AS dan Israel Gunakan AI untuk Serang Iran, Gaza, dan Tahan Presiden Venezuela

Posted on

Penggunaan Teknologi AI dalam Perang: Dampak dan Implikasi

Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam konflik bersenjata semakin menjadi bagian penting dari operasi militer. Pada beberapa tahun terakhir, berbagai negara telah memadukan alat berbasis AI untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam perencanaan serta pelaksanaan serangan. Di antaranya adalah Amerika Serikat dan Israel, yang telah lama memanfaatkan model AI seperti ChatGPT dan Palantir untuk berbagai operasi militer.

Salah satu contoh nyata adalah penggunaan AI oleh militer AS dalam operasi di Iran. Dalam waktu 12 jam pertama, AS dan Israel meluncurkan sekitar 900 serangan terhadap Iran. Rudal Israel menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Komando militer AS mengungkapkan bahwa mereka menggunakan alat berbasis AI dari Anthropic untuk menganalisis data intelijen besar-besaran, memilih target, dan melakukan simulasi medan perang.

Pada 2024, model AI dari Anthropic diterapkan di seluruh Departemen Perang AS dan lembaga keamanan nasional lainnya. Claude, salah satu model AI dari Anthropic, menjadi bagian dari sistem yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi perang Palantir bersama Pentagon. Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan analisis intelijen secara dramatis dan memberdayakan para pejabat dalam proses pengambilan keputusan mereka.

Palantir Technologies adalah perusahaan perangkat lunak analitik big data yang fokus pada penyediaan platform terintegrasi untuk organisasi kompleks, intelijen pemerintah, dan sektor komersial. Sistem AI terbaru dapat dengan cepat menganalisis sejumlah besar informasi tentang target potensial, mulai dari rekaman drone hingga intersepsi telekomunikasi serta intelijen manusia. Sistem Palantir menggunakan pembelajaran mesin untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan target serta merekomendasikan persenjataan, dengan mempertimbangkan persediaan dan kinerja sebelumnya terhadap target serupa. Sistem ini juga menggunakan penalaran otomatis untuk mengevaluasi dasar hukum untuk melakukan serangan.

Namun, hubungan antara Anthropic dan pemerintah AS tidak selalu lancar. Pada Januari 2026, Anthropic berselisih dengan pemerintah AS karena ketidaksetujuan atas penggunaan Claude AI dalam serangan untuk menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Anthropic menyatakan bahwa ketentuan penggunaan jelas-jelas melarang penggunaan Claude untuk tujuan kekerasan, pengembangan senjata, atau pengawasan.

Presiden AS Donald Trump kemudian memerintahkan semua lembaga federal untuk segera berhenti menggunakan Claude. Ia juga mengecam Anthropic di media sosial miliknya Truth Social. Meskipun begitu, militer AS tetap menggunakan Claude AI selama enam bulan ke depan, untuk masa transisi beralih ke ChatGPT buatan OpenAI.

Penggunaan AI dalam Konflik di Gaza

Selain itu, Microsoft dan OpenAI ChatGPT diduga membantu Israel dalam serangan di Gaza. Investigasi Associated Press pada awal 2025 mengungkapkan bahwa raksasa teknologi AS, termasuk Microsoft dan OpenAI, memasok model AI ke Israel selama serangan di Gaza dan Lebanon. Militer Israel menggunakan AI untuk menyaring sejumlah besar intelijen, komunikasi yang dicegat, dan pengawasan untuk menemukan ucapan atau perilaku yang mencurigakan dan mempelajari pergerakan musuh-musuhnya.

Investigasi AP didasarkan pada dokumen internal, data, dan wawancara eksklusif dengan pejabat Israel dan mantan pejabat serta karyawan perusahaan. Setelah dimulainya serangan ke Gaza, penggunaan teknologi Microsoft dan OpenAI oleh Israel meroket. Penggunaan AI Microsoft dan OpenAI oleh Israel melonjak pada Maret 2024. Model AI canggih disediakan melalui OpenAI, pembuat ChatGPT, melalui platform cloud Azure milik Microsoft, di mana model ini dibeli oleh militer Israel.

OpenAI mengklaim tidak memiliki kemitraan dengan militer Israel, dan kebijakan penggunaannya menyatakan bahwa pelanggannya tidak boleh menggunakan produknya untuk mengembangkan senjata, menghancurkan properti, atau membahayakan orang. Namun, pada awal 2024, OpenAI mengubah ketentuan penggunaannya dari melarang penggunaan militer menjadi mengizinkan ‘kasus penggunaan keamanan nasional yang selaras dengan misi perusahaan’.

Bagaimana Militer Israel Menggunakan AI untuk Perang di Gaza?

Militer Israel menggunakan Microsoft Azure untuk mengumpulkan informasi yang diperoleh melalui pengawasan massal, yang kemudian ditranskripsikan dan diterjemahkan, termasuk panggilan telepon, pesan teks, dan pesan audio. Data itu kemudian dapat dicocokkan dengan sistem penargetan internal Israel, yang disebut Lavender menurut laporan The Guardian pada 2024, dan sebaliknya.

Perwira intelijen Israel mengatakan bahwa dia mengandalkan Azure untuk dengan cepat mencari istilah dan pola dalam kumpulan teks yang sangat besar, seperti menemukan percakapan antara dua orang dalam dokumen setebal 50 halaman. Azure juga dapat menemukan orang-orang yang saling memberi arahan dalam teks, yang kemudian dapat dibandingkan dengan sistem AI militer sendiri untuk menentukan lokasi.

Data Microsoft yang ditinjau AP menunjukkan bahwa sejak awal serangan terhadap Gaza, militer Israel telah banyak menggunakan alat transkripsi dan penerjemahan serta model OpenAI, meskipun tidak dijelaskan secara rinci model mana yang digunakan. Biasanya, model AI yang melakukan transkripsi dan penerjemahan bekerja paling baik dalam bahasa Inggris.

OpenAI mengakui bahwa model terjemahan AI mereka, Whisper, yang dapat mentranskripsikan dan menerjemahkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Arab, dapat mengarang teks yang tidak pernah diucapkan siapa pun, termasuk menambahkan komentar rasis dan retorika kekerasan.

Pertanyaan Etis dan Hukum

Meski AI memberikan keuntungan dalam kecepatan dan akurasi, penggunaannya dalam konflik bersenjata memunculkan pertanyaan serius soal akuntabilitas, transparansi, serta perlindungan warga sipil. Ketika keputusan menyerang dapat dipercepat dalam hitungan menit oleh sistem otomatis, perdebatan etis dan hukum tentang peran manusia dalam menentukan hidup dan mati pun semakin mendesak.

Penggunaan AI dalam perang era modern menandai babak baru peperangan, ketika algoritma dan komputasi awan menjadi bagian dari rantai keputusan militer. Di satu sisi, teknologi kecerdasan buatan diklaim meningkatkan kecepatan, akurasi, dan efisiensi operasi. Namun, di sisi lain, penggunaan AI dalam konflik bersenjata memunculkan tantangan besar bagi norma kemanusiaan global.