5 tips susun resolusi 2026 menurut psikolog, termasuk hindari 2 kata ini

Posted on

PasarModern.comPergantian tahun kerap identik dengan semangat memulai kembali.

Banyak orang menaruh harapan besar pada Januari 2026 sebagai titik awal perubahan, baik soal kesehatan, karier, keuangan, maupun kebiasaan hidup. Target pun disusun rapi dan janji pada diri sendiri diucapkan dengan penuh keyakinan.

Namun, tidak sedikit resolusi berakhir di tengah jalan. Beberapa minggu setelah tahun baru berjalan, motivasi mulai surut dan rencana perlahan ditinggalkan.

Psikolog melihat pola ini berulang hampir setiap tahun. Masalahnya sering kali bukan pada kurangnya niat, melainkan cara menetapkan tujuan yang terlalu kaku dan menekan diri. Bahasa resolusi yang terlalu keras justru membuat perubahan sulit bertahan.

Lantas, bagaimana cara menyusun resolusi tahun baru 2026 agar lebih realistis dan berkelanjutan?

Tips susun resolusi tahun baru 2026

Menyusun resolusi tidak sekadar menuliskan daftar keinginan. Diperlukan pendekatan yang tepat agar tujuan benar-benar bisa dijalani dalam jangka panjang.

1. Hindari dua kata ini dalam resolusi

Dilansir dari BBC, Sabtu (27/12/2025), kesalahan lain yang sering luput disadari adalah penggunaan bahasa yang terlalu absolut.

Psikolog Kimberley Wilson menegaskan, kata-kata seperti “selalu” dan “tidak pernah” sebaiknya dihindari karena menciptakan pola pikir serba atau tidak sama sekali.

Janji seperti “Saya akan selalu lari setiap Rabu pagi” atau “Saya tidak akan pernah minum alkohol lagi” justru membuka peluang kegagalan.

“Contoh klasiknya adalah seputar diet atau olahraga, dan orang-orang berpikir bahwa jika mereka melakukan kesalahan suatu hari nanti, maka semuanya menjadi sia-sia,” ujar Wilson dalam podcast What’s Up Doc milik BBC.

Menurutnya, pola pikir sempit ini membuat seseorang menilai satu kesalahan sebagai kegagalan total, padahal perubahan seharusnya dilihat dalam konteks jangka panjang.

Dr. Kaye pun menyarankan penggunaan frasa yang lebih lentur seperti “Saya ingin bereksperimen dengan”, “Saya ingin menciptakan lebih banyak ruang untuk”, atau “Saya sedang mempelajari apa yang cocok untuk saya ketika…”.

2. Hindari resolusi yang terlalu besar dan menekan diri

Resolusi seperti “menurunkan berat badan”, “mengganti karier”, atau “pindah rumah” kerap terdengar ambisius, tetapi justru berisiko gagal.

Dr. Claire Kaye, mantan dokter umum sekaligus pelatih kepercayaan diri, mengingatkan bahwa tujuan semacam itu bukanlah rencana konkret, melainkan pernyataan yang menekan secara psikologis.

Menurutnya, banyak resolusi gagal karena terlalu luas, tidak jelas, dan jauh dari kondisi nyata seseorang.

Ia menyarankan agar sebelum menulis target, seseorang terlebih dahulu memetakan apa yang selama ini berjalan baik, hal-hal yang menguras energi, serta kebiasaan yang dijalani secara otomatis tanpa disadari.

“Ketika Anda memahami apa yang lebih Anda inginkan, bukan hanya apa yang ingin Anda hindari, perubahan akan menjadi jauh lebih berkelanjutan,” kata Kaye.

Ia menganjurkan agar resolusi ditulis dengan fokus pada arah dan pengalaman, bukan pada hasil akhir yang kaku.

Misalnya, target “menurunkan berat badan” dapat diubah menjadi: “Saya ingin merasa lebih berenergi dan nyaman dengan tubuh saya, dan memahami apa yang membantu saya merasa seperti itu”.

Begitu pula dengan niat “mengubah karier”, yang bisa dirumuskan ulang menjadi “Saya ingin mengeksplorasi pekerjaan apa yang memberi saya energi dan makna, dan mengidentifikasi satu langkah kecil menuju hal yang lebih banyak seperti itu”.

3. Antisipasi kambuh, jangan menunggu sempurna

Banyak resolusi runtuh bukan karena tujuan terlalu sulit, melainkan karena tidak ada rencana saat kondisi tidak ideal.

Wilson menyebut, sebagian orang hanya membuat rencana untuk versi terbaik dari diri mereka sendiri.

“Mereka tidak siap untuk begadang atau menjalani hari kerja yang berat, dan pada saat itu mereka tidak memiliki rencana untuk dipraktikkan,” katanya.

Ia menekankan bahwa kekambuhan adalah bagian wajar dari proses perubahan.

Kegagalan sesaat bukan tanda menyerah, karena ketekunan jauh lebih penting dibanding kesempurnaan.

Dr. Kaye mengingatkan bahwa tujuan utama bukanlah menjadi sempurna, melainkan mencegah satu kesalahan kecil berkembang menjadi pengabaian total terhadap rencana.

Jika terjadi pelanggaran, respons terbaik adalah rasa ingin tahu, bukan kritik terhadap diri sendiri.

Alih-alih menunggu minggu depan atau bulan depan, setiap hari bisa dijadikan kesempatan untuk memulai kembali.

4. Susun kebiasaan agar mudah dilakukan

Pelatih karier Emma Jefferys menyarankan teknik “penumpukan kebiasaan”, yakni mengaitkan perilaku baru dengan rutinitas yang sudah mapan.

“Setelah saya menyikat gigi, saya akan melakukan sepuluh push-up. Setelah saya menuangkan anggur, saya akan menulis selama sepuluh menit. Setelah saya menidurkan anak-anak saya, saya akan melakukan peregangan,” ujarnya.

Menurut Jefferys, cara ini tidak menambah beban, melainkan menyelipkan kebiasaan baru ke dalam struktur yang sudah ada.

Selain itu, menata lingkungan agar mendukung tujuan juga sangat membantu.

“Jika Anda ingin membaca lebih banyak, simpan buku itu di atas bantal Anda sehingga Anda harus memindahkannya sebelum tidur,” katanya.

5. Kaitkan resolusi dengan hal positif

Resolusi yang bernuansa positif cenderung lebih bertahan lama.

Dalam konteks keuangan, misalnya, menabung akan terasa lebih bermakna jika dikaitkan dengan tujuan yang jelas.

“Memiliki tujuan yang jelas dan menarik, baik itu liburan atau dana darurat, membuat menabung terasa bermakna dan bukan sebagai beban,” kata Tom Francis, kepala keuangan pribadi di Octopus Money.

Ia juga mengingatkan agar tidak mengubah terlalu banyak hal sekaligus.

“Pilihlah hanya dua atau tiga prioritas yang jelas,” katanya.

Target besar bisa dipecah menjadi langkah kecil, seperti menabung 100 euro per bulan (sekitar Rp 1,9 juta) alih-alih membebani diri dengan angka tahunan yang terasa berat.

Jika kondisi tidak memungkinkan, memperlambat laju bukan berarti gagal.

“Mengurangi tabungan bulanan dari 100 euro menjadi 20 euro misalnya, tetap berarti Anda sedang bergerak maju dan yang terpenting adalah menjaga kebiasaan itu tetap hidup,” ujar Francis.

Apa yang membuat resolusi tahun baru lebih mudah dijalani?

Dilansir dari Vogue, Sabtu (27/12/2025), resolusi tahun baru kerap gagal bukan karena kurangnya niat, melainkan karena target yang terlalu besar dan tidak realistis.

Para pakar kesehatan mental dan pengembangan diri menilai, resolusi yang efektif justru berangkat dari langkah kecil, konsisten, dan relevan dengan keseharian.

1. Mulai dari tujuan yang masuk akal

Psikoterapis integratif Jenny Mahlum menjelaskan, banyak orang kesulitan mempertahankan resolusi karena targetnya terlalu luas atau ambisius.

Perubahan, menurutnya, bukan soal transformasi instan, melainkan membangun fondasi secara bertahap.

Langkah kecil yang bisa dilakukan setiap hari dinilai lebih efektif daripada target besar yang berisiko membuat cepat lelah.

2. Fokus pada langkah kecil dan berkelanjutan

Alih-alih berjanji melakukan perubahan besar sekaligus, para ahli menyarankan memecah tujuan menjadi tindakan sederhana.

Kebiasaan kecil yang mudah dicapai akan menciptakan rasa berhasil dan memicu momentum positif.

Setelah rutinitas terbentuk, intensitas dapat ditingkatkan secara perlahan tanpa tekanan berlebih.

3. Jangan terlalu banyak menetapkan resolusi

Pelatih kesehatan Thalia-Maria Tourikis menyarankan agar resolusi dibatasi hanya tiga hingga lima tujuan.

Daftar yang terlalu panjang justru berisiko menurunkan konsistensi dan memicu kelelahan mental.

Resolusi yang sedikit namun jelas dinilai lebih mudah dijaga sepanjang tahun.

4. Tulis resolusi agar lebih konsisten

Menuliskan resolusi, terutama dengan tangan, dipercaya dapat meningkatkan komitmen.

Aktivitas ini membantu memperjelas niat, memperkuat akuntabilitas, sekaligus memberi kepuasan saat tujuan-tujuan kecil berhasil dicapai.

5. Pahami alasan di balik resolusi

Pakar pengembangan diri Liz Moody menekankan pentingnya memiliki alasan yang kuat. Resolusi yang hanya didorong tekanan sosial cenderung sulit dipertahankan.

Sebaliknya, tujuan yang berangkat dari dampak nyata seperti kesehatan mental, kualitas tidur, atau energi harian akan menjadi motivasi jangka panjang.

6. Utamakan nilai, bukan sekadar target

Psikolog Marwa Azab menyebut, resolusi akan lebih bertahan jika selaras dengan nilai hidup.

Nilai seperti kejujuran, rasa syukur, atau kepedulian lebih mudah dijaga dibandingkan target kaku.

Ketika resolusi berakar pada nilai, kegagalan sesaat tidak langsung dianggap sebagai akhir.

7. Dengarkan kebutuhan diri sendiri

Psikiater Ellen Vora mengingatkan bahwa resolusi sering gagal karena bertentangan dengan kebutuhan tubuh dan batin.

Mendengarkan intuisi dinilai penting agar resolusi tidak berubah menjadi tekanan. Fleksibilitas dalam bergerak, beristirahat, dan merawat diri justru membantu menjaga keberlanjutan.

8. Libatkan lingkungan dan dukungan sosial

Dukungan sosial juga berperan besar dalam keberhasilan resolusi. Berbagi tujuan dengan komunitas, teman, atau kelompok minat dapat meningkatkan rasa tanggung jawab sekaligus memberi motivasi tambahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *