Alfatih Santri yang Tertidur 3 Hari di Bawah Reruntuhan Musala

Posted on

Penyelamatan Alfatih Cakrabuana dari Reruntuhan Musala Ponpes Al Khoziny

Alfatih Cakrabuana, seorang santri asal Bangkalan, berhasil diselamatkan oleh tim SAR dari reruntuhan musala Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Kejadian ini terjadi pada Senin (29/9/2025) saat waktu salat Asar. Dalam laporan yang diterima, hingga Jumat (3/10/2025), total 118 korban tragedi tersebut telah ditemukan, dengan 14 di antaranya meninggal.

Dari 104 korban selamat, beberapa di antaranya mengalami luka serius dan masih menjalani perawatan di rumah sakit. Dari laporan sementara para wali santri kepada tim SAR, masih ada 49 orang santri yang belum diketahui keberadaannya. Tim SAR gabungan terus melakukan pencarian dan membongkar reruntuhan gedung untuk menemukan korban yang hilang.

Alfatih Cakrabuana, siswa kelas 3 SMP, merupakan salah satu korban selamat yang berhasil dievakuasi pada Rabu (1/10/2025) sore. Selama tiga hari, sejak Senin (29/9/2025) saat musala pesantren ambruk, Alfatih terkurung di tengah reruntuhan material bangunan.

Ia mengaku tertidur pulas selama 3 hari di balik reruntuhan sejak kejadian. Dalam tidurnya itu, Alfatih sempat bermimpi minum menggunakan selang dan berkeliling pakai transportasi pickup. Kondisi fisik Alfatih relatif aman dari reruntuhan material bangunan, hanya saja tubuhnya terbenam pasir dan kepalanya terlindungi oleh atap seng.

“Tubuhnya terbenam pasir dan kepalanya terlindungi oleh atap seng,” kata Hanan kepada wartawan di RSUD RT Notopuro, Sidoarjo, Kamis (2/10/2025). Alfatih tidak mengetahui pasti peristiwa robohnya atap musala pesantren tempatnya tinggal selama dua tahun terakhir. Sebab, sebelum salat asar waktu kejadian, dia mengaku sudah tidur di musala tersebut dan tidak ikut salat asar berjemaah.

“Saya sudah tidur sebelum salat asar,” ungkap Alfatih. Saat kejadian atap jebol dan runtuh, Alfatih hanya merasa ada yang jatuh menimpa tubuhnya. “Setengah sadar saya tanya ke teman saya ada apa? Teman saya menjawab, ada atap ambrol, lalu saya tidur lagi,” ucap Alfatih. Selama tidur, dia mengaku bermimpi sedang berjalan-jalan di lorong yang gelap. Dia juga mengaku minum air dari selang.

Saat bangun tidur, kata Alfatih, ada yang mengetuk seng yang menutupi wajahnya. “Saya kira yang mengetuk tukang, ternyata sudah ada tim SAR,” katanya. Dari situ Alfatih langsung dievakuasi ke RSUD Notopuro. Tak ada luka serius di tubuhnya. Hanya beberapa goresan kecil di bagian kaki dan tangannya.

Perasaan Keluarga dan Doa yang Terkabul

Pada bagian lain, Abdul Hanan, ayah Alfatih, mengaku sangat khawatir dengan keadaan putranya. Dia mengaku selama tiga hari tidak tidur menunggu kepastian nasib putranya di Ponpes Buduran. “Saya merasa bersalah karena Alfatih saya paksa kembali ke pesantren, Sabtu pekan lalu, seusai pulang liburan. Padahal dia dan ibunya masih ingin dia kembali, Rabu (1/10) kemarin,” kata Hanan. “Oleh karena itu, saya merasa bersalah, jika sampai anak saya ada apa-apa,” sambungnya.

Tiga Hari Tertimbun, Fatih Minta Es saat Ditemukan Selamat

Sesampainya di rumah sakit, permintaan pertama yang diucapkan Fatih membuat semua orang terenyuh. “Dia minta es. Katanya haus. Orang lain sedih, dia malah tertawa,” kata sang ayah. Kepada keluarga, Alfatih menceritakan pengalaman tiga hari yang baginya terasa seperti mimpi. “Bangun tidur kayak ada gempa, terus lari, terus pingsan. Pas sadar sudah gelap, saya tidur lagi. Di mimpi rasanya kayak jalan-jalan naik pick-up, minum lewat selang. Rasanya nyata,” ujarnya polos.

Posisinya yang terlindungi oleh puing justru membuatnya selamat. “Sekitar 30 sentimeter di atas kepalanya ada beton, tapi tertahan besi. Tubuhnya terpendam debu, justru itu yang melindungi. Tidak ada luka parah, hanya lecet-lecet,” jelas Abdul Hanan.

Ayah Lantunkan Surah Al Kahfi

Hanan menceritakan perasaannya bercampur aduk saat mendengar musala Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur tempat anaknya menuntut ilmu roboh. Abdul Hanan, masih mengingat jelas saat kabar itu disampaikan. Ia mengaku sempat panik dan terburu-buru berangkat dari tempat tinggalnya di Bangkalan Madura. “Saya dapat kabar dari WA (WhatsApp). Romo yai bilang, musala roboh. Saya langsung ambil motor, sampai lupa helm. Pikiran saya cuma satu: anak saya bagaimana,” tuturnya Jumat (3/10/2025).

Selama tiga hari ia menunggu kepastian kabar anaknya yang sedang dicari bersama santri lainnya. Saat proses pencarian, ia tak berhenti berdoa. Surah-surah dalam Al Quran dilantunkannya, terutama surat Al Kahfi hingga salawat. “Saya baca surah Al-Kahfi, saya baca selawat Fatih. Saya yakin anak saya masih hidup, tapi saya takut dia stres di bawah reruntuhan. Doa saya cuma satu, semoga dia selamat,” kenangnya.

Harapan itu berbuah nyata dan manis. Alfatih berhasil dievakuasi oleh tim SAR gabungan dalam kondisi lemah tapi masih sadar. Bagi Abdul Hanan, keselamatan anaknya adalah jawaban doanya. “Saya minta bayaran kepada Allah, bayaran saya adalah keselamatan anak saya. Kalau harus miskin, tak apa. Yang penting anak saya selamat,” katanya lirih.

Proses Pencarian Korban di Bawah Reruntuhan

Dokter RSUD Notopuro mengatakan kondisi Alfatih relatif stabil. “Dari pemeriksaan ortopedi tidak ditemukan masalah tulang. Hari ini sebetulnya sudah bisa pulang, hanya menunggu observasi dari dokter anak karena tiga hari tanpa asupan makanan,” ujar tim medis. Alfatih sendiri masih harus menjalani pemulihan, namun kondisinya terus membaik. Saat ditanya bagaimana perasaannya, ia hanya menjawab singkat. “Enggak sakit. Bangun-bangun sudah ada tukang, saya kira banyak tukang. Ternyata tim SAR,” katanya sambil tersenyum.

Hingga Jumat (3/10), masih ada tujuh santri korban selamat lain yang dirawat di RSUD Notopuro, Sidoarjo. Sementara bagi keluarga Alfatih, hari-hari ini adalah waktu penuh syukur. Sebuah keajaiban dari reruntuhan musala yang hampir merenggut nyawa putra mereka.

Metode Pencarian Korban

Proses pencarian para korban di bawah reruntuhan bangunan roboh di kompleks Pondok Pesantren Al Khoziny dilakukan dengan dua cara. Manual dan upaya menggunakan alat berat. Alat berat difungsikan untuk mengangkat balok beton, plat, dan berbagai puing reruntuhan gedung. Sementara cara manual digunakan untuk menyisir korban di bawah reruntuhan itu.

“Kita masih terus berusaha. Alat berat terus bekerja menjangkau sisi depan, atas, dan bagian samping. Sudah sekira 50 persen yang terangkat,” kata Kepala Basarnas Surabaya Nanang Avianto, Jumat (3/10/2025) siang. Setelah sebagian titik itu diangkat, petugas mulai bisa menjangkau bagian bawah atau lantai dasar bangunan yang ambruk. Pencarian terhadap korban kemudian dilakukan dengan cara manual.

“Dua korban ditemukan di dekat area wudlu hampir bersamaan pagi tadi. Kemudian satu korban ditemukan berjarak beberapa meter, dan satu korban lagi di sebelah kirinya berjarak beberapa meter. Semua di lantai dasar,” ungkapnya. Pencarian secara manual terus dilakukan. Sementara di sisi lain, yakni di bagian utara dan selatan, alat berat berusaha mengambil reruntuhan gedung di sana. Alat berat bakal bekerja 24 jam dalam upaya pencarian ini. Targetnya semua korban bisa ditemukan dalam waktu secepat-cepatnya.

Dugaan sementara, masih ada 50 orang lebih korban di bawah reruntuhan. Semua diduga sudah dalam kondisi meninggal dunia karena sudah masuk hari kelima setelah kejadian.