Kasus Pembunuhan Sekeluarga di Jakarta Utara: Anak Ternyata Pelaku
Kasus pembunuhan yang menimpa tiga anggota keluarga di Tanjungpriok, Jakarta Utara, menggegerkan masyarakat. Awalnya, kejadian ini diduga sebagai keracunan, namun akhirnya terungkap bahwa pelakunya adalah anak ketiga dari keluarga tersebut. Kejadian ini memicu rasa kaget dan penyesalan di kalangan warga sekitar.
Fakta Terkini Tentang Pembunuhan
Pelaku pembunuhan adalah Abdullah Syauqi Jamaludin (22 tahun), yang secara diam-diam menyimpan dendam terhadap keluarganya. Ia membunuh ibunya SS (50), kakaknya AF (27), dan adiknya AD (14) dengan cara menyuapi mereka menggunakan racun tikus. Korban ditemukan dalam kondisi mulut berbusa dan terdapat ruam merah di beberapa bagian tubuh.
Awalnya, Abdullah Syauqi sempat berpura-pura sebagai korban dengan kondisi lemas di depan kamar mandi. Namun, setelah penyelidikan dilakukan, polisi menemukan bahwa ia adalah pelaku utama dari kejadian tersebut.
Kronologi Pembunuhan
Pembunuhan ini dilakukan oleh Abdullah Syauqi setelah merayakan malam tahun baru pada 1 Januari 2026. Sejak Desember 2025, hubungan antara Syauqi dan keluarganya tidak harmonis. Ia merasa diperlakukan secara berbeda dan sering dimarahi oleh ibunya karena dianggap malas bekerja.
Pada 31 Desember 2025, Syauqi membeli satu bungkus racun tikus di wilayah Bahari, Tanjung Priok. Beberapa jam kemudian, ia juga membeli dua bungkus kapur barus di Warakas. Setelah bekerja di Gudang Cargo Sunter hingga malam hari, Syauqi merayakan malam Tahun Baru dengan minum minuman keras bersama rekan kerjanya.
Pada 1 Januari 2026, Syauqi pulang ke rumah sambil membawa sisa kembang api. Pada malam hari, saat seluruh korban tertidur, Syauqi merebus teh dan menggunakan beberapa lapis masker. Ia memasukkan kapur barus ke dalam panci hingga ruangan berasap, lalu keluar rumah dan menutup pintu.
Pada 2 Januari 2026 dini hari, Syauqi memastikan bahwa ibu dan kedua saudaranya sudah dalam kondisi lemas. Ia kemudian menyiapkan minuman teh yang telah dicampur racun tikus dan menyuapi korban satu per satu hingga meninggal dunia. Setelah itu, Syauqi membakar kembang api dan mengarahkannya ke tubuhnya sendiri agar seolah-olah ikut menjadi korban.
Namun, tak lama kemudian, anak kedua korban berinisial MK (24) menemukan ibu dan dua saudaranya telah meninggal dunia dengan kondisi mulut berbusa. Sementara itu, Syauqi ditemukan dalam kondisi lemas di depan kamar mandi.
Hasil Autopsi dan Penyelidikan
Dokter Forensik RS Polri, dr Nader Aditya Mardika, mengungkapkan kejanggalan yang ditemukan saat memeriksa jenazah sang ibu, SS (50), serta dua anaknya, AF (27) dan AD (14). Menurutnya, tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan pada fisik korban, namun ada aroma menusuk yang menyeruak saat proses pembedahan.
Selain aroma menyengat, tim dokter menemukan dinding lambung korban berubah warna menjadi merah muda dengan cairan berwarna kecokelatan di dalamnya. Dokter pun menyimpulkan para korban tewas akibat terpapar zat kimia yang tidak lazim masuk ke dalam tubuh manusia dalam dosis tinggi.
Temuan medis ini sinkron dengan hasil uji laboratorium toksikologi yang mengonfirmasi keberadaan Zinc Phosphate atau racun tikus di dalam tubuh korban.
Penetapan Tersangka
Berdasarkan hasil penyelidikan, pelaku pembunuhan mengarah kepada AS (Abdullah Syauqi Jamaludin). Pendalaman keterangan dan bukti membuat polisi menetapkan AS sebagai tersangka pada 4 Februari 2026. Hal itu berdasarkan hasil pemeriksaan dari Puslabfor, dokter, dan bukti toksikologi serta hasil pemeriksaan saksi-saksi.
Motif pelaku melakukan hal tersebut karena diperlakukan berbeda dengan anggota keluarga lainnya. “Pelaku dendam kepada keluarganya karena merasa diperlakukan berbeda dan sering dimarahi oleh ibunya,” kata AKBP Onkoseno Gradiarso Sukahar.
Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 459 dan/atau Pasal 467 KUHP tentang pembunuhan dan pembunuhan berencana, serta Pasal 76C jo Pasal 80 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukuman maksimal mencapai 20 tahun penjara.
Respons Warga: Tak Menyangka Pelaku Orang Terdekat
Warga sekitar mengaku terpukul dan tidak menyangka tragedi tersebut dilakukan oleh anggota keluarga sendiri. Lingkungan tempat tinggal korban dikenal relatif tenang. “Tidak pernah terdengar ribut-ribut. Kami kaget sekali waktu tahu pelakunya anak sendiri,” ujar salah satu warga.
Peristiwa ini membuat warga semakin waspada terhadap konflik rumah tangga yang tak terlihat dari luar.


