Musim Hujan Datang, Orang Sasak Menyusun Sehatnya Sendiri

Posted on

Musim hujan di Lombok selalu datang bersama perubahan ritme hidup masyarakat desa Sasak, yang tidak hanya menyesuaikan jadwal kerja dan tanam, tetapi juga menata ulang cara menjaga kesehatan keluarga secara kolektif dan tradisional. 

Bagi orang Sasak Lombok, hujan bukan semata peristiwa cuaca, melainkan penanda kewaspadaan tubuh dan lingkungan, sebab udara lembap, genangan air, serta perubahan suhu sering menghadirkan penyakit yang datang perlahan namun menggerogoti. 

Di desa-desa, kesiapsiagaan menghadapi musim hujan jarang dibicarakan dengan istilah medis modern, tetapi hadir dalam praktik harian yang diwariskan orang tua, dijalani tanpa slogan, dan terbukti menjaga tubuh tetap bertahan.

Pagi hari yang basah sering diawali dengan ineman jahe, air jahe rebus hangat yang diminum perlahan, bukan sekadar menghangatkan tubuh, tetapi juga menanamkan keyakinan bahwa alam menyediakan penangkal bagi dingin dan penyakit.

Di dapur kayu yang disebut paon, perempuan Sasak menyiapkan kunyit, temulawak, atau lempuyang, diramu sederhana dengan madu, menjadi minuman penjaga stamina yang diminum tanpa takaran pasti, hanya berdasarkan rasa dan pengalaman.

Makanan pun diatur ulang, tidak berlebihan, tidak pula dingin, dengan sayur bening daun kelor, keladi, atau bayam, serta ikan rebus atau pindang, menjaga tubuh tetap ringan dan tidak mudah terserang demam.

Umbi-umbian seperti singkong, ubi, dan jagung kembali mendapat tempat penting, bukan sekadar pengganjal perut, tetapi sumber energi yang dipercaya membuat badan lebih tahan terhadap udara lembap dan hujan berkepanjangan.

Selepas kehujanan, orang tua akan memastikan anak-anak tidak langsung tidur, melainkan mengeringkan badan di paon, membiarkan hangat api kayu menyerap dingin, sebuah kebiasaan sederhana yang sarat makna pencegahan.

Minyak kelapa buatan sendiri, dikenal sebagai minyak klentik, dioleskan ke dada dan punggung, kadang dicampur bawang merah, menjadi penghangat alami yang diwariskan lintas generasi tanpa pernah dicatat dalam buku panduan.

Rumah pun diperlakukan sebagai bagian dari tubuh, sehingga halaman disapu setiap pagi, kolong rumah panggung dibersihkan, dan pasir atau abu dapur ditebarkan di tanah becek agar kelembapan tidak menetap terlalu lama.

Kasur kapuk, tikar pandan, dan bantal dijemur saat matahari muncul, meski sebentar, karena cahaya diyakini membersihkan bau lembap dan mencegah penyakit kulit yang sering muncul di musim hujan.

Nyamuk, musuh laten musim hujan, dihadapi dengan cara alami, seperti membakar daun kelapa kering, serai, atau kulit jeruk pada sore hari, menciptakan asap tipis yang mengusir tanpa meracuni udara rumah.

Di pekarangan, sereh, pandan, dan kemangi ditanam bukan sekadar bumbu dapur, melainkan pagar alami penolak serangga, sekaligus simbol keterhubungan antara kesehatan keluarga dan tata kelola ruang hidup desa.

Tempayan air ditutup rapat dengan papan atau anyaman bambu, kebiasaan lama yang kini terasa semakin relevan, karena orang desa memahami bahwa air yang dibiarkan terbuka bisa menjadi sumber penyakit.

Anak-anak dan orang tua mendapat perhatian khusus, dengan baluran minyak hangat sebelum tidur, minuman jahe atau gula aren, serta pembatasan bermain hujan, sebuah disiplin lembut yang dijaga dengan kasih.

Jika demam atau batuk muncul, warga tidak menunggu parah, sebab pengalaman mengajarkan bahwa keterlambatan adalah awal dari masalah panjang, sehingga pengobatan tradisional segera dilakukan sambil memantau perkembangan.

Namun kesehatan di desa Sasak tidak pernah berdiri sendiri, sebab ia selalu terkait dengan orang lain, dengan tetangga, keluarga besar, dan komunitas yang saling mengawasi tanpa kesan menggurui.

Gotong royong membersihkan kampung menjelang dan selama musim hujan menjadi ritual sosial, membersihkan selokan, halaman, dan jalan setapak, sambil bertukar kabar tentang siapa yang sedang kurang sehat.

Tradisi besiru, saling membantu tanpa diminta, hidup dalam bentuk kunjungan kepada warga sakit, membawa makanan hangat atau sekadar menemani, karena kehadiran diyakini mempercepat pemulihan.

Di santren (mushalla), doa dan selawat dilantunkan bersama, memohon keselamatan dari penyakit dan bencana, mengingatkan bahwa kesehatan tidak hanya urusan tubuh, tetapi juga batin dan hubungan dengan Sang Pencipta.

Apa yang dilakukan orang Sasak ini mungkin tampak sederhana, bahkan kuno, tetapi justru di situlah kekuatannya, karena ia tumbuh dari pengalaman panjang beradaptasi dengan alam yang tidak selalu ramah.

Dalam konteks modern, praktik-praktik ini sering dipinggirkan, dianggap tidak ilmiah, padahal banyak di antaranya sejalan dengan prinsip pencegahan kesehatan yang kini digalakkan secara global.

Lebih dari sekadar daftar kebiasaan, cara orang Sasak menghadapi musim hujan adalah sistem pengetahuan lokal yang hidup, lentur, dan terus disesuaikan dengan perubahan zaman tanpa kehilangan akarnya.

Di tengah ancaman penyakit berbasis iklim yang kian meningkat, kearifan semacam ini seharusnya tidak dilihat sebagai romantisme masa lalu, melainkan sebagai sumber pembelajaran bagi pendekatan kesehatan berbasis komunitas.

Desa Sasak mengajarkan bahwa sehat tidak selalu dimulai dari fasilitas canggih, tetapi dari perhatian pada tubuh, lingkungan, dan sesama, yang dijalani konsisten, hari demi hari, tanpa banyak bicara.

Ketika hujan turun deras di Lombok, orang desa tidak panik, karena mereka telah menyusun sehatnya sendiri, jauh sebelum istilah checklist populer, melalui kebiasaan kecil yang dijaga dengan kesadaran kolektif.

Barangkali di situlah makna sejati kesiapsiagaan, bukan pada kecanggihan sistem, melainkan pada kemampuan masyarakat membaca alam, merawat tubuh, dan saling menjaga, dengan cara yang paling mereka pahami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *