Penjelasan Zendhy Kusuma Mengenai Insiden di Restoran Nabilah O’Brien
Zendhy Kusuma, seorang musisi ternama, akhirnya memberikan klarifikasi terkait insiden keributan yang terjadi di restoran milik selebgram Nabilah O’Brien. Insiden ini sempat viral di media sosial dan menjadi perhatian publik selama beberapa bulan. Dalam penjelasannya, Zendhy mengungkapkan bahwa dirinya memang sempat terpancing emosi saat kejadian berlangsung.
Emosi Terpancing Saat Insiden Terjadi
Dalam penjelasannya, Zendhy mengakui bahwa situasi di restoran tersebut memicu ketegangan antara dirinya dan pihak restoran. Ia menjelaskan bahwa ia bersama keluarga menunggu pesanan makanan cukup lama hingga suasana menjadi tidak nyaman. Menurutnya, ia dan keluarganya beberapa kali menanyakan status pesanan kepada pelayan restoran, namun mendapatkan jawaban yang tidak konsisten.
“Kami menanyakan ke beberapa pelayan mengenai pesanan tersebut, pada awalnya kami diberi waktu 15 menit dan kami menunggu sesuai waktu yang disebutkan namun makanan belum juga datang, penjelasan yang kami terima berbeda-beda, ada yang ngomong restoran lagi ramai, makanan akan segera selesai, kami kembali menunggu, tapi pesanan belum dateng juga dan kami belum mendapatkan kejelasan juga,” ujarnya.
Akibat rasa lapar dan ketidakpuasan, Zendhy akhirnya memutuskan untuk pergi ke dapur guna memastikan apakah pesanan mereka sudah dibuat atau belum. Namun, ia mengaku dihalangi masuk ke dapur. Setelah menunggu hampir dua jam, ia akhirnya mengetahui bahwa pesanan mereka baru akan diproses.
Video CCTV Tidak Gambarkan Kejadian Utuh
Setelah video insiden tersebut tersebar luas di media sosial, banyak orang mengira bahwa Zendhy dan istrinya meninggalkan restoran tanpa membayar pesanan. Namun, Zendhy menilai bahwa potongan video yang viral tidak sepenuhnya menggambarkan situasi sebenarnya.
Ia menyebut terdapat rekaman lain yang menunjukkan bahwa dirinya sempat berusaha menyelesaikan persoalan secara baik-baik, termasuk datang kembali untuk meminta maaf dan membayar pesanan. “Namun saat itu pemilik saudari N sedang berada di luar kota, kami sudah membawa surat permintaan maaf, uang tunai untuk membayar pesanan, namun kami tidak diperkenankan masuk, meski demikian kami tetap menunjukkan itikad baik kami ingin menyelesaikan persoalan dengan tertib.”
Klaim Sudah Melakukan Pembayaran
Dalam penjelasannya, Zendhy juga mengungkap bahwa ia telah melakukan pembayaran atas pesanan makanan tersebut beberapa hari setelah kejadian. Ia menyebut pembayaran sebesar Rp530.150 dilakukan melalui transfer pada 21 September 2025. Meski demikian, pada 26 September 2025 laporan dugaan pencurian tetap dilayangkan ke polisi dan ditangani oleh Polsek Mampang, Jakarta Selatan.
“Meskipun kami dilaporkan, kami tetap kooperatif dan menunjukkan itikad baik bahkan sebelum adanya panggilan kepolisian kami datang dan klarifikasi menunjukkan bukti terkait upaya yang kami lakukan,” ujarnya.
Dapat Tekanan dan Cyberbullying
Setelah video tersebut viral, Zendhy dan keluarganya menghadapi berbagai tekanan di media sosial. Mulai dari komentar negatif hingga penyebaran informasi pribadi. “Cukup berdampak bagi keluarga kami, pekerjaan kami, namun demikian kami tidak menanggapi tersebut karena media sosial, namun peristiwa tersebut berkembang jauh, kami akhirnya melaporkan N ke Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa potongan video yang beredar disertai narasi yang menurutnya tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta kejadian. “Kami percaya setiap peristiwa sebaiknya dilihat secara utuh dan berdasarkan fakta. Ketika sebuah potongan video disertai narasi yang tidak lengkap, hal itu bisa menimbulkan kesalahpahaman yang akhirnya merugikan banyak pihak.”
Hormati Proses Hukum yang Berjalan
Zendhy menegaskan bahwa saat ini seluruh persoalan tersebut telah masuk ke ranah hukum. Ia mengaku akan menghormati proses yang sedang berjalan. “Saya percaya proses hukum akan melihat seluruh peristiwa ini secara utuh dan objektif,” katanya.
Melalui klarifikasi ini, Zendhy juga mengajak masyarakat untuk menyikapi peristiwa tersebut secara lebih bijak, termasuk dalam menggunakan media sosial. “Mungkin kita semua bisa belajar dari kejadian ini. Belajar menjadi konsumen yang lebih baik, belajar menjadi pemilik usaha yang lebih bijak dalam menyikapi pelanggan, dan juga belajar menjadi netizen yang tidak mudah melakukan cyberbullying,” kata Zendhy.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kegaduhan yang terjadi. “Kami juga menyadari peristiwa ini terjadi di tengah bulan suci ramadhan baik bagi orang, serta bisa memperbaiki hubungan antar sesama, untuk itu kami memohon maaf atas peristiwa yang telah menimbulkan kegaduhan pada masyarakat,” ujarnya.


