Cara Masyarakat Indonesia Menyikapi Serangan AS-Israel ke Iran

Posted on

Respons Masyarakat Indonesia terhadap Serangan AS-Israel ke Iran

Peristiwa serangan besar-besaran yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang menyebabkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, serta beberapa pejabat lainnya, menimbulkan reaksi beragam dari masyarakat Indonesia. Berbagai organisasi Islam dan kelompok masyarakat mengeluarkan pernyataan resmi serta mengajak warga untuk memanjatkan doa agar tercipta perdamaian dan keadilan di kawasan Timur Tengah.

Instruksi NU untuk Qunut Nazilah dalam Salat

Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan pengikut lebih dari 95 juta orang, mengeluarkan instruksi resmi kepada pengikutnya untuk membacakan doa Qunut Nazilah dalam setiap salat. Surat PBNU yang ditandatangani pada Minggu (01/03) menyatakan bahwa melalui doa ini, warga NU diajak memohon keselamatan bagi masyarakat sipil yang terdampak konflik dan mengharapkan perdamaian serta keadilan.

Sekjen PBNU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menyampaikan keprihatinan atas eskalasi ketegangan antara AS dan Iran. Ia berharap konflik tidak berkembang menjadi lebih luas secara global. Sebelumnya, PBNU juga mengecam serangan Israel ke Iran pada 13 Juni lalu, menilai tindakan tersebut sebagai ancaman terhadap kemanusiaan, keamanan, dan stabilitas internasional.

Muhammadiyah Menyampaikan Kekecewaan

Muhammadiyah, ormas Islam terbesar kedua di Indonesia dengan pengikut lebih dari 60 juta jiwa, juga mengecam serangan AS dan Israel ke Iran. Dalam surat yang ditandatangani Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni, mereka menyatakan bahwa tindakan itu merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia, hukum internasional, dan keputusan PBB. Selain itu, Muhammadiyah menyampaikan rasa duka atas meninggalnya Ayatullah Ali Khamenei dan korban lainnya dalam konflik tersebut.

Muhammadiyah menyerukan agar PBB memberikan sanksi tegas terhadap AS dan Israel atas pelanggaran yang dilakukan. Mereka juga mengajak Iran dan negara-negara Arab untuk menahan diri dan mengedepankan dialog guna menghindari konflik lebih lanjut.

MUI Mengutuk Serangan Militer

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengutuk keras serangan Israel dan AS ke Iran. Mereka menilai tindakan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan ketertiban dunia. MUI menegaskan bahwa setiap bentuk agresi yang melanggar kedaulatan negara harus dihentikan. Mereka juga menyampaikan duka mendalam atas “gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei” dalam tausiyah yang ditandatangani Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar.

Selain itu, MUI menduga adanya motif strategis di balik serangan tersebut, yaitu untuk melemahkan posisi Iran di kawasan sekaligus membatasi dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina. Untuk menghindari eskalasi yang lebih luas, MUI mendesak AS dan Israel untuk menghentikan serangan ke Iran karena bertentangan dengan Pasal 2 (4) Deklarasi PBB.

PGI: Merusak Peradaban dan Martabat Manusia

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyampaikan rasa keprihatinan yang mendalam atas serangan AS dan Israel ke Iran. Sekretaris Umum PGI, Pendeta Darwin Darmawan, mengatakan bahwa serangan tersebut merusak peradaban dan menginjak martabat manusia. Ia menilai bahwa dalam perang, warga sipil yang menderita, keluarga tercerai berai, anak-anak jadi korban, terpapar ketakutan dan trauma.

Darwin berharap agar di tengah situasi perang ini tak ada sentimen-sentimen keagamaan yang tidak perlu dan malah mempertebal polarisasi di ruang digital. Ia menegaskan bahwa setiap umat harus menjaga persatuan dan kerukunan.

MATAKIN: Mengecam Agresi Militer

Wakil Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN), Chandra Setiawan, mengecam keras segala bentuk agresi militer dan kekerasan. Menurutnya, setiap tindakan kekerasan dan peperangan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal yang diajarkan Nabi Kongzi. Chandra menghimbau agar setiap umat menjaga persatuan dan kerukunan serta memanjatkan doa agar perdamaian segera terwujud.

Tanggapan Pemerintah Indonesia

Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan sangat menyesalkan gagalnya perundingan antara AS dan Iran yang telah berdampak pada eskalasi militer di kawasan Timur Tengah. Indonesia menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan dialog dan diplomasi. Presiden Prabowo Subianto juga menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif.

Namun, mantan Dubes Indonesia di Iran, Dian Wirengjurit, melihat Indonesia tidak memiliki kekuatan untuk menjadi penengah antara kedua kubu yang berperang. Ia menilai bahwa Indonesia tidak punya pengaruh atau gaya ungkit diplomasi yang cukup.

Pandangan Ahli dan Warga Iran

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Padjajaran, Dina Yulianti Sulaeman, menilai bahwa pemerintah Indonesia harusnya mengambil sikap tegas merujuk hukum internasional. Ia menyarankan agar Indonesia mengecam atau mengutuk tindakan serangan AS dan Israel ke Iran.

Di sisi lain, warga Iran sendiri memiliki pandangan yang terpecah. Sebagian besar penduduk, terutama di pedesaan, mendukung pemerintahan Khamenei dan menentang serangan AS dan Israel. Namun, sekelompok anak muda di perkotaan yang terpapar informasi dari Barat cenderung mendukung serangan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *