dilakukan. “Bencana yang saat ini terjadi, menurut kajian kami belum mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat,” imbuhnya.

Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, menuturkan bahwa dapur umum yang dibangun merupakan inisiatif pemerintah desa. Pihaknya juga belum mencatat adanya tenda-tenda pengungsian. “Karena kan ini juga berangsur surut. Memang kemarin ada yang ngungsi, tapi sedikit dan sudah pulang ke rumah masing-masing,” tandasnya.

Wilayah yang Terendam Banjir

Banjir yang menggenangi wilayah Kabupaten Kendal belum sepenuhnya surut. Banjir terjadi akibat curah hujan yang cukup deras sehingga membuat Sungai Kendal meluap. Berdasarkan update data dari BPBD pukul 15:00 WIB, terdapat lima kecamatan yang masih terendam banjir, yaitu Kecamatan Kaliwungu, Kendal Kota, Brangsong, Ngampel, dan Rowosari.

Di Kecamatan Kaliwungu, banjir merendam Desa Sarirejo dan Wonorejo dengan ketinggian air 10-40 cm. Banjir yang sebelumnya melanda Desa Kumpulrejo, kini sudah surut.

Di Kecamatan Brangsong, hanya tersisa satu dusun yang terdampak banjir yakni Dusun Krayapan Desa Purwokerto dengan ketinggian air 20 – 40 cm. Desa Kebonadem yang sempat tergenang banjir pun kini sudah surut.

Sementara itu, banjir juga merendam Kecamatan Rowosari, tepatnya di Dusun Bulak Desa Bulak dengan ketinggian 10 cm, serta Desa Pojoksari dengan ketinggian air 10 – 30 cm.

Banjir juga merendam wilayah Kecamatan Ngampel, yakni di Desa Ngampel Kulon RT 1 RW 1, RT 2 RW 2, RT 3 RW 1 dengan ketinggian air 10 – 40 cm. Kemudian Dusun Dalangan Desa Banyuurip RT 2 RW 3, RT 3 RW 3 dengan ketinggian air 5 – 30 cm, Desa Dempelrejo dengan ketinggian air 5 – 30 cm, serta Desa Putatgede dengan ketinggian air 5 -30 cm.

Adapun dampak banjir terluas berada di wilayah Kecamatan Kendal Kota yang menggenang di 16 titik. Di antaranya Jalan Pahlawan 1 di Kelurahan Trompo, Kebondalem dengan ketinggian air 20 – 40 cm. Kemudian Jalan Pahlawan 2 di Kelurahan Sijeruk, Kalibuntu, Langenharjo dengan ketinggian air 20 – 40 cm. Selain itu, banjir juga merendam Kelurahan Sukodono dengan ketinggian air 20 -30 cm.

Di Kelurahan Trompo dan Candiroto, ketinggian banjir mencapai 5 – 20 cm. Kelurahan Kebondalem dengan ketinggian air 20 – 40 cm, Kelurahan Sijeruk dengan ketinggian air 20 -30 cm, Kelurahan Kalibuntuwetan dengan ketinggian air 20 – 40 cm, dan Kelurahan Langenharjo dengan ketinggian air 20 – 40 cm.

Banjir juga merendam Kelurahan Pegulon, Patukangan, Pekauman, dan Ngilir dengan ketinggian air 20-40 cm. Adapun di Kelurahan Balok ketinggian air mencapai 10 – 40 cm, Kelurahan Ketapang dengan ketinggian 20 – 70 cm, serta di Kelurahan Karangsari dengan ketinggian air mencapai 5 – 10 cm.