Penyebab Buaya Muncul di Teluk Manado
Kemunculan buaya di Teluk Manado, Sulawesi Utara (Sulut) akhir-akhir ini menimbulkan kehebohan di kalangan warga. Pertanyaan utama yang muncul adalah mengapa buaya tersebut muncul di lokasi yang sebelumnya tidak biasa ditemui. Berdasarkan penjelasan Prof. Dr. Ir. Winda Mercedes Mingkid, M.Mar.Sc., ahli ilmu kelautan dari Universitas Sam Ratulangi Manado (Unsrat), terdapat tiga kemungkinan penyebab kemunculan buaya tersebut.
Kemungkinan Pertama: Terbawa Arus atau Badai
Menurut Prof Winda, salah satu alasan kemunculan buaya bisa disebabkan oleh arus laut atau badai. Ia mengungkapkan bahwa ada kemungkinan buaya-buaya tersebut tersesat karena terbawa arus atau hanyut akibat badai yang terjadi di perairan Filipina beberapa waktu lalu. “Saya asumsikan mereka hanyut dan keluar dari tempat yang sebenarnya,” jelasnya.
Kemungkinan Kedua: Mengejar Mangsa
Kemungkinan kedua yang disampaikan oleh Prof Winda adalah bahwa buaya muncul karena sedang mengejar mangsanya. “Kemungkinan kedua mereka keluar lantaran mengejar mangsa mereka hingga muncul di pesisir pantai Manado,” ujarnya.
Kemungkinan Ketiga: Kehilangan Sumber Makanan
Selain itu, kemungkinan ketiga adalah bahwa sumber makanan di habitat asal buaya sudah habis, sehingga mereka terpaksa mencari makan di area baru. “Kemungkinan ketiga, bisa jadi juga, makanan atau mangsa di tempat asal mereka sudah tidak ada karena itu mereka keluar,” tambah Prof Winda.
Sejarah Habitat Buaya Muara di Pulau Sulawesi
Buaya muara atau buaya laut (Crocodylus porosus) merupakan salah satu predator puncak dengan wilayah teritorial luas dan agresif, terutama selama musim berkembang biak. Pulau Sulawesi, termasuk Sulut, sejatinya adalah habitat alami bagi spesies ini. Namun, populasi buaya muara kini menurun drastis dan terancam punah.
Faktor-faktor yang menyebabkan penurunan populasi antara lain pembangunan yang semakin masif, perburuan untuk konsumsi daging, dan eksploitasi kulit buaya yang sangat bernilai tinggi. “Perburuan buaya sudah marak sejak dulu, dan beberapa pemburu melakukan perburuan karena ingin mengonsumsi daging buaya,” jelas Prof Winda.
Langkah Konservasi dan Pengamanan
Prof Winda menyarankan agar buaya-buaya tersebut digiring ke kawasan konservasi yang lebih aman, seperti Kawasan Konservasi Mantehage. “Jangan dibunuh. Jangan dimusnahkan karena populasi mereka saat ini sudah sangat sedikit di Sulawesi,” ujarnya.
Peran Basarnas dalam Pencegahan
Kantor SAR (Basarnas) Manado turut berpartisipasi dalam pencegahan dan penanganan pasca kemunculan buaya dewasa di Teluk Manado. Tim Basarnas melakukan pencarian dan pemantauan di area Teluk Manado sejak 6 November 2025. Kepala Kantor SAR Manado, George Randang, menjelaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan lintas-stakeholder seperti Pemkot Manado, BKSDA, BPBD, Dinas Pariwisata Manado, Damkar, dan lain-lain.
“Kita melakukan pemantauan sekaligus memetakan di mana hewan ini biasa beraktivitas. Cuma memang patroli hari ini kita tidak menemukannya,” kata Randang.
Tanda Peringatan dan Keamanan
Untuk mencegah risiko yang lebih besar, kawasan perairan Manado Bay sementara ini steril dari aktivitas renang, selam, dan olahraga air. Tanda peringatan dipasang di beberapa titik di Manado Bay agar warga dapat waspada. Meski demikian, sejumlah warga masih abai dengan aturan tersebut.
Viral di Media Sosial
Kemunculan buaya di Manado viral di media sosial, membuat warga heboh. Pemerintah Kota Manado telah mengeluarkan peringatan bahaya, meminta warga untuk sementara tidak berenang atau memancing di Selat Manado. Buaya tersebut telah muncul di tiga lokasi, yaitu perairan God Bless Park, Manado Bay, dan dekat tugu lilin.
Imbauan dan Kesadaran Warga
Warga meminta pihak terkait segera mengamankan buaya tersebut demi keselamatan masyarakat. Dev, seorang warga, mengaku untuk sementara tidak mandi di pantai. “Sebelumnya saya sering mandi pantai, tapi ini tunda dulu,” katanya.
