Puisi-puisi karya Albertus Muda Atun

Posted on

Senja Akan Berlalu

Seperti kuncup bunga yang perlahan kehilangan warna

ketika matahari mengasah panasnya di punggung hari,

demikian pula perjalanan manusia.

Ia mekar sebentar, menjadi harum sejenak,

lalu menyerah pada musim yang memanggilnya kembali.

Seperti senja yang menggeser dirinya dari ufuk ke ufuk,

demikianlah langkah hidup yang selalu dirundung bayang kematian;

ada saat ketika jejak berhenti,

pada titik yang diguratkan tangan Sang Pencipta

jauh sebelum kita belajar mengeja kata esok.

Hidup akan menjadi padang retak dan sunyi,

bila lupa disiram firman-Nya,

bila jiwa membiarkan angin dunia

menjadikan hatinya tanah gugur tanpa benih.

Sebab hidup bukan hanya pesta bunga

yang cepat gugur di taman fana;

ia rindu dirawat, diarahkan,

agar tumbuh menuju Taman Ilahi

di mana setiap kelopak menjadi doa,

setiap buah menjadi syukur

ketika disinari firman-Nya yang tak pernah layu.

Waikomo–Lembata, 10 Desember 2025

Jembatan Perjanjian

Di padang gurun, ketika sunyi menjelma ruang tanpa tepi,

terdengar sebuah suara yang menembus jauh

hingga ke batu paling beku dalam hati manusia.

Suara itu memanggil dengan kelembutan yang menggetarkan,

menarik jiwa untuk berjalan pelan-pelan

menuju cahaya yang menunggu di ambang kata pertobatan.

Ia bukan sekadar gema yang berserak di udara,

melainkan nyala yang tumbuh dari inti batin,

api yang membersihkan, memurnikan,

hingga jiwa bening kembali

serupa embun yang pertama kali dicium matahari.

Di ambang gerbang Kerajaan, ia berdiri

seperti penjaga fajar yang tak pernah lelah menunggu cahaya.

Ia menyapa domba-domba yang pernah tersesat,

mengulurkan lengan pulang

ke kandang damai yang diam-diam selalu mereka rindukan.

Suaranya oh, suaranya!

menggoyahkan hati seperti badai yang meruntuhkan topeng-topeng rapuh.

Seluruh hidupnya terbakar menjadi kesetiaan,

meleburkan dirinya dalam pengabdian tanpa syarat,

menjadikannya martir yang tubuhnya mungkin ringkih,

namun cahayanya tak pernah padam sedetik pun.

Ia pun menjadi jembatan perjanjian,

tempat langkah manusia berpapasan dengan jejak Sabda Ilahi yang menghidupkan.

Di jembatan itu, suara Roh berdesir lembut dan suara batin berlutut dalam kekaguman.

Menjadi jembatan perjanjian

adalah menjadi pelita yang berpendar di tengah angin dunia,

berani menyala ketika dunia memaksa redup,

berdiri tegak ketika arus menuntut keseragaman

agar cahaya tetap menjadi cahaya,

tak kehilangan bentuk, tak kehilangan makna.

Waikomo–Lembata, 11 Desember 2025

Kasih yang Terluka

Engkau yang bersemayam di lengkung langit tak terjangkau,

mengalirkan kasih-Mu seperti sungai abadi

yang membasuh noda jiwaku

dan menegakkanku kembali sebagai anak-Mu.

Kasih-Mu menuntun langkahku

agar aku tak tersesat di jalan dunia

dan tetap menuju kebebasan rohani

yang lebih luas dari cakrawala.

Namun aku sering menolak panggilan-Mu,

membiarkan hatiku keras

dan melihat perintah-Mu sebagai beban,

bukan cahaya yang menyembuhkan.

Kini aku merindukan damai-Mu,

damai yang terguncang oleh ketidaksetiaanku sendiri.

Bukalah pintu berkat-Mu, Tuhan,

bimbinglah aku dengan Roh-Mu

agar imanku kembali menjadi batu karang.

Engkau memanggilku pulang

ke kasih-Mu yang pernah kulukai,

namun tetap terbuka seluas langit

bagi jiwa yang ingin kembali.

Lamahora–Lembata, 12 Desember 2025

Menampilkan Wajah Allah

Pepohonan berbuah mewartakan kasih,

bunga-bunga mekar menjadi doa tanpa suara,

dan senyum bayi adalah matahari

yang menyingkap wajah Allah di pagi dunia.

Namun bumi merintih dalam luka,

sebab manusia menukar kebenaran dengan dusta,

memajang ketidakadilan

dan menyingkirkan Allah dari denyut hidupnya.

Ciptaan dibarui oleh rahmat,

namun hancur oleh tangan yang lupa bersyukur;

manusia dibasuh kasih dari dalam,

tetapi dikhianati zaman dari luar.

Padahal Allah berdiam dalam tubuh yang terluka:

pada yang buta, lumpuh, tersingkir, dan dibangkitkan.

Namun kita lupa

bahwa keselamatan pernah menyentuh kita.

Mari menampilkan wajah Allah

sebelum senja kehilangan cahaya;

wajah yang menyelamatkan, bukan menghakimi,

sebab dalam mata sesama,

kita sedang memandang

wajah-Nya sendiri.

Waikomo-Lembata, 13 Desember 2025

Ujilah Kesabaran

Awan menenun nubuat hujan

yang memikul rahasia langit,

tanah membuka rahimnya

menyusui rerumputan dengan air kesabaran.

Petani menggantungkan doa pada cakrawala,

sementara jerit orang miskin

menggetarkan takhta Allah.

Ujilah kesabaranmu

sebab hujan tak sekadar jatuh,

ia adalah rahmat yang membasuh luka zaman.

Rerumputan liar di ladang jiwa

harus dicabut hingga ke akar keangkuhan,

agar berkat Allah

mengalir seperti sungai tanpa muara,

melimpah hingga kekal.

Ujilah kesabaranmu

Sebab penderitaan bukan malam abadi.

Sejak para nabi hingga Sang Sabda menjelma,

derita menjadi jalan sunyi menuju terang.

Ia yang pernah dilukai salib kini berdiri sebagai Hakim sejarah,

menimbang dunia dengan timbangan kasih dan keadilan.

Ujilah kesabaranmu

sebab sukacita telah bersemi di nadimu.

Jangan menutup mata pada terang yang kau hirup,

jangan berpura-pura tuli pada nyanyian rahmat yang memanggil pulang.

Bersoraklah dengan pertobatan,

sebab kerahiman-Nya telah menutupi bumi

seperti samudra menelan batas-batas pantai.

Waikomo–Lembata, 14 Desember 2025

Rahmat di Tengah Dosa

Hidup berputar dalam roda sejarah

seperti bumi yang letih menanggung luka,

setiap langkah tertinggal jejak retak,

tak satu pun perjalanan benar-benar suci.

Nafsu dunia menggerogoti sumsum nurani,

namun di sela reruntuhan itu

Engkau menaburkan rahmat

laksana benih cahaya di ladang kematian.

Ada kisah luka yang berteriak tanpa suara,

keadilan yang disalibkan di alun-alun sunyi;

ada hidup yang menyimpang,

jiwa-jiwa yang diasingkan dari pelukan kemanusiaan.

Ada singgasana kuasa yang mabuk darah dan pujian,

wewenang yang menjelma berhala

dan menelan martabat sesama.

Namun syukur tak pernah padam di hadapan-Mu, ya Allah,

sebab Engkau tak pernah mencabut rahmat

meski kami mencabik janji.

Engkau menulis keselamatan

dengan tinta sejarah yang bengkok,

menyulam terang dari benang dosa kami.

Kesalahan kami tak pernah lebih besar dari kesetiaan kasih-Mu.

Janji yang lama berdiam dalam rahim waktu,

kini menjelma daging dan bernapas di tengah kami.

Sejarah yang lahir dari kerapuhan dan air mata,

Engkau ubah menjadi jalan keselamatan.

Kami yang cuma debu di telapak kaki-Mu,

kini diangkat menjadi anak-anak Allah,

bukan karena layak,

melainkan karena dikasihi.

Engkau hadir dalam hidup kami yang berantakan,

di tengah puing-puing masa lalu yang hitam dan berbau.

Kristus menebus malam kami

dengan fajar dari luka salib-Nya.

Kami yang lari dari wajah-Mu

Kau kejar dengan kasih yang tak mengenal lelah,

Kau panggil kembali

untuk berjumpa dengan-Mu

dalam Sabda yang menjadi manusia.

Kini kami berbenah,

menanggalkan kesombongan dan topeng kesalehan,

melangkah pulang dengan hati remuk,

menuju rahmat yang selalu menunggu.

Waikomo–Lembata, 16 Desember 2025

Memancarkan Cahaya Tuhan

Ketika mata yang buta

melihat dengan jantung nurani,

mata yang sempurna justru membatu,

menajamkan sinis seperti kaca retak.

Ketika telinga yang tuli

mendengar dengan palung jiwa,

yang merasa utuh menutup diri,

berpaling pongah, seolah suara kasih

tak layak singgah di dadanya.

Cahaya Tuhan jatuh tanpa pilih,

seperti hujan yang tak menghitung atap.

Ia menyapa yang buta dan tuli,

sementara yang mengaku melihat

menyaring terang sesuai selera ego.

Di manakah wajah Tuhan berdiam?

Pada kesalehan yang bermahkota angkuh,

atau pada luka-luka yang bersujud sunyi

di tubuh orang miskin dan tersingkir?

Tuhan menjelma di setiap insan,

terutama pada mereka yang dilupakan jalan dan ditolak pintu.

Marilah memantulkan wajah-Nya dengan hidup yang rendah hati,

sebab yang buta dan tuli pun mampumenjadi matahari

bagi dunia yang kehilangan terang.

Waikomo–Lembata, 17 Desember 2025

* Albertus Muda Atun adalah seorang guru, aktivis dan penulis. Menempuh pendidikan di SDI Ataili (1987-1993), SMPK APPIS Lamalera-Lembata (1993-1996), SMA Seminari San Dominggo Hokeng-Flores Timur (1996-2000), Diploma Dua (D2) di STP-IPI Malang Filial

Jayapura (2005-2007), Sarjana di STP-IPI Malang (2009-2011).

Pernah bekerja sebagai Redaktur Pelaksana Tabloid SMANDU STAR (2014-2016), Redaktur Pelaksana Tabloid Suara Guru Lembata (2016-2017), Wartawan Majalah Pendidikan Cakrawala NTT Wilayah Lembata (2016-2018), Wartawan Media Online Warta Pendidikan

(2019-2020).

Menulis opini dan puisi di beberapa media lokal dan nasional seperti Pos Kupang, Victory News, Timor Express, Flores Pos, Cenderawasih Pos, Media Pendidikan Cakrawala NTT, Warta Flobamora, mediaindonesia.com, wartapendidikan.com, kupang.tribunnews.com,

odiyaiwuu.com, sekolahtimurcom, victorynews.com, berandanegeri.com, papuabangkit.com, ekorantt.com, aksinews.id, dan radarntt.net.

Pernah mendedikasikan diri sebagai guru honorer di SMA Negeri 2 Nubatukan (2014- 2024), Penyuluh Agama Non PNS di Kantor Kemenag Kabupaten Lembata (2019-2021). 

Saat ini mendedikasikan diri sebagai guru ASN di SMAS Keberbakatan Olahraga San Bernardino Lewoleba-Lembata. Dapat dihubungi melalui email: mudaalbertus@gmail.com. (*)

Simak terus berita PasarModern.comdi Google News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *