Ayatollah Mojtaba Khamenei Terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, Trump Anggap Tak Berarti

Posted on

Pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran

Ayatollah Mojtaba Khamenei secara resmi menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, pada Senin (9/3/2026). Penunjukan ini dilakukan oleh Majelis Ahli, sebuah badan yang terdiri dari 88 ulama senior yang bertugas memilih pemimpin baru setelah kematian seorang pemimpin. Mojtaba, yang merupakan putra tertua kedua dari Ali Khamenei, dikenal memiliki pengaruh signifikan di dalam pasukan keamanan Iran dan jaringan bisnis yang luas.

Mojtaba diketahui sebagai seorang ulama tingkat menengah, meskipun ia tidak pernah memegang jabatan resmi atau peran formal dalam rezim tersebut. Namun, ia diyakini memiliki pengaruh besar di balik layar. Selain itu, Mojtaba pernah bertugas di angkatan bersenjata Iran selama perang Iran–Irak.

Pemilihan Mojtaba sebagai Pemimpin Tertinggi Iran dilakukan melalui proses pemungutan suara sederhana oleh Majelis Ahli. Proses ini memiliki mekanisme ketat, di mana setiap kandidat harus melewati pemeriksaan dan mendapatkan persetujuan dari Dewan Penjaga. Dewan ini terdiri dari anggota yang ditunjuk langsung oleh Pemimpin Tertinggi.

Sebelumnya, hanya ada satu kali peralihan kekuasaan di jabatan pemimpin tertinggi Iran, yaitu ketika Ayatollah Ruhollah Khomeini meninggal dunia pada tahun 1989. Dalam kasus ini, Ali Khamenei menggantikan Khomeini sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.

Peran Mojtaba dalam Rezim Iran

Meskipun Mojtaba tidak memiliki pangkat ulama tinggi, ia memiliki hubungan yang kuat dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Ia juga dipandang sebagai kandidat terdepan menjelang pemungutan suara oleh majelis. Namun, kemungkinan terdapat penolakan terhadap pemilihannya, mengingat prinsip-prinsip Syiah.

Selain itu, Mojtaba disebut sebagai salah satu anggota keluarga Khamenei yang selamat, sementara istri, putri, cucu, menantu perempuan, dan menantu laki-laki mendiang pemimpin tertinggi itu dilaporkan tidak selamat.

Mojtaba menikah dengan Zahra Haddad-Adel, putri dari Gholam-Ali Haddad-Adel, seorang politikus konservatif Iran dan mantan Ketua Parlemen. Pasangan ini dilaporkan menikah pada tahun 2004. Zahra dilaporkan tewas pada tahun 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran.

Mojtaba Selamat dari Serangan AS-Israel

Pekan lalu, Mojtaba dilaporkan selamat dari serangan udara AS dan Israel. Informasi tersebut disampaikan dua sumber Iran kepada Reuters pada Rabu (4/3/2026). Menurut sumber tersebut, Mojtaba selama ini dipandang oleh kalangan penguasa Iran sebagai salah satu kandidat penerus ayahnya. Salah satu sumber Iran mengatakan, Mojtaba tidak berada di ibu kota ketika serangan terjadi.

Proses Pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran

Pemimpin tertinggi Iran tidak dipilih langsung oleh rakyat, melainkan oleh Majelis Ahli. Badan ini terdiri dari 88 ulama senior yang dipilih oleh publik setiap delapan tahun sekali. Namun, proses ini memiliki mekanisme yang ketat. Setiap kandidat yang ingin menjadi anggota Majelis Ahli harus terlebih dahulu melewati pemeriksaan dan mendapatkan persetujuan dari Dewan Penjaga.

Dewan ini merupakan badan pengawas yang sebagian anggotanya ditunjuk langsung oleh Pemimpin Tertinggi. Apabila jabatan Pemimpin Tertinggi kosong karena kematian atau pengunduran diri, Majelis Ahli akan segera berkumpul untuk menentukan pengganti melalui proses pemungutan suara sederhana.

Kematian Ali Khamenei

Sebelumnya, pernyataan resmi dikeluarkan pemerintah Iran terkait kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Selain Ali Khamenei, serangan gabungan AS dan Israel juga turut menewaskan putri, menantu, dan cucu pemimpin tertinggi Iran tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *