Banjir Sumatera tewaskan 1.003 orang, 218 jiwa belum ditemukan, Presiden Prabowo minta maaf

Posted on

Ringkasan Berita:

  • Bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumut, Sumsel menewaskan 1.003 orang, dengan ratusan korban masih hilang serta ribuan lainnya luka-luka, disertai kerusakan besar pada fasilitas umum. 
  • Presiden Prabowo meninjau langsung wilayah terdampak, meminta maaf atas keterbatasan penanganan, serta menegaskan komitmen pemerintah mempercepat pemulihan, pemenuhan logistik, dan pemulangan anak-anak ke sekolah.
  • Pascabencana, warga terutama di Aceh Tamiang menghadapi ancaman ISPA akibat debu lumpur kering.

PasarModern.com – Bencana banjir dan longsor di Sumatera, meliputi Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Aceh menyebabkan 1.003 orang meninggal hingga Sabtu (13/12). 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan, bahwa korban tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor di tiga provinsi, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan, sudah tembus lebih dari 1.000 jiwa.

Data Dashboard Penanganan Darurat Banjir dan Longsor Sumatera Tahun 2025 yang tertulis di situs Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana (Pusdatin BNPB) mencatat 1.003 warga meninggal dunia.

“Rekapitulasi terdampak bencana, meninggal dunia 1.003 jiwa, terakhir diperbarui pada 14 Desember 2025,” tulis data Pusdatin BNPB, dilihat Kompas.com, Sabtu (13/12) pukul 15.00 WIB.

Dari jumlah korban meninggal dunia berdasarkan kabupaten/kota paling banyak tercatat di Kabupaten Agam, Provinsi Aceh, mencapai 184 jiwa.

“Korban hilang masih mencapai 218 jiwa, dan korban yang luka-luka mencapai 5.400 jiwa,” tulis data Pusdatin BNPB.

Data bencana juga menunjukkan bahwa bencana ini juga mengakibatkan fasilitas umum rusak parah.

“Fasilitas umum ada 1.200 yang rusak, 581 fasilitas pendidikan rusak, rumah ibadah 434 unit, fasilitas kesehatan 219 unit, 290 kantor rusak, dan kerusakan 145 jembatan,” tulis data Pusdatin BNPB.

Prabowo Minta Maaf

Pada Jumat (12/12) kemarin, Presiden Prabowo Subianto juga sudah berkunjung ke Aceh Tamiang, Takengon, dan Bener Meriah di Aceh yang turut dilanda bencana.

Dalam kunjungannya itu, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah bekerja keras menangani bencana di Sumatera serta mengawal pemulihan pascabencana.

Ia pun meminta maaf jika ada berbagai hal yang belum tertangani secara sempurna.

“Saya minta maaf kalau masih ada yang belum (tertangani). Kita sedang bekerja keras. Kita tahu kondisi di lapangan sangat sulit, jadi kita atasi bersama-sama. Mudah-mudahan kalian cepat pulih dan cepat kembali normal,” kata Prabowo.

Kepala Negara juga berjanji mengawal proses pemulihan pascabencana agar anak-anak dapat segera kembali bersekolah.

“Pesan saya, anak-anak harus tabah dan tetap semangat. Kita akan bergerak cepat supaya anak-anak bisa cepat kembali sekolah,” kata Prabowo.

Lebih lanjut Presiden Prabowo Subianto menyatakan, situasi pascabencana di Sumatera terkendali dan para pengungsi pun terlayani dengan baik, meski ada keterlambatan akibat faktor alam.

Hal ini disampaikan Prabowo setelah mengakhiri kunjungannya ke Aceh dan Sumatera Utara untuk meninjau kondisi para pengungsi seusai bencana banjir dan longsor.

“Saya lihat keadaan terkendali, saya cek terus sana sini memang keadaan alam, keadaan fisik, ada keterlambatan sedikit. Tapi saya cek semua ke tempat pengungsi kondisi mereka baik, pelayanan pada mereka baik, suplai pangan cukup,” kata Prabowo di Pangkalan Udara Soewondo, Medan, Sabtu (13/12).

Ia mencontohkan, Kabupaten Aceh Tamiang yang disebut terisolasi kini sudah bisa diakses dari Medan.

Akses menuju Takengon dan Bener Meriah juga terus diupayakan untuk dibuka.

“Jadi saya ucapkan terima kasih kepada semua petugas, luar biasa pekerjaan mereka,” kata Prabowo.

Presiden Prabowo tidak memungkiri bahwa penyaluran listrik ke sejumlah daerah terdampak bencana tidak secepat yang diharapkan.

Ia menyebutkan, ada kendala geografis dan banjir yang membuat sarana dan prasarana kelistrikan tidak bisa diangkut ke daerah-daerah tertentu.

“Insya Allah kita harapkan ya mungkin satu minggu mudah-mudahan ya, tapi jangan kita terlalu berharap semua bisa sekejap. Saya sudah katakan berkali-kali, saya tidak punya tongkat Nabi Musa tapi semua bekerja keras,” ujar Prabowo.

Diketahui, Prabowo berkeliling ke sejumlah titik bencana sejak Jumat (12/12) kemarin hingga Sabtu hari ini.

Pada Jumat kemarin, Prabowo berkunjung ke Aceh Tamiang, Takengon, dan Bener Meriah di Aceh, lalu ia mendatangi Langkat di Sumatera Utara pada Sabtu hari ini.

Ditangani Secepatnya

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) memastikan proses penanganan terhadap masyarakat terdampak bencana di Sumatera dapat berjalan secepatnya dan maksimal.

Hal ini disampaikan Prasetyo usai mendampingi kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto selama dua hari ke wilayah terdampak bencana, di Pangkalan Udara Soewondo, Medan, Sabtu (13/12).

“Memastikan bahwa proses penanganan terhadap wilayah dan saudara-saudara kita yang mengalami musibah beberapa hari yang lalu dapat tertangani dengan secepat-cepatnya,” ujar Prasetyo, Sabtu.

Prasetyo juga melaporkan perkembangan dalam penanganan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Ia memastikan bahwa seluruh wilayah terdampak sudah bisa terjangkau oleh tim bantuan dan logistik.

“Kebutuhan pangan mencukupi. Kemudian kebutuhan terhadap pakaian, obat-obatan, juga semua selalu diupayakan. Termasuk air bersih di Tamiang terus menerus kita lakukan perkuatan. Hampir seluruh rumah sakit juga sudah berfungsi meskipun belum seoptimal yang seharusnya,” jelas Prasetyo.

Tidak lupa, ia menyampaikan bahwa Prabowo mengapresiasi penanganan bencana yang dilakukan semua pihak terkait.

“Sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu, bekerja keras, seperti TNI, Polri, BNPB, Basarnas, Pemprov, Pemkab, relawan-relawan. Juga bantuan dari seluruh masyarakat Indonesia baik perusahaan atau perorangan. Seperti yang disampaikan selalu oleh Bapak

Presiden, kebersamaan kita, kegotongroyongan kita,” ungkap Prasetyo.

ISPA Ancam Warga

Banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh Tamiang menyisakan persoalan baru bagi warga.

Setelah air surut, debu dari lumpur yang mengering kini beterbangan dan memicu meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tengah proses pemulihan pascabencana.

Pantauan Kompas.com, Sabtu (13/12), di sepanjang jalan dan kawasan permukiman Aceh Tamiang, debu beterbangan akibat embusan angin serta lalu lintas kendaraan.

Kondisi tersebut semakin terasa di tengah cuaca panas yang menyelimuti wilayah ini dalam beberapa hari terakhir.

Meski demikian, aktivitas warga tetap berlangsung.

Sejumlah warga terlihat membersihkan sisa lumpur di dalam rumah, mencuci pakaian serta peralatan rumah tangga yang kotor dan rusak akibat banjir.

Tidak sedikit pula warga yang memperbaiki kendaraan mereka yang sempat terendam dan dipenuhi lumpur.

Sebagian warga tampak mengenakan masker atau menutup hidung dan mulut dengan kain.

Namun, ada pula warga yang beraktivitas tanpa perlindungan di tengah debu yang beterbangan.

Kondisi itu pun berdampak pada kesehatan warga. Persoalan ISPA yang mulai menjangkit masyarakat pascabencana, menjadi salah satu penyebab meningkatnya jumlah kunjungan pelayanan kesehatan di RSUD Aceh Tamiang.

Sejak kembali beroperasi secara terbatas pada 9 dan 10 Desember 2025, RSUD Aceh Tamiang menerima banyak pasien yang mengeluhkan gangguan pernapasan.

Keluhan yang disampaikan warga umumnya berupa batuk, pilek, dan gangguan tenggorokan.

“Kalau yang untuk saat ini yang paling banyak itu yang datang itu keluhan-keluhan ISPA.”

“ISPA, batuk, gangguan saluran pernapasan atas, ya,” ujar Kasi Pelayanan Medis RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang, dr Rahmadsyah Putra, saat berbincang dengan Kompas.com, Sabtu (13/12/2025).

Menurut Rahmadsyah, kondisi lingkungan pascabencana sangat memengaruhi kesehatan warga.

Debu dari lumpur kering menjadi salah satu pemicu utama gangguan pernapasan.

“Kita tahu kan banyak debu sekarang, kan? Terus juga banyak keluhan-keluhan kulit. Kayak gatal-gatal,” kata dia.

Selain ISPA dan penyakit kulit, RSUD Aceh Tamiang juga melayani pasien dengan keluhan lain, termasuk pasien kontrol rutin penyakit kronis.

Di sisi lain, terdapat pula pasien yang mengalami luka akibat aktivitas pembersihan rumah.

“Kita juga melayani pasien-pasien yang lain, termasuk bedah, yang selama ini kan mereka kan kontrol rutin, misalnya jantung, saraf, dan lain-lain itu kita layani juga,” ungkap Rahmadsyah.

Di tengah keterbatasan fasilitas, warga diimbau lebih waspada saat beraktivitas pascabencana. 

Penggunaan masker penting untuk mencegah gangguan kesehatan.

“Jadi, makanya gunakan masker, kita untuk mencegah karena sesuai tadi kan, banyak keluhan yang batuk, pilek, dan sebagainya, karena tidak

menggunakan masker di jalan banyak debu,” kata Rahmadsyah.

Dia juga mengingatkan warga untuk menggunakan alas kaki saat membersihkan rumah yang masih dipenuhi lumpur.

Hal itu penting untuk mencegah luka dan infeksi.

“Nah, kalau sudah kondisinya kotor kan kita takut nanti infeksi seperti itu. Kan susah kita, kan? Karena kita secara, apa, kapasitas rumah sakit kan masih terbatas,” ujar dia.

Di depan IGD RSUD Aceh Tamiang, kecemasan juga dirasakan keluarga pasien.

Ibu Rum, salah seorang warga, menceritakan kondisi keluarganya yang harus dibawa berobat setelah mengalami keluhan pascabencana.

Dia berharap kondisi kesehatan keluarganya segera membaik di tengah situasi pascabencana yang masih menyisakan berbagai keterbatasan.

“Mama pikiran. Pusing dia bencana ini kan. Terus sesak. Enggak mau dibawa dari kemarin, akhirnya kami paksa tapi berontak dia,” kata Ibu Rum

singkat. 

Ikuti berita populer lainnya di saluran berikut: Channel WA, Facebook, X (Twitter), YouTube, Threads, Telegram 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *