Abdul Wahid, Gubernur Riau yang Tertangkap OTT KPK, Hanya 8 Bulan Menjabat

Posted on

Gubernur Riau Abdul Wahid Terlibat OTT KPK

Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Provinsi Riau berlangsung pada Senin, 3 November 2025. Dalam kejadian tersebut, sebanyak 10 orang terjaring, termasuk Gubernur Riau, Abdul Wahid. Ia dibawa ke kantor KPK di Jakarta setelah menjalani pemeriksaan di Polda Riau dan Markas Brimob.

Dari foto yang beredar, Abdul Wahid terlihat mengenakan kaos oblong putih dan menggunakan masker untuk menutupi wajahnya. Ia juga membawa sebuah tas warna tosca di tangan kanannya. Selain gubernur, tampak pula Kadis PUPR Riau, M Arief Setiyawan, dan beberapa orang lainnya yang diduga ikut diamankan dalam OTT tersebut.

Abdul Wahid dibawa dari Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru ke Jakarta dengan penerbangan pagi hari. Wakil Ketua KPK, Fitroh Rohcayanto, membenarkan adanya OTT di Pekanbaru, Riau. “Benar,” singkat Fitroh saat dikonfirmasi Tribun Pekanbaru, Senin malam. Meski demikian, kronologis penangkapan dan kasus apa yang terkait masih belum diketahui.

Rekam Jejak Abdul Wahid

Abdul Wahid merupakan Gubernur Riau terpilih periode 2025 hingga 2030. Ia berpasangan dengan Wakil Gubernur Riau terpilih, S. F. Hariyanto, dan berhasil meraih sebanyak 1.224.193 suara. Abdul Wahid baru menjabat sebagai Gubernur Riau sekitar 8 bulan.

Sebagai politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdul Wahid pernah menjabat sebagai Anggota DPR RI masa bakti 2019 hingga 2024. Ia lahir di Dusun Anak Peria Desa Belaras, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, pada 21 November 1980. Saat masih bayi, ia diboyong orang tua ke Desa Sei Simbar, Kecamatan Kateman, Indragiri Hilir.

Riwayat Pendidikan

Abdul Wahid tercatat sebagai lulusan SD Negeri Sei Simbar pada 1994, kemudian melanjutkan pendidikan ke MTs Sei Simbar dan lulus pada 1997. Setelah menyelesaikan Mts, Wahid meninggalkan kampungnya untuk melanjutkan pendidikan atas di Ibukota Kabupaten, Tembilahan, tepatnya di MA Tembilahan. Selang beberapa caturwulan mengenyam pendidikan di MA Tembilahan, Wahid diajak oleh kakak sepupunya untuk mondok di Pondok Pesantren Ashhabul Yamin di daerah Lasi Tuo Kecamatan Ampek Angkek Candung Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Setelah menuntaskan pendidikan di pondok pesantren, Abdul Wahid kembali ke Riau ke Kota Pekanbaru untuk melanjutkan S-1 di IAIN SUSKA Riau sekarang UIN SUSKA. Ia diterima di Fakultas Tarbiyah jurusan Pendidikan Agama Islam. Di sana, ia mulai terjun ke dunia politik sebagai kader PKB.

Dari Kuli Bangunan Hingga Gubernur

Abdul Wahid adalah simbol perjuangan, bukti nyata bahwa mimpi besar bisa diraih oleh siapa saja. Dulu, ia hanyalah anak desa biasa, bekerja serabutan, bahkan pernah menjadi kuli bangunan. Namun, dengan tekad baja dan kerja keras tanpa henti, ia meniti jalan panjang, melewati berbagai rintangan, hingga akhirnya menduduki kursi Gubernur Riau.

Rekam Jejak Politik

Sebelum terjun ke dunia politik, Abdul Wahid menjabat sebagai Direktur PT Malay Nusantara Cipta dari tahun 2002. Pada 2002, ia bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Usai bergabung dengan PKB, Abdul Wahid memperkaya pengalaman berorganisasinya dengan menjadi Wakil Sekretaris PC HMI tahun 2002–2003, lalu menjadi Wakil Sekretaris DPW PKB Riau pada tahun 2002–2004 dan tahun 2004–2009.

Pada 2009, Abdul Wahid berhasil melenggang ke DPRD Provinsi Riau dan ditunjuk menjadi Ketua Fraksi Gabungan. Setelah menghabiskan satu periode, ia kembali maju di Pemilu 2014 dan berhasil meyakinkan masyarakat untuk mempercayakan kursi perwakilan rakyat pada dirinya untuk kedua kali.

Kekayaan Abdul Wahid

Berdasarkan pengumuman Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) KPK, Abdul Wahid terakhir kali melaporkan hartanya pada 31 Maret 2024 untuk periodik 2023. Total kekayaan Abdul Wahid mencapai Rp4.806.046.622. Dalam bentuk tanah dan bangunan, ia memiliki 12 aset yang tersebar di Kota Pekanbaru, Indragiri Hilir, Kampar, dan Jakarta Selatan senilai total Rp4.905.000.000.

Di Jakarta Selatan, ia juga memiliki tanah dan bangunan seluas 1555 m2/1555 m2 senilai Rp2,3 miliar. Untuk harta berbentuk transportasi, Abdul Wahid memiliki mobil Toyota Fortuner Jeep tahun 2016 seharga Rp400.000.000 dan Mitsubishi Pajero tahun 2017 seharga Rp380.000.000. Untuk harta dalam bentuk kas dan setara kas, Abdul Wahid memiliki Rp621.046.622 sehingga total harta yang ia miliki berjumlah Rp4.806.046.622,-