Bali sepi, driver dan tour guide keluhkan tamu minim, PHRI sebut turis datang di last minute Nataru

Posted on

PasarModern.com, DENPASAR –Para pelaku pariwisata pakrimik dengan kondisi pariwisata di Bali menjelang akhir tahun 2025 ini. Ironis, Bali malah sepi mendekati liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru). 

Dari pantauan Tribun Bali, Minggu 21 Desember 2025 sore, suasana sepi masih terlihat di pusat sekaligus ikon pariwisata Bali yakni Kuta, Badung. 

Tidak ada kepadatan kendaraan atau kemacetan di seputaran Kuta, Legian, hingga Jalan Sunset Road.

Sebelumnya, jalanan khususnya di tempat-tempat pariwisata pun dikeluhkan sepi oleh para driver pariwisata di Bali. Kondisi ini pun viral di media sosial.

Ramai juga di media sosial narasi-narasi perbandingan jumlah penerbangan menuju Chiang Mai, Thailand, yang lebih ramai dibandingkan penerbangan menuju Pulau Dewata jelang libur Natal dan Tahun Baru 2026. 

Ketua Forum Perjuangan Driver Pariwisata Bali (FPDPB), Made Darmayasa, membenarkan keluhan Bali sepi dari para driver akibat jumlah wisatawan menurun saat jelang libur Natal dan Tahun Baru 2026 di Bali. 

“Info dari teman-teman driver sementara ini memang agak sepi. Mudah-mudahan akhir bulan ini ramai. (Penurunan wisatawan) kalau saya di angka kurang lebih 40 persen untuk saat ini,” jelas Darma kepada Tribun Bali, Sabtu 20 Desember 2025. 

Kondisi penurunan wisatawan ke Bali sudah dirasakan para driver pariwisata sejak pertengahan Oktober. 

Diduga, para wisatawan mancanegara (wisman) lebih memilih berlibur ke Thailand.

“Mungkin Thailand memberikan pelayanan lebih ke wisman baik dari harga dan lain-lain. Memang benar agak sepi sekarang,” imbuhnya. 

Darma menyebut, penyebab penurunan kunjungan wisatawan asing ke Bali akhir-akhir ini karena beberapa faktor kompleks, termasuk dampak ekonomi global yang mengurangi daya beli, menjamurnya akomodasi liar atau bodong yang mengacaukan pasar hotel resmi, isu infrastruktur seperti sampah juga macet, dan tata kelola transportasi yang sembrawut serta permasalahan lingkungan dan budaya akibat pariwisata berlebihan (overtourism) yang mulai memicu perhatian negatif. 

“Faktor seperti isu bencana alam juga sempat berpengaruh, meskipun dianggap bukan penyebab utama dibanding masalah ekonomi global,” ujarnya.

Tak hanya driver pariwisata, sepinya tamu ke Bali juga dirasakan oleh tour guide saat high season Natal dan Tahun Baru 2026. 

Salah satu tour guide di Bali, Agus Indrawan, mengatakan sangat merasakan turunnya jumlah wisatawan yang berlibur ke Bali. 

“Sangat benar, perubahan drastis kedatangan turis ke Bali bulan ini sangat kita rasakan sekali. Bisa dibilang 80 persen (turun) dibanding dua tahun dan tahun lalu,” kata Agus pada Sabtu 20 Desember 2025. 

Muncul narasi kondisi pariwisata di Bali sama persis saat kondisi Covid-19 di tahun 2019-2021 lalu. 

Alhasil, banyak yang mengatakan saat ini seperti Covid kedua. 

Agus pun membenarkan, hanya saja bedanya beberapa turis masih dapat berdatangan dibanding saat Covid-19 yang tidak ada turis sama sekali. 

Ditanya apa penyebab turis sedikit datang ke Bali, Agus sempat mendengar keluh kesah turis saat berlibur sebelumnya. 

“Kebanyakan dari mereka mengeluh akan macet, dan mendengar isu bahwa bencana di Bali seperti banjir besar kemarin,” sambungnya. 

Saat ini Agus bersyukur sudah mulai ada turis yang memakai jasanya, setelah beberapa minggu lalu renggang hingga 6 hari di rumah tanpa adanya bookingan masuk dari tamu. 

“Sementara yang ramai pengunjung Pura Uluwatu. Kebetulan bookingan ramai ke sana dan kecaknya selalu sampai season dua,” paparnya. 

Sebagai pelaku pariwisata, Agus jelas berharap para turis kembali ramai lancing ke Bali seperti sedia kala. 

“Untuk pekerja di sektor pariwisata tentunya jangan menyerah dan tetap semangat,” imbuhnya. 

Bali Mulai Bangkit

Dihubungi terpisah, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya memberikan kabar baik bagi para pelaku pariwisata di Bali. 

Menurutnya, mulai Sabtu 20 Desember 2025, turis sudah mulai masuk ke Bali. 

Para wisman datang ke Bali last minute liburan Nataru.

“Bali sudah mulai bangkit ya untuk Christmas-nya sampai tanggal 27 (Desember 2025). Untuk periode Christmas-nya sudah meningkat tingkat huniannya. New Year nya mulai tanggal 27 sampai tanggal 5 juga cukup signifikan ya, peningkatan daripada okupansi hotel dan booking-nya,” kata Rai Suryawijaya. 

Disinggung mengapa turis yang datang ke Bali di waktu last minute atau sudah dekat dengan perayaan Natal dan Tahun Baru, Rai menjelaskan memang karakter turis sekarang banyak yang mengonfirmasi secara last minute melalui online travel agent (OTA) dan mereka sudah membooking akomodasi hotel atau villa melalui online. 

Hampir 70 persen bisnis pariwisata menggunakan OTA. Ini yang membuat wisatawan last minute datang ke Bali. 

“Kenapa juga last minute karena kedua situasi dan kondisi karena kan banyak juga berita-berita yang kurang baik bagi Bali itu sendiri ya, terutama isu lingkungan, kedua adalah termasuk sampah dan kedua adalah kemecetan dan infrastruktur itu yang terjadi,” terang Rai, yang juga Wakil Ketua PHRI Bali ini.

Banjir tentu menjadi hal yang sangat dikhawatirkan oleh wisatawan. 

Terlebih berita banjir sudah viral baik di media nasional maupun internasional ketika banyak turis yang mengalami kebanjiran saat beberapa hari lalu di Kuta dan di Canggu, serta beberapa tempat wisata lainnya. 

Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, juga menyampaikan kondisi pariwisata di Bali sudah mulai membaik. 

Ini bisa dilihat dari data penumpang pax internasional Bandara Ngurah Rai Bali yang perlahan meningkat.

Dilihat dari data tersebut kunjungan wisatawan alami fluktuasi sejak 1 Desember 2025. 

Dikuti dari data seminggu sebelumnya yakni pada 14 Desember 2025, jumlah kunjungan wisatawan asing sebanyak 40.979 kunjungan, dengan growth 8,18 persen. Sementara wisatawan domestik sebanyak 27.205 kunjungan dengan growth -5,71 persen. 

Pada 15 Desember 2025 jumlah kunjungan wisatawan asing sebanyak 41.022 kunjungan dengan growth 0,55 persen, sementara wisatawan domestik sebanyak 26.199 kunjungan dengan growth -17,86 persen. 

Pada 16 Desember 2025 jumlah kunjungan wisatawan asing sebanyak 37.023 kunjungan dengan growth -6,35 persen, sementara wisatawan domestik sebanyak 21.625 kunjungan dengan growth -19,25 persen. 

Pada 17 Desember 2025 jumlah kunjungan wisatawan asing sebanyak 39.803 kunjungan dengan growth 9,16 persen, sementara wisatawan domestik sebanyak 24.498 kunjungan dengan growth -2,47 persen. 

Pada 18 Desember 2025 jumlah kunjungan wisatawan asing sebanyak 37.463 kunjungan dengan growth -4,94 persen, sementara wisatawan domestik sebanyak 23.812 kunjungan dengan growth -14,52 persen. 

Pada 19 Desember 2025 kembali alami kenaikan jumlah kunjungan wisatawan asing sebanyak 41.300 kunjungan dengan growth 6,02 persen, sementara wisatawan domestik sebanyak 27.911 kunjungan dengan growth -1,26 persen. 

“Berdasarkan laporan day to day dari Ngurah Rai Airport Bali, wisman via Ngurah Rai sudah mulai naik. Dari Ketua BTB bilang, biasanya akan mulai naik di tanggal 22 Desember 2025 ke atas. Kita akan pantau terus,” ucap Ni Luh Puspa kepada Tribun Bali. (sar)

Pastikan Bali Tak Kalah dari Thailand

MENURUNNYA kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali menjelang akhir tahun ini disebut-sebut karena pesona Pulau Dewata kalah bersaing dengan Thailand. 

Bali dinarasikan menjadi second choice oleh para wisman, dan lebih memilih kunjungan ke Thailand atau Vietnam.

Kondisi ini ditunjukkan dengan gambar satelit yang memperlihatkan penerbangan ke Chiang Mai, Thailand, lebih padat ketimbang ke Bandara International Gusti Ngurah Rai Bali.

Namun Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya membantah Bali menjadi second choice untuk wisatawan asing. 

“Bali itu kan sudah lama ya dikenal dan juga banyak repeat guest datang ke Bali sudah berapa kali datang ke Bali. Kan sebagai wisatawan tentu juga mereka menginginkan tempat-tempat yang baru naik daun. Mereka ingin mencoba gitu loh jadi Chiang Mai, Vietnam, Filipina itu yang terjadi,” ujarnya. 

Rai mengatakan untuk pariwisata Bali harus memiliki komitmen yang kuat bersama-sama untuk mengatasi isu-isu negatif yang telah viral di sosial media. 

Harus ada mitigation plan Bali ketika ada hujan lebat akhir tahun di beberapa tempat-tempat atau area memang rawan untuk banjir.  

“Yang kedua itu kan masalah sampah yang dikhawatirkan. Isu penutupan sampah TPA Suwung itu cukup juga menjadi momok bagaimana nanti sampah ke depan, tapi saya yakin TPA Suwung tidak akan ditutup dan masih bisa untuk open dumping dilakukan di sana,” bebernya. 

Wisatawan banyak datang ke Chiang Mai sebab merupakan destinasi baru yang sedang naik daun, terlebih wisatawan disuguhkan pada pilihan di Asian country.  

Namun Rai yakin Bali sampai kapanpun masih tetap akan diminati oleh wisatawan baik internasional dan domestic. Itu yang terjadi karena Bali terkenal dengan keunikannya.

“We have a very unique tradition and culture. Ini yang perlu dipertahankan jangan sampai degradasi ya melalui kemunduran yang seperti itu ini harus betul dijaga, dirawat, dan dipelihara adat tradisi dan budaya kita. Yang kedua, orang lokal ini sendiri, orang Bali ini sendiri, jangan sampai kehilangan jati diri atau karakter orang Bali yang sangat terkenal adalah hospitable, artinya ramah, friendly, dan honest itu harus dipertahankan,” ungkapnya.

Terpisah, General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, menilai isu wisman lebih memilih Thailand untuk liburan akhir tahun merupakan sebuah tantangan bagi pelaku pariwisata Bali.

“Kalau kami melihat itu sebagai challenge ya, karena memang secara statistik kita belum bisa bandingkan,” kata Agus Dwiatmika. 

Menurutnya, biasanya orang membandingkan misalnya hari ini ramainya Bandara Ngurah Rai dengan Bandara Suvarnabhumi (salah satu bandara di Thailand). 

Dilihat dari beberapa kasus terlihat lebih ramai di Suvarnabhumi dibandingkan Ngurah Rai.

“Mungkin memang ada beberapa hal yang kaitannya dengan bencana banjir, isu sampah hingga kemacetan dapat mempengaruhi persepsi dari wisatawan yang mungkin menganggap kita masih punya challenge,” ujarnya.

Pihaknya tetap optimisis kunjungan wisman ke Bali saat Nataru meningkat karena Bali masih punya daya tarik tersendiri. 

Dari pengalaman tahun-tahun lalu, biasanya menjelang Hari Raya Natal pemesanan kamar hotel mulai terlihat terjadi peningkatan sampai dengan Tahun Baru. 

“Dan itu baru bisa kami ketahui biasanya mendekati tanggal-tanggal 25 Desember. Kalau kita bandingkan antara total domestik dengan mancanegara, mancanegara masih memegang posisi yang cukup tinggi, sekitar 70 persen kurang lebih,” jelasnya. (sar/zae) 

News Analysis: Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Bali Komang Artana, Pemberitaan Negatif 

Sebelum tanggal 20 Desember 2025 kunjungan dan okupansi cukup rendah. Okupansi rata-rata masih di bawah 65 persen. 

Okupansi tahun ini lebih rendah dari tahun lalu. Padahal kedatangan wisatawan ke Bali tahun 2025 lebih tinggi 10 hingga 15 persen dibanding tahun lalu.

Ada beberapa hal yang menyebabkan okupansi menurun, salah satunya pemberitaan negatif terhadap Bali, terutama di media sosial.

Beberapa di antaranya terkait banjir pada 10 September lalu, kemacetan, hingga terkait sampah.

Bahkan pembongkaran kawasan Pantai Bingin juga memberikan dampak.

Dengan akumulasi berita negatif ini, membentuk opini bahwa Bali tidak aman dan nyaman.

Berbeda dengan Thailand meski kondisi perang tapi beritanya kan tidak masif sehingga masih ramai.

 

Selain itu, semakin banyaknya akomodasi pariwisata di Bali juga ikut memberikan dampak.

Dengan semakin banyaknya akomodasi, maka harus berbagi kue, sehingga terlihat okupansi menurun.

Ada juga akomodasi yang tidak berizin tapi terdaftar di online, sehingga harus berbagi juga dengan mereka.

 

Banyak wisatawan yang beralih ke Thailand, apalagi di sana tengah berlangsung SEA Games.

Namun tak sebanding rasanya jika membandingkan Thailand yang merupakan sebuah negara dengan Bali.

Meski okupansi saat ini menurun, namun setelah 20 Desember, booking hotel sudah mencapai 65 hingga 70 persen.

Bahkan di akhir tahun tepatnya, 30 dan 31 Desember rata-rata booking hotel di Bali sudah 85 persen ke atas.

Beberapa area hotel ada yang 75 persen bahkan 90 persen, itu bervariasi tergantung hotelnya, bintangnya, dan arealnya. (sup)

Kumpulan Artikel Bali