
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang mempertimbangkan untuk membeli wilayah Greenland dari Denmark. Wilayah ini secara hukum dikuasai oleh negara Nordik tersebut. Pada masa pemerintahannya, Trump menyatakan bahwa AS akan kembali menjadi “negara yang berkembang, negara yang meningkatkan kekayaannya, dan negara yang akan memperluas wilayahnya.” Ia juga mengatakan bahwa pemerintahannya akan “mengibarkan bendera AS ke cakrawala baru.”
Kata-kata Trump, termasuk rencananya untuk mengakuisisi Greenland—pulau terbesar di dunia—mengingatkan kita pada sejarah panjang ekspansi AS. Walter McDougall, sejarawan dari Universitas Pennsylvania, mengatakan bahwa kebijakan Trump mengingatkan kita pada tradisi tanah yang dijanjikan dari Doktrin Monroe. Doktrin ini telah menjadi alasan pembenar atas intervensi dan ekspansi AS sejak 1823.
Jay Sexton, sejarawan dari Universitas Missouri, menambahkan bahwa AS berargumen bahwa mereka perlu merebut wilayah-wilayah tersebut sebelum jatuh ke kekuatan lain. Ekspansi teritorial yang mengubah AS menjadi negara yang luas seperti sekarang dimulai beberapa tahun setelah pembentukannya pada 1776. Perang untuk menaklukkan penduduk asli, mengusir para pemukim, atau menandatangani perjanjian dengan kekuatan Eropa adalah cara umum yang dilakukan negara tersebut dalam mengembangkan wilayahnya.
Namun, AS juga memiliki siasat lain selain perang, yaitu membeli wilayah dari negara-negara berdaulat. Contohnya, Trump mencoba membeli Greenland. Kita akan meninjau beberapa episode sejarah ketika Amerika Serikat membeli wilayah.
Pembelian Louisiana (1803)
Keputusan Presiden Thomas Jefferson untuk membeli wilayah Louisiana dari Prancis era Napoleon menandai ekspansi besar pertama negara baru tersebut. Napoleon saat itu mengubur mimpinya membangun kekaisaran di luar Prancis. Salah satu penyebabnya adalah pemberontakan orang-orang Haiti yang diperbudak Prancis. Napoleon kemudian sepakat menjual Louisiana kepada Republik Amerika yang masih seumur jagung.
Louisiana saat itu merupakan wilayah yang jauh lebih besar daripada negara bagian Louisiana saat ini. Jefferson ingin mengamankan kendali atas Lembah Mississippi dan pelabuhan strategis New Orleans. Ia juga ingin menghilangkan bahaya intervensi Prancis. Pada November 1803, Louisiana resmi menjadi bagian dari AS. AS membayar US$15 juta kepada Prancis (setara Rp251 miliar dengan kurs saat ini). Penambahan ini membuat wilayah AS bertambah lebih dari dua juta kilometer persegi.
Penyerahan Meksiko (1848)
Pada 1840-an, banyak masyarakat AS percaya bahwa tugas mereka adalah berekspansi ke wilayah barat hingga pantai Pasifik. AS akhirnya menjalankan proyek ini dengan mengorbankan Meksiko. Salah satu pendukung ekspansi yang paling yakin adalah Presiden James Knox Polk. Rezim pemerintahannya pada 1845 mewariskan perselisihan dengan Meksiko terkait wilayah Texas.
Tahun berikutnya, setelah bentrokan antara pasukan AS dan Meksiko di perbatasan, Polk meminta Kongres menyatakan perang terhadap Meksiko. Perang antara dua kubu itu berakhir dengan kemenangan AS. Ujung konflik itu ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Guadalupe-Hidalgo pada Februari 1848, di mana AS mendapat kekuasaan atas Texas, California, New Mexico, Arizona, Nevada, Utah, dan sebagian Colorado, Wyoming, Kansas, dan Oklahoma.
Penjualan La Mesilla (1853)
Beberapa tahun kemudian, tepatnya 1853, Meksiko dan AS menyetujui penjualan sebidang kecil wilayah Meksiko di selatan kawasan yang sekarang menjadi negara bagian Arizona dan New Mexico. Kesepakatan ini dikenal dengan Venta de la Mesilla di Meksiko dan Pembelian Gadsden di AS. Pembelian wilayah ini berakar dari minat AS membangun jalur kereta api transkontinental dan kesulitan ekonomi yang dihadapi pemerintah Meksiko. Meksiko akhirnya menerima US$10 juta (sekitar Rp120 miliar dalam kurs saat ini).
Pembelian Alaska dari Rusia (1867)
Banyak yang tidak memahami tekad Menteri Luar Negeri AS saat itu, William Seward, untuk membeli Alaska, sebuah wilayah di Arktik, dari pemerintah Tsar Alexander II pada 1867. Seward percaya bahwa wilayah itu memiliki nilai strategis yang besar karena dapat mencegah bahaya intervensi Inggris di Amerika Utara. Alaska juga memungkinkan AS mengakses perikanan yang kaya di Pasifik. Dari situlah dia lalu membuat kesepakatan dengan Rusia untuk membeli Alaska seharga US$7,2 juta.
Pembelian Kepulauan Virgin AS dari Denmark (1917)
Ini adalah terakhir kalinya AS membeli sebuah wilayah. Kala itu mereka bersepakat dengan Denmark, negara yang sekarang tidak ingin menjual Greenland kepada AS. Kepulauan yang diperjualbelikan pada saat itu adalah Hindia Barat Denmark, sekelompok pulau di Karibia yang telah diincar oleh para ahli strategi AS sejak pertengahan abad ke-19.
Pelabuhan Saint Thomas sangat menarik bagi para ahli strategi AS. Alasannya adalah perlindungan alami yang mumpuni dari topografi Kepulauan Virgin. Denmark sebelumnya telah mengeksploitasi Kepulauan Virgin dengan membuka perkebunan dengan basis perbudakan terhadap orang-orang berkulit hitam. Namun harga gula yang jatuh membuat Denmark kehilangan minat untuk mempertahankan pulau-pulau itu.
Catatan Tambahan
Perjanjian pembelian pertama yang dicapai antara kedua pemerintah pada 1867 tidak terwujud karena Kongres AS tidak meratifikasinya. Pecahnya Perang Dunia I dan ancaman yang ditimbulkan kapal selam U-boat milik Jerman kemudian menghidupkan kembali minat AS terhadap Kepulauan Virgin. Akhirnya, pada awal abad ke-20, Denmark dan AS menyetujui penjualan kepulauan tersebut seharga US$25 juta (Rp 418 miliar dalam kurs saat ini).


