Oleh: I Putu Yoga Bumi Pradana
Wakil Sekretaris Parisadha Hindu Dharma Provinsi NTT, Demisioner Ketua Pemuda Hindu Provinsi NTT.
PasarModern.com Natal di Nusa Tenggara Timur ( NTT) selalu datang dengan cara yang khas.
Ia tidak turun dalam keheningan yang dingin, melainkan bersama hujan pertama yang membasahi tanah kering, bersama bunga pohon sepe yang bermekaran di halaman-halaman rumah, bersama udara yang sonde panas lai, sejuk dan menenangkan.
Natal di Kupang dan sekitarnya adalah musim keceriaan bersama, ketika alam dan manusia seolah sepakat untuk berdamai.
Di saat yang sama, Indonesia sedang berada dalam masa ujian panjang. Bencana alam kian sering terjadi, krisis iklim menekan daerah-daerah rentan, dan persoalan sosial belum benar-benar surut.
BNPB (2023–2024) mencatat ribuan kejadian bencana setiap tahun, dengan kekeringan dan banjir sebagai ancaman utama.
NTT, dengan sejarah panjang keterbatasan air dan akses, berdiri di garis depan ujian itu.
Namun Natal mengajarkan sesuatu yang penting: harapan tidak menunggu situasi ideal.
Ia tumbuh justru ketika hidup berat. Seperti dikatakan Mahatma Gandhi, iman sejati selalu berpihak pada kasih dan kemanusiaan.
Di NTT, kasih itu tidak berisik; ia hadir dalam kebiasaan hidup bersama, dalam rasa basodara yang nyata.
Air Tengah Malam, Kunjung-Mengunjungi, dan Etika Hidup Orang Kupang
Saya bukan orang NTT secara etnis.
Saya berasal dari Bali dan beragama Hindu. Namun hidup saya ditempa di tanah ini.
Saya lahir di Kupang, mengenyam pendidikan di SD Inpres Oeba 1, SD Negeri Waingapu 2 di Sumba Timur, lalu SMP Negeri 1 Kupang, SMA Negeri 1 Kupang, hingga menjadi sarjana di FISIP Universitas Nusa Cendana.
Saya dibesarkan di Asrama Polisi Lasikode, Jalan Nangka, di lingkungan sederhana yang kaya pelajaran hidup.
Salah satu ingatan paling kuat saya adalah soal air. Dulu hanya ada satu pipa ledeng untuk enam rumah. Air datang diam-diam di tengah malam.
Begitu bunyi air terdengar, orang-orang keluar rumah sambil meneriakkan, “Nomor satu! Nomor dua! Nomor tiga!” – tanda giliran menimba.
Tidak ada yang saling sikut. Semua tahu aturan tak tertulis. Drum, jeriken, dan bak air terisi perlahan. Capek, iya. Tetapi hati hangat, karena katong tidak sendiri.
Dari situ saya belajar prinsip hidup orang Timor: sama rasa, sama bagi.
Nilai itu hidup dalam ungkapan yang sering kami dengar dan hidupi: bae sonde bae, tanah Timor lebe bae – baik tidak baik, tanah Timor tetap lebih baik.
Rumah bersama lebih penting daripada kepentingan diri. Seperti kata Martin Luther King Jr., kegelapan tidak bisa diusir dengan kegelapan; hanya cahaya yang bisa melakukannya.
Di Lasikode, cahaya itu bernama giliran, kesabaran, dan rasa malu jika mengambil lebih dari hak sendiri.
Nilai itu tampak paling terang saat Natal dan Tahun Baru di Kupang. Ada tradisi saling kunjung-mengunjungi, bae-bae rumah, saling mampir, saling sapa. Tidak penting apa agamanya; yang penting katong satu kampung.
Pintu rumah terbuka, meja dipanjangkan, kopi dan kue sederhana dibagi. Orang bilang, “Mari maso, jang malu”. Tradisi ini bukan basa-basi. Ia adalah perekat sosial yang nyata, dan harus terus dipupuk dan dirawat.
Sebagai penganut Hindu yang dibesarkan di lingkungan mayoritas Kristen dan Katolik, saya tidak pernah merasa sebagai orang luar. Natal selalu menjadi perayaan bersama.
Gereja, pura, dan masjid berdiri berdampingan sebagai penanda bahwa iman bisa hidup tanpa saling mencurigai. Ini adalah pembelajaran lintas budaya dan iman yang tidak semua daerah miliki.
Merawat Natal, Merawat Rumah Bersama Flobamorata
Pengalaman hidup di NTT mengajarkan saya bahwa toleransi bukan slogan. Ia adalah kebiasaan. Ia hidup dalam kunjungan kecil, dalam sapaan tulus, dalam kesediaan berbagi saat susah.
Ini mengajarkan pada saya bahwa modal persaudaraan lintas iman adalah kekuatan yang tak ternilai.
Karena itu, tulisan ini juga adalah ucapan selamat dan terima kasih. Dari saya, seorang anak Bali, umat Hindu, yang lahir dan dibesarkan di NTT, kepada saudara-saudaraku umat Kristiani: Selamat Natal dan Tahun Baru. Terima kasih karena telah menjadikan iman sebagai ruang berbagi, bukan pagar pemisah.
Terima kasih kepada Flobamorata – Flores, Sumba, Timor, Alor, Lembata, Rote, Sabu, yang telah menjadi rumah bersama yang indah bagi semua etnis dan agama.
Rumah yang membesarkan saya bukan hanya dengan sekolah dan ijazah, tetapi dengan nilai hidup: saling jaga, saling kunjung, saling menghormati.
Seperti ditegaskan Desmond Tutu, kemanusiaan kita terikat satu sama lain, adalah fondasi damai yang sejati.
Natal mengajarkan kita melewati ujian dengan kasih; Tahun Baru mengajak kita merawat harapan dengan kerja bersama.
Semoga hujan Natal terus turun, bunga sepe terus bermekaran, dan tradisi saling mengunjungi tetap hidup.
Dan semoga bae sonde bae, tanah Timor lebe bae terus menjadi jiwa yang menjaga NTT sebagai rumah bersama hari ini, esok, dan seterusnya. (*)
Simak terus berita PasarModern.comdi Google News


