Pengertian Cap Go Meh
Perayaan Tahun Baru Imlek tidak hanya berlangsung selama satu atau dua hari, melainkan terus berlanjut selama 15 hari penuh. Di akhir perayaan tersebut, masyarakat Tionghoa merayakan Cap Go Meh sebagai penutup rangkaian acara. Perayaan ini memiliki makna yang dalam dan merupakan bagian penting dari tradisi Tionghoa.
Cap Go Meh terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu Imlek, sembahyang Tuhan, dan Cap Go Meh. Sembahyang Tuhan dilaksanakan pada minggu pertama Imlek sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atau Dewa atas segala karunia yang telah diberikan. Sedangkan Cap Go Meh diadakan pada hari ke-15 setelah Imlek sebagai penutup perayaan. Pada malam itu, masyarakat biasanya menggelar pawai budaya, menyalakan lampion, dan melakukan ritual tertentu.
Arti Cap Go Meh
Secara harfiah, kata “Cap Go Meh” berasal dari dialek Hokkien dan artinya adalah “malam lima belas”. Kata “Cap” merujuk pada angka lima belas, sedangkan “Meh” berarti malam. Nama ini dipilih karena perayaan Cap Go Meh jatuh pada hari ke-15 setelah Imlek. Biasanya, perayaan ini bertepatan dengan munculnya bulan purnama.
Menurut Cangianto, pendiri situs budayationghoa.net, Cap Go Meh adalah suatu gelaran penutupan tahun baru (Imlek) yang dirayakan dengan meriah, baik melalui prosesi budaya maupun religius. Di Indonesia, Cap Go Meh dikenal sebagai perayaan khas, sementara di Tiongkok disebut dengan nama lain seperti yuán xiāo jié atau shàng yuán jié, yang diterjemahkan sebagai Festival Lentera.
Makna Cap Go Meh
Festival Cap Go Meh biasanya digelar pada malam hari setiap hari ke-15 setelah Imlek. Tradisi ini identik dengan upacara pelepasan lampion ke udara sebagai simbol untuk melepaskan nasib buruk. Masyarakat percaya bahwa kultur ini menjadi ritual untuk menyambut nasib baik di masa depan.
Cara perayaannya pun berbeda dengan Imlek. Etnis Tionghoa akan memberi sesajen berupa kue keranjang ke klenteng atau vihara. Persembahan ini dihaturkan sebagai ucapan syukur dan terima kasih kepada Dewa atau Buddha atas nikmat dan keberkahan yang diberikan. Setelahnya, kegiatan dilanjutkan dengan berdoa sebagai rasa syukur dan memohon keselamatan.
Sejarah Cap Go Meh
Hajatan besar Cap Go Meh sudah ada sejak 2000 tahun yang lalu. Ada dua versi populer tentang asal usul perayaan ini. Pertama, perayaan ini ditenggarai oleh para Biksu di masa Dinasti Han. Versi lain mengatakan bahwa Cap Go Meh merupakan siasat oleh masyarakat suatu desa untuk mengelabui Kaisar Giok yang murka.
Versi pertama terjadi saat Kaisar Ming yang berkuasa di masa Dinasti Han (206 SM – 221 M). Sang Kaisar mendengar kabar bahwa para biksu menyalakan lentera merah di hari ke-15 kalender Tiongkok sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Buddha. Melihat ritual agama Buddha ini, Kaisar Ming lantas tertarik untuk merayakannya. Ia pun memerintahkan seluruh kuil, istana, dan para penduduk untuk menyalakan lentera di malam tersebut.
Sejarah Cap Go Meh Versi Lain
Ada yang mengungkap bahwa Cap Go Meh adalah sebuah siasat untuk mengelabui Yu Huang Da Di atau Kaisar Giok. Menurut legenda, diceritakan bahwa seorang penduduk desa tak sengaja membunuh angsa milik Kaisar Giok hingga mati. Kejadian ini memancing kemurkaan sang penguasa surga dan alam semesta. Sebagai hukuman, ia berencana membakar seisi desa.
Namun, rencana untuk membumihanguskan desa tersebut digagalkan oleh seorang laki-laki yang bijak. Dengan cerdik, ia menyuruh penduduk desa untuk menyalakan dan menggantung lentera merah sebagai cara untuk menipu Kaisar Giok. Cara ini berhasil. Sang Kaisar tak jadi membakar seisi desa karena melihat lautan cahaya dari lentera merah tersebut sebagai kobaran besar yang melapah habis desa.
Dari sinilah, para masyarakat Tionghoa rutin menyalakan lentera setiap hari ke-15 di bulan pertama kalender Tiongkok. Kegiatan ini menjadi peringatan atas peristiwa selamatnya penduduk desa dari amarah Kaisar Giok.
Perayaan Cap Go Meh di Indonesia
Di Indonesia, perayaan Cap Go Meh menjadi momen wajib yang tak boleh dilewatkan saat Imlek tiba. Saat gelaran ini berlangsung, masyarakat Tionghoa merayakannya dengan membuat pawai barongsai, makan bersama, sembahyang ke vihara, serta merias rumah dengan lampion dan ornamen serba merah. Cap Go Meh di Indonesia tergolong istimewa karena tradisi dan perayaannya telah berakulturasi dengan budaya setempat.
Di Singkawang, Kalimantan Barat, perayaan Cap Go Meh diawali dengan tradisi pawai Tatung. Atraksi ini menampilkan para Tatung yang menusukkan benda tajam ke badannya. Konon, mereka dirasuki roh halus yang memiliki kesaktian berupa kekebalan terhadap benda tajam.
Melipir ke Padang, ada tradisi arak-arakan Sipasan sebagai bentuk selebrasi Cap Go Meh setiap tahunnya. Begitu juga dengan masyarakat Tionghoa Salatiga yang menggelar tradisi Kirab Budaya Ruwat Bumi berupa arak-arakan tenda dengan patung Dewa di atasnya. Sementara di Palembang, etnis Tionghoa merayakan Cap Go Meh dengan berziarah ke Pulau Kemaro dan memanjatkan doa di Klenteng Hok Tjing Rio.
Momen Keseruan Cap Go Meh
Cap Go Meh merupakan momentum puncak perayaan Imlek. Saat Cap Go Meh tiba, etnis Tionghoa merayakannya dengan sembahyang di vihara. Acara kemudian berlanjut dengan jamuan makan bersama keluarga besar di restoran Chinese food atau di rumah. Sajian khas Imlek seperti jeruk mandarin, kue keranjang, lumpia, dan mie panjang umur turut mewarnai meja makan.
Setelahnya, para penduduk Tionghoa turut merasakan euforia dengan mengikuti pawai atau festival Cap Go Meh. Hadirnya pertunjukan barongsai dan hiasan lampion merah di sepanjang jalan turut menambah kemeriahan festival Cap Go Meh.
Penutupan perayaan Tahun Baru Imlek ini juga identik dengan warna merah. Semua pernak-pernik, pakaian, riasan panggung festival, bahkan lampion pun hadir dengan warna serba merah. Ini karena masyarakat Tionghoa percaya bahwa lampu merah melambangkan kemakmuran, kesatuan, dan rezeki. Begitu juga dengan hadirnya lampion sebagai representasi cahaya yang menerangi jalan rezeki para penggunanya.
FAQ Seputar Cap Go Meh
Apa itu Cap Go Meh?
Cap Go Meh adalah perayaan hari ke-15 sekaligus penutup rangkaian Tahun Baru Imlek dalam tradisi Tionghoa.
Apa makna perayaan Cap Go Meh?
Cap Go Meh melambangkan harapan akan keberuntungan, keharmonisan, dan awal yang baik setelah Imlek.
Tradisi apa yang identik dengan Cap Go Meh?
Cap Go Meh identik dengan pertunjukan barongsai, lampion, pawai budaya, serta hidangan khas seperti lontong Cap Go Meh.
