Kota Baku Menerima Persamaan, Menolak Perbedaan dengan Bangga

Posted on

Kota Baku yang Menyatu dalam Persamaan

Kota Baku adalah kota yang menolak perbedaan dan menerima persamaan. Masjid, sinagoge, atau gereja berdampingan dengan harmonis. Kota Tua Baku dari jaman kuno serta dunia Gobustan sejak jaman purba 400.000 tahun lalu juga berdampingan dengan kota Baku modern dan futuristik. Awalnya, aku mengira Azerbaijan adalah sebuah negara setara dengan Turki yang berada di Asia dengan latar belakang serupa. Turki memang sebagian dari negaranya masuk ke benua Asia dan sebagian lagi masuk ke benua Eropa. Dan, ternyata demikian lah negara Azerbaijan.

Aku buta sama sekali tentang negara api ini, dan karena Azerbaijan adalah negara Muslim, tidak terpikir olehku untuk berkunjung kesana karena yang terlintas di kepalaku tentang agama ini adalah seperti di Jakarta, yang sebagian besar sama sekali tidak ramah dengan minoritas, apapun minoritasnya. Aku adalah seorang pemerumpan disabilitas di atas kursi roda. Disabilitas pun di Jakarta masih dianggap sebagai warna negara kelas paling akhir, aku merasakan betul.

Aku juga seorang penganut Kristen yang taat dimana banyak teman-temanku penganut yang sama tidak bisa beribadah di gereja masing-masing karena terbentur dengan warga yang membeda-bedakan minoritas. Dan berita-berita tentang itu benar-benar membuat aku malas berkunjung ke negara-negara Muslim, walau aku tahu tidak semua Muslim seperti itu. Tetapi yang ada di depan mataku, yang ada dalam kehidupanku dan yang ada di berita-berita di hadapanku adalah yang membuat nyaliku ciut untuk berhadapan muka langsung dan aku lebih memilih menghidar.

Tetapi ternyata ketika aku memberanikan diriku untuk berkunjung ke Uzbekistan tahun 2023 dan temanku Muslim yang mempunyai travelnya, aku terbang dan menemukan kenyataan yang sungguh sangat berbeda tentang apa yang ada di kepalaku. Bahkan 4x aku berkunjung ke Uzbekistan aku mempunyai banyak teman salah satunya Zoyir yang benar-benar membantuku apapun tanpa memandang apapun! Yang ada dia selalu memandangku sebagai kesamaan sebagai manusia yang diciptakan oleh Tuhan. Pupuslah aku berpikir tentang Muslim di negara-negara yang benar-benar menganut kebersamaan dan kepedulian untuk sesama manusia.

Cerita ini sudah aku tuliskan dalam beberapa bab di buku-buku ku tentang Uzbekistan, yang aku launching di Tashkent ibukota Uzbekistan tahun 2025 bulan Mei lalu, di KBRI Tashkent, UPost Uzbekistan dan Lapzag Tashkent dibantu oleh Zoyir dan teman seniorku Mr.Rashid.

Setelah aku familiar dengan kehidupan Uzbekistan dan mempunyai teman dan sahabat disana, aku mulai memberanikan diriku untuk mengeksplore research dan surveyku di negara-negara ex Soviet. Ada 15 negara yang akan kukunjungi, dan sementara ini aku baru terbang ke Uzbekistan 4x, Armenia, Georgia dan Azerbaijan masing-masing 1x. Dan, tahun 2026 ini, aku akan mengeksplore 7 negara ex Soviet, jika Tuhan berkenan.


Aku sebagai wisatawan yang baru berkunjung di Azerbaijan, yang baru pertama kali datang mungkin merasa identitas Timur-bertemu-Barat ini membingungkan. Ya, tentu saja. Dengan tulisanku diatas tadi, dengan berbagai “misteri” Azerbaijan, aku memang agak bingung. “Dimana aku?” Berada di sebuah dunia baru, antara 2 benua, dengan berbagai “pembagian waktu kehidupan” dari Azerbaijan purba, Azerbaijan jaman Jalur Sutra kuno, Azerbaijan jaman Kerajaan, Azerbaijan dibawah kendali Soviet sampai Azerbaijan futuristic! Dan yang paling penting adalah Azerbaijan yang peduli tanpa memandang perbedaan, yang ada Azerbaijan ingin Bersama dengan 1 misi membangun kehidupan yang lebih baik.

Menarik, sangat menarik!

Suatu saat aku berada di toko-toko souvenir dan tawar-menawar di pasar tradisional dan memorabilia Soviet berbagi tempat, saat berikutnya aku minum the atau sekedar berkongkow dengan Zoyir di beberapa cafe yang tentunya tidak akan terlihat aneh di Baku.

Mungkin itulah pesona terbesar Baku, sebuah penerimaan yang benar-benar dalam persamaan atau penolakannya untuk sesuatu yang sering dianggap perbedaan. Ini adalah kota yang membuat aku terus berpikir, “Benarkah kota Baku senyaman itu?”

“Negeri Api” Azerbaijan, dengan gagah selalu memasang bendera mereka di banyak tempat. Bahkan, banyak apartemen-apartemen disana, memasang bendera mereka masing-masing di masing-masing unit. Bendera besar secara nasional pun selalu berkibar gagah, menunjukkan betapa bangganya mereka sebagai warga Azerbaijan!

3 gedung Flame Tower meliuk-liuk dengan LED Bendera Azerbaijan berganti-ganti dari sore hingga malam hari.

Sebuah rumah di lorong-lorong sempit Kota Tua Baku, ada seorang pensiunan memasang bendera Azerbaijan karena kebanggaannya kepada negaranya.


Dikotomi budaya Baku menjadi semakin menarik ketika mempertimbangkan sejarahnya yang luar biasa sebagai ibukota minyak. Jauh sebelum Pennsylvania atau Texas di Amerika Serikat, kota Baku telah memproduksi emas hitam.

Sumur minyak pertama di dunia dibor di sini pada tahun 1846, dan itu 13 tahun sebelum penemuan terkenal Amerika. Pada tahun 1900, kota Baku ini menghasilkan setengah dari pasokan minyak dunia, menarik raksasa industri seperti saudara Nobel dan Rothschild, yang membangun kekayaan mereka dari minyak mentah Azerbaijan.

Kekayaan yang tak terbayangkan itu membangun gedung-gedung megah bergaya Eropa yang berjajar di jalan-jalan pusat kota, lapisan pertama wajah modern Azerbaijan diletakkan di atas fondasi kuno bahkan purba.

Warisan api sebagai “negeri api” dan bahan bakar ini terlihat di mana-mana dari kilang-kilang minyak bahkan di halaman-halaman rumah-rumah yang mempunyai akses ke dalam bumi Azerbaijan. Itu ada di api abadi Yanar Da dan kuil api Zoroastrian kuno yang dikenal sebagai Ateshgah atau “Kuil Api.”

Itu tercermin dalam api LED yang menari-nari di Menara Api atau Gedung Flame Tower dengan 3 gedung futuristik modern di malam hari. Dan sebagai arsitek dengan gaya dan langgam arsitektur Azerbaijan, aku memahami kota Baku, aku juga memahami bahwa masa lalu dan masa kini kota ini didorong oleh sumber yang sama.

Energi tanpa henti yang melestarikan kota sekaligus mendorongnya maju. Menjelajah kehidupan berabad-abad sambil berjalan di sepanjang promenade pesisir Danau Caspia. Latar belakang Danau Caspi ini memang bisa membuat pikiranku melayang-layang.

Disisi lain, walau hanya perjalanan singkat ku disana, negeri api ini memiliki kobaran api yang menjulang dari bumi seperti yang telah terjadi selama berabad-abad, sebuah pengingat akan api abadi yang memberi Azerbaijan. Yang juga mengobarkan jiwaku seperti api untuk terus mengeksplore luar biasa untuk mencari inspirasi-inspirasi baru di negeri ini.

Ketika aku terbang pulang ke negeriku tercinta Indonesia dan meninggalkan kota Baku, “kebingungan” awal berubah menjadi apresiasi yang mendalam bagi Azerbaijan.

Mungkin yang aku rasakan bukanlah kebingungan sama sekali, melainkan “kekaguman”, kagum kepada sebuah negeri api yang cepat membawa angin sejuk di dunia arsitektur bahkan di dunia anti-mainstream!

Kepada sebuah kota yang menolak untuk memilih antara masa lalu dan masa kini. Kota Baku ini yang bersikeras untuk hidup di keduanya sekaligus, antara masa lalu dan masa kini yang semakin futuristik.

Identitasnya sih, menurutku tidak membingungkan. Tetapi, memang berlapis, kompleks, dan tanpa penyesalan dengan apa yang terjadi di masa-masa susah mereka. Kota Baku menantang asumsi, menghargai rasa ingin tahu, dan membuktikan bahwa kontradiksi bisa menjadi indah.

Mungkin itulah intinya. Di dunia yang terobsesi dengan kejelasan, di dunia yang tahu bahwa hidup itu indah jika ada dalam kedamaian. Kota Baku mengingatkan kita bahwa beberapa kisah paling baik diceritakan dalam hitam putih. Bukan abu, yang akhirnya membuat kita sadar, apa yang terbaik untuk negeri.

Kota Baku adalah kota yang penuh kontras, menampilkan perpaduan visual unik antara infrastruktur modern dan tembok abad pertengahan yang berusia berabad-abad. Para penjelajah terkenal seperti Marco Polo dan Alexander Dumas telah menulis banyak tentang kota Baku.

Dan mereka semua benar-benar mengakui apa yang mereka lihat memang itulah apa adanya sebagai “negeri api” Azerbaijan ……
Kota Tua Baku terkenal dengan bangunan-bangunan tradisionalnya yang sangat cantik, banyak di antaranya memiliki balkon kayu menjorok keluar dari dinding utama yang berfungsi sebagai “teras atau balkon”.

Itu lah yang memungkinkan mereka tetap bisa menikmati udara luar sambil melihat pemandangan jalan-jalan sempit dan berkelok-kelok. Fitur arsitektur ini, atau jendela yang menjorok, menambah ruang ekstra dan karakter unik pada arsitektur bersejarah di daerah tersebut.

Ya, inilah Azerbaijan, dan inilah Kota Baku sebagai ibukota negara. Sebuah bagian dari dunia yang mempunyai Sejarah besar sejak jaman purba sampai sekarang, dan berusaha untuk menggapai mimpi mereka serta Bersama berjuang dengan negara-negara yang lainnya bagi masa depan mereka masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *