Memoar “Broken Strings” dan Kekerasan yang Disembunyikan di Balik “Cinta”
Memoar Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth karya Aurelie Moeremans menghadirkan kisah yang menyentuh dan menantang. Dengan judul yang penuh makna, buku ini tidak hanya menjadi cerita tentang pengalaman pribadi, tetapi juga menjadi refleksi mendalam tentang bagaimana masyarakat gagal melindungi anak-anak dari ancaman yang bersembunyi di balik label “cinta”.
Dalam kerangka pemikiran Erich Fromm, cinta sejati membutuhkan kematangan, tanggung jawab, dan kesetaraan. Namun, dalam kasus Aurelie, apa yang dialaminya bukanlah cinta, melainkan sistematis penghancuran diri yang dikemas dengan retorika romantis. Ini adalah kekuatan narasi yang menghancurkan, karena membuka mata kita pada realitas bahwa cinta yang sebenarnya tidak pernah ada dalam hubungan antara Aurelie dan Bobby.
Kisah dimulai ketika Aurelie pindah dari Belgia ke Indonesia, mencari identitas dan validasi. Di sinilah ia bertemu Bobby, seorang pria dewasa yang melakukan tindakan yang kini dikenal sebagai child grooming. Melalui penulisan yang detail dan mengerikan, Aurelie menggambarkan bagaimana manipulasi bekerja: awalnya perhatian yang terlihat tulus, lalu pujian yang membuatnya merasa istimewa, dan akhirnya isolasi dari keluarga dan teman-teman.
Yang membuat memoar ini begitu kuat secara psikologis adalah kemampuan Aurelie mempertahankan suara remaja 15 tahun yang ia miliki saat itu. Pembaca tidak mendapat narasi retrospektif dari wanita dewasa yang bijak—kita terjebak dalam kebingungan seorang anak yang tidak memiliki kosakata untuk memahami apa yang sedang terjadi padanya.
Fromm menulis bahwa cinta yang matang memerlukan empat elemen fundamental: perhatian (care), tanggung jawab (responsibility), penghormatan (respect), dan pengetahuan (knowledge). Hubungan antara Aurelie dan Bobby adalah inversi sempurna dari keempat elemen ini. Ada “perhatian” namun bersifat obsesif dan mengikat. Ada “tanggung jawab”, namun hanya sebagai alat kontrol. Yang sama sekali tidak ada adalah penghormatan terhadap otonomi Aurelie sebagai individu dan pengetahuan yang setara.
Aurelie dengan telanjang menggambarkan mekanisme kontrol: kekerasan verbal yang merusak harga diri, isolasi sosial yang membuat korban bergantung sepenuhnya pada pelaku, manipulasi emosional melalui siklus “lukai-lalu-rawat”, hingga kekerasan fisik dan seksual yang dinormalisasi sebagai bagian dari “hubungan”. Yang paling mencekik adalah bagaimana Bobby menggunakan bahasa cinta untuk membungkus setiap tindakan destruktifnya.
Dari perspektif sastra, Broken Strings menolak estetisasi trauma. Tidak ada prosa puitis yang mengaburkan kenyataan, tidak ada metafora indah yang membuat kekerasan terlihat artistik. Bahasa Aurelie tegas, langsung, kadang terasa mentah, dan itulah yang membuatnya efektif.
Struktur memoar ini mengikuti pola siklus kekerasan yang terkenal: tension building, acute violence, honeymoon phase, repeat. Pembaca merasakan kelelahan yang sama dengan korban setiap kali tampak ada harapan untuk keluar, siklus berulang dengan intensitas yang lebih besar.
Yang membuat buku ini penting secara sosial adalah konteks perilisannya. Aurelie memilih membagikan memoar ini secara gratis, dalam dua bahasa, melalui media sosial. Ini bukan tentang profit, tetapi tentang edukasi dan pemberdayaan. Dia ingin setiap remaja, setiap orang tua, setiap pendidik memahami bagaimana grooming bekerja, sehingga tidak ada lagi “Aurelie-Aurelie” lain yang terjebak dalam jaring yang sama.
Buku ini layak dibaca, bukan untuk memuaskan voyeurisme, melainkan sebagai pendidikan yang mendesak. Setiap orang tua harus membacanya untuk memahami tanda-tanda grooming. Setiap remaja harus membacanya untuk belajar membedakan perhatian sejati dari manipulasi. Setiap dari kita harus membacanya untuk memahami bahwa melindungi anak bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi kewajiban kolektif.


