Amerika Serikat Serang 7 Negara Tahun 2025, Terkini Venezuela

Posted on

PasarModeRn

Amerika Serikat dan Serangkaian Operasi Militer di Tahun 2025

Amerika Serikat kembali menjadi perhatian global setelah operasi militer yang dilakukannya di Venezuela berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh pasukan AS pada awal Januari 2026. Penangkapan presiden yang sedang menjabat ini menjadi puncak dari rangkaian serangan militer AS sepanjang tahun 2025, meskipun Presiden Donald Trump terus menyebut dirinya sebagai “presiden perdamaian”.

Data lembaga pemantau konflik internasional mencatat bahwa Amerika Serikat telah melakukan atau terlibat dalam ratusan operasi militer di luar negeri sejak Trump dilantik pada 20 Januari 2025. Berdasarkan laporan Armed Conflict Location & Event Data (ACLED), Washington tercatat melakukan atau menjadi mitra dalam 622 serangan udara dan drone di luar negeri sepanjang tahun 2025. Serangan-serangan tersebut bertentangan dengan janji Trump kepada pemilih untuk mengakhiri keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik asing dan lebih mengedepankan diplomasi.

Berikut adalah daftar negara-negara yang dibom Amerika Serikat sepanjang tahun 2025, yang menunjukkan luasnya jangkauan operasi militer Washington dari Amerika Latin hingga Timur Tengah.

1. Venezuela dan Kawasan Karibia

Amerika Serikat mengonfirmasi telah menyerang sebuah fasilitas dermaga di wilayah Venezuela pada akhir 2025. Serangan ini menandai aksi militer pertama AS di daratan Venezuela sejak Washington mulai menargetkan kapal-kapal Venezuela di Laut Karibia dan Samudra Pasifik timur pada September 2025.

Presiden Donald Trump mengatakan kepada wartawan bahwa telah terjadi “sebuah ledakan di Venezuela” di lokasi yang menurut AS biasa digunakan kapal-kapal pengangkut narkoba. Ia menjelaskan bahwa fasilitas tersebut disebut sebagai “area implementasi” dan mengklaim bahwa lokasi itu “tidak ada lagi sekarang”.

Selain serangan ke daratan, AS juga menyita dua kapal tanker minyak di lepas pantai Venezuela pada Desember 2025, yang diklaim sebagai bagian dari “armada bayangan” pengangkut minyak bersanksi. Sejak Agustus 2025, Amerika Serikat juga mengerahkan kehadiran militer terbesar di Karibia dalam beberapa dekade terakhir.

Human Rights Watch melaporkan sedikitnya 95 orang tewas akibat serangan terhadap kapal-kapal kecil di Karibia dan menuduh Amerika Serikat melakukan “pembunuhan di luar proses hukum”. Pemerintah Venezuela menuding Washington menggunakan isu narkoba sebagai dalih untuk mendorong perubahan rezim.

Serangan AS ke Venezuela terus berlanjut hingga awal Januari 2026 yang berujung pada operasi militer berskala besar dan penangkapan Presiden Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, pada Sabtu (3/1/2026). Maduro dilaporkan diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan di pengadilan federal Amerika Serikat, sebuah langkah yang memicu kecaman keras dari pemerintah Venezuela.

2. Nigeria

Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke Nigeria pada Hari Natal, 25 Desember 2025. Trump menyebut serangan tersebut sebagai aksi “kuat dan mematikan” terhadap kelompok yang diklaim berafiliasi dengan ISIS di Negara Bagian Sokoto, Nigeria barat laut. Serangan ini menyusul tekanan diplomatik Washington terhadap Abuja terkait tuduhan “genosida terhadap umat Kristen”, yang dibantah keras pemerintah Nigeria.

Komando Afrika Amerika Serikat menyatakan bahwa “beberapa teroris ISIS tewas” dalam operasi tersebut. Kementerian Luar Negeri Nigeria menyebut serangan itu “berhasil” dan dilakukan atas persetujuan pemerintah Nigeria. Serangan ini menjadi aksi militer kinetik pertama Amerika Serikat yang diketahui terjadi di Nigeria.

3. Somalia

Amerika Serikat secara signifikan meningkatkan serangan udara di Somalia sepanjang 2025. Washington menargetkan kelompok al-Shabab dan ISIS-Somalia, dua kelompok bersenjata yang aktif di wilayah tersebut. Sedikitnya 111 serangan tercatat dilakukan AS di Somalia tahun ini, menurut lembaga pemantau konflik. Jumlah tersebut melampaui total serangan yang dilakukan di bawah pemerintahan George W. Bush, Barack Obama, dan Joe Biden secara gabungan.

Investigasi Drop Site News mengungkap sedikitnya 11 warga sipil, termasuk tujuh anak-anak, tewas dalam serangan AS di wilayah Lower Juba pada Desember 2025. Pemerintah Amerika Serikat tidak mengungkap data resmi korban sipil dalam operasi militernya di Somalia.

4. Suriah

Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke 70 lokasi ISIS di Suriah pada 19 Desember 2025. Serangan tersebut dilakukan sebagai balasan atas penembakan di Palmyra yang menewaskan dua tentara AS dan seorang penerjemah sipil. Trump menyatakan serangan lanjutan akan menyusul jika diperlukan.

5. Iran

Amerika Serikat menyerang tiga fasilitas nuklir utama Iran pada 22 Juni 2025. Serangan tersebut menargetkan Natanz, Isfahan, dan Fordow, yang terlibat dalam pengayaan uranium. Trump mengatakan serangan itu bertujuan menghentikan “ancaman nuklir” Iran. Iran mengonfirmasi kerusakan besar pada fasilitas nuklirnya dan membalas dengan serangan simbolis ke pangkalan AS di Qatar.

6. Yaman

Amerika Serikat terus menggempur kelompok Houthi di Yaman sepanjang awal 2025. Serangan meningkat menjadi hampir setiap hari pada Maret 2025 dalam operasi bernama Operation Rough Rider. Serangan AS menghantam pelabuhan, bandara, sistem radar, lokasi peluncuran rudal, hingga pusat penahanan migran. Kementerian Kesehatan Yaman menyebut sedikitnya 123 orang tewas, sebagian besar warga sipil.

7. Irak

Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke Provinsi Anbar, Irak, pada 13 Maret 2025. Serangan tersebut menewaskan wakil pimpinan ISIS, Abdallah “Abu Khadijah” al-Rifai. Perdana Menteri Irak menyebut al-Rifai sebagai “salah satu teroris paling berbahaya di Irak dan dunia”.

Kritik terhadap Kebijakan Militer Trump

Trump sebelumnya berjanji akan mengakhiri keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik asing. Namun, Sarang Shidore dari Quincy Institute menilai kebijakan Trump “kurang didukung diplomasi jangka panjang”. Serangan-serangan Amerika Serikat sepanjang 2025 menunjukkan kebijakan luar negeri Washington masih sangat bertumpu pada kekuatan militer di tengah dinamika geopolitik global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *