Penuntutan Hukuman Mati terhadap Pelaku Penyelundupan Narkoba di Batam
Kejaksaan Agung (Kejagung) telah menuntut hukuman mati bagi enam terdakwa dalam kasus penyelundupan narkotika yang melibatkan kapal tanker Sea Dragon. Dalam penuntutan tersebut, ditemukan sejumlah besar sabu-sabu dengan berat nyaris dua ton yang disembunyikan di atas kapal tersebut. Salah satu terdakwa, Fandi Ramadhan, mengaku tidak tahu-menahu tentang keberadaan narkoba tersebut.
Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Anang Supriatna menjelaskan bahwa proses hukum dilakukan secara cermat dan hati-hati. Jaksa Penuntut Umum (JPU) memiliki bukti dan pertimbangan matang sebelum menuntut para terdakwa dengan hukuman mati.
”Pada tanggal 5 Februari 2026 kemarin, telah dilakukan penuntutan terhadap enam terdakwa tersebut dan masing-masing dituntut hukuman mati. Penuntutan dilakukan berdasarkan fakta hukum dan alat-alat bukti yang terungkap di persidangan,” jelas Anang.
Selain Fandi, lima terdakwa lainnya adalah Richard Halomoan, Leo Candra Samosir, Hasiholan Samosir, Weerapat Phongwan, dan Teerapong Lekpradube. Dua nama terakhir merupakan Warga Negara Asing (WNA) dari Thailand. Menurut Anang, mereka bekerja dengan sindikat peredaran gelap narkoba internasional.
Anang menyatakan bahwa Fandi baru saja bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) Sea Dragon. Ia bekerja di kapal tersebut setelah mendapat tawaran dari pamannya. Meskipun demikian, Anang menegaskan bahwa Fandi mengetahui dengan sadar adanya 67 paket narkoba jenis sabu yang diterima oleh kapal tersebut di tengah laut.
”Para terdakwa sadar dan mengetahui termasuk yang ABK itu (Fandi) mengetahui bahwa barang itu adalah barang narkotika. Dan (paket narkoba) itu disimpan sebagian ada di haluan kapal, sebagian lagi disembunyikan di bagian dekat mesin. Jadi, menyadari dan menerima pembayaran juga yang bersangkutan,” kata dia.
Dalam persidangan yang sudah berjalan, fakta-fakta tersebut sudah terungkap. Fandi menyadari bahwa kapal tempat ia bekerja menerima dan membawa paket narkoba. Selain itu, ia juga sudah menerima pembayaran atas pekerjaan yang dilakukannya. Nilainya mencapai Rp 8,2 juta. Uang tersebut diterima oleh Fandi pada Mei tahun lalu.
”Berdasarkan fakta sidang sudah terungkap bahwa menurut penuntut, dia bekerja di perusahaan. Dan dia menerima pembayaran, dan dia mengangkut termasuk barang dan menerima dan mengetahui bahwa barang itu barang haram, barang narkotika,” tegas Anang.
JPU memastikan bahwa tidak ada paksaan dalam pekerjaan tersebut. Semua dilakukan dengan kesadaran penuh. Berkaitan dengan bantahan yang disampaikan oleh Fandi dan pihak keluarga, Anang menyatakan bahwa mereka diberi ruang oleh majelis hakim untuk menyampaikan pembelaan melalui sidang dengan agenda pembacaan pledoi.
”Baik terdakwa maupun penasehat hukumnya, mempunyai hak untuk membela, ada pledoi nanti tanggal 23 Februari. Kita dengarkan dan nanti juga kami jaksa masih ada kesempatan replik, nanti juga ada putusan dan pertimbangan sepenuhnya ada pada majelis hakim,” terang dia.
Sidang tuntutan terhadap Fandi dan terdakwa lainnya berlangsung pada Kamis (5/2). Dalam sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Tiwik, JPU menyatakan bahwa seluruh unsur dakwaan primer telah terbukti secara sah dan meyakinkan berdasarkan keterangan saksi, ahli forensik, serta hasil uji laboratorium terhadap barang bukti.
”Tuntutan dibacakan setelah mendengarkan seluruh keterangan saksi dan ahli. Barang bukti dinyatakan positif mengandung narkotika,” kata JPU Gustirio dikutip pada Jumat (20/2).
Selain Fandi, lima terdakwa lainnya dalam kasus yang sama bernama Richard Halomoan, Leo Candra Samosir, Hasiholan Samosir, Weerapat Phongwan, dan Teerapong Lekpradube. Dua nama terakhir adalah warga negara Thailand. Menurut jaksa, keenam terdakwa terbukti melanggar Pasal 114 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang (UU) Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
Usai pembacaan tuntutan, terdakwa Fandi Ramadhan meluapkan kekecewaannya terhadap tuntutan jaksa. Dia merasa tuntutan tersebut sangat tidak adil bagi dirinya. Dengan tegas dia menyatakan tidak bersalah dalam kasus tersebut. Sebab, dia tidak pernah tahu kapalnya membawa muatan berisi narkoba jenis sabu yang dilarang di Indonesia.
”Hukum di Indonesia tidak adil. Saya tidak bersalah,” kata dia.
Kasus tersebut bermula pada April 2025. Saat itu, terdakwa Hasiholan Samosir menawarkan pekerjaan kepada Fandi Ramadhan sebagai ABK kapal tanker. Pada 1 Mei 2025, Fandi bersama Hasiholan, Leo, dan Richard berangkat ke Thailand. Di sana, mereka bertemu Weerapat dan Teerapong. Mereka kemudian menunggu instruksi sebelum bergerak menuju kapal tanker Sea Dragon pada 13 Mei 2025.
Lima hari kemudian, pada 18 Mei 2025 dini hari, kapal Sea Dragon menerima 67 kardus dari kapal ikan berbendera Thailand di tengah laut. Barang tersebut belakangan diketahui berisi narkotika jenis metamfetamina yang disamarkan dalam kemasan Teh China. Operasi gabungan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Bea Cukai menghentikan kapal Sea Dragon pada 21 Mei 2025 di perairan Karimun.
Berdasar hasil pemeriksaan, petugas menemukan 1.995.130 gram metamfetamina. Jaksa menilai peristiwa tersebut membuktikan adanya permufakatan jahat dalam peredaran narkotika golongan I lintas negara. Dalam persidangan sebelumnya, terdakwa Weerapat Phongwan alias Mr. Pong mengakui mengetahui sosok bernama Mr. Tan yang disebutnya sebagai pebisnis narkotika.


