AI Bubble Adala Apa? Ramai Dibahas Kenaikan Harga HP di Tahun 2026, Inovasi atau Bom Waktu untuk Teknologi

Posted on

BERITA DIY – Istilah AI Bubble belakangan ramai diperbincangkan di berbagai media sosial. Selain itu, topik ini ikut dikaitkan dengan isu kenaikan harga ponsel pada tahun 2026 yang disebut-sebut akan melonjak tajam. Di sisi lain, perkembangan kecerdasan buatan memang melaju sangat cepat dan mulai menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan manusia.

Mulai dari sekadar membantu diskusi, mengelola data, hingga mengambil peran strategis di pemerintahan dan industri, Artificial Intelligence atau AI kini menjadi teknologi yang sulit dipisahkan dari aktivitas sehari-hari.

Namun demikian, di balik kemajuan tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah AI Bubble adalah inovasi berkelanjutan atau justru bom waktu bagi teknologi global?

AI dalam Kehidupan Modern: Dari Asisten hingga Pengambil Keputusan

Saat ini, AI mampu memproses data dalam jumlah besar dan menghasilkan respons secara real time dengan jeda yang sangat minim. Selain itu, kemampuan ini membuat AI diandalkan dalam berbagai sektor, mulai dari pendidikan, bisnis, kesehatan, hingga pemerintahan.

Misalnya, beberapa negara telah memanfaatkan AI untuk membantu pengelolaan data publik dan pengambilan kebijakan berbasis analisis. Di sisi lain, kondisi ini juga memunculkan kekhawatiran tentang peran manusia yang perlahan tergeser oleh otomatisasi.

Dari sinilah diskursus mengenai AI Bubble mulai mencuat ke permukaan.

AI Bubble Adalah Apa?

Secara sederhana, AI Bubble adalah istilah yang menggambarkan kondisi ketika pertumbuhan investasi, ekspektasi, dan penggunaan teknologi AI melampaui nilai dan kinerja realistisnya. Selain itu, fenomena ini sering disamakan dengan gelembung dot-com pada awal perkembangan internet.

Bill Gates pernah mengibaratkan AI Bubble seperti gelembung udara yang terus ditiup. Awalnya terlihat menjanjikan, namun jika terlalu besar dan tidak ditopang nilai nyata, gelembung tersebut berisiko pecah.

Di sisi lain, antusiasme publik dan investor terhadap AI memang sedang berada di puncaknya.

Dampak AI Bubble terhadap Dunia Kerja

Salah satu dampak paling nyata dari AI Bubble adalah perubahan besar di pasar tenaga kerja. Selain itu, kemampuan AI untuk bekerja otomatis selama dua puluh empat jam membuat perusahaan mulai mempertimbangkan ulang kebutuhan tenaga manusia.

Misalnya, otomatisasi agresif berpotensi memperlebar jarak keterampilan antara pekerja junior dan senior. Di sisi lain, kemudahan menggunakan AI bisa menciptakan ketergantungan dan menghambat proses pembelajaran mendalam bagi tenaga kerja baru.

Jika tidak diimbangi kebijakan yang tepat, kondisi ini dapat menyulitkan penyerapan tenaga kerja dalam jangka panjang.

Startup Teknologi Tertekan oleh Raksasa Industri

AI Bubble juga berdampak pada peta persaingan industri teknologi. Selain itu, pengembangan AI saat ini didominasi oleh perusahaan besar seperti Microsoft, Google, Amazon, dan Meta.

Di sisi lain, startup teknologi harus berjuang keras untuk bersaing karena keterbatasan modal dan infrastruktur. Biaya pengembangan AI, termasuk kebutuhan perangkat keras canggih, membuat banyak perusahaan kecil kesulitan bertahan. Kondisi ini memicu konsentrasi kekuatan teknologi pada segelintir pemain besar.

AI Bubble dan Kenaikan Harga HP 2026

Isu AI Bubble semakin ramai setelah muncul pernyataan dari Francis Wong, petinggi perusahaan Realme. Selain itu, ia mengungkapkan bahwa harga ponsel pada tahun 2026 diprediksi akan mengalami kenaikan signifikan.

Melalui akun X pribadinya @francisrealme, yang diunggah ulang pada 12 Desember 2025, Francis Wong menyebut bahwa selama satu dekade berkarier di industri smartphone, ia belum pernah melihat lonjakan harga sebesar ini.

Menurutnya, hampir semua merek akan menaikkan harga ponsel. Bahkan, beberapa merek kecil terancam tidak mampu memproduksi perangkat baru.

Kelangkaan RAM dan Dampak AI Bubble

Salah satu penyebab yang banyak disorot adalah kelangkaan komponen perangkat keras, khususnya RAM dan penyimpanan. Selain itu, kebutuhan AI terhadap RAM dalam jumlah besar membuat pasokan global tertekan.

Banyak warganet menduga bahwa AI Bubble ikut mempercepat lonjakan permintaan hardware. Misalnya, beberapa komentar menyebut harga RAM melonjak hingga ratusan persen karena lebih diprioritaskan untuk kebutuhan pusat data AI.

Di sisi lain, sektor smartphone akhirnya ikut terdampak karena harus bersaing dengan industri AI dalam mendapatkan komponen.

Lonjakan Investasi dan Risiko Gelembung AI

Dilansir dari Built In pada 14 Desember 2025, perusahaan AI swasta secara global menarik investasi hingga sekitar 150 miliar dolar Amerika Serikat sepanjang 2025. Angka ini meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya.

OpenAI sendiri diketahui mengumpulkan dana sekitar 40 miliar dolar pada Maret 2025 dan menyelesaikan penjualan saham senilai 6,6 miliar dolar pada Oktober 2025. Valuasi perusahaan tersebut bahkan disebut mencapai 500 miliar dolar.

Fenomena serupa juga terjadi pada perusahaan AI lain seperti Anthropic, Mistral AI, dan xAI. Namun demikian, di balik euforia tersebut, muncul pertanyaan tentang keberlanjutan model bisnis AI.

 

AI Bubble adalah fenomena nyata yang lahir dari lonjakan ekspektasi dan investasi besar-besaran pada kecerdasan buatan. Selain itu, dampaknya mulai terasa pada pasar kerja, industri teknologi, hingga kenaikan harga HP 2026.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *