Sejumlah kecamatan di Tapteng masih mati listrik, warga menderita krisis air bersih, sembako mahal

Posted on

Ringkasan Berita:Korban Banjir di Tapanuli Tengah Menderita Kesulitan Hidup  

  • Permasalahan krisis air bersih dan gas sulit didapat
  • Listrik di sejumlah kecamatan yang masih mati.
  • Harga bahan sembako dan pokok tinggi, stok sering kosong
  • Kondisi permukiman warga masih hancur amburadul.
  • Data BNPB: Jumlah pengungsi berada di angka 894.501 orang 

 

PasarModern.com– Penderitan masih mendera warga di Kabupaten Tapanuli Tengah pasca bencana banjir dan longsor di penghujung November lalu.

Warga masih menghadapi berbagai kesulitan untuk keberlangsungan hidupnya. 

Mulai dari permasalahan krisis air bersih,ekonomi, gas,  listrik  di sejumlah kecamatan yang masih mati, hingga harga bahan sembako dan pokok tinggi.

Pantauan Tribun Medan, di Kota Pandan dan Sibolga, pasar-pasar tradisional sudah mulai aktif berjualan.

Seperti di Pasar Kalangan Pandan yang terletak di Jalan Lintas Padangsidimpuan-Sibolga.

Seluruh pemilik kios di pasar ini, sudah mulai menjajakan jualannya.  

Hanya beberapa kios yang masih belum buka. 

Namun anehnya, pasar kalangan ini bisa dibilang cukup sepi pembeli.  

Padahal, sebelum bencana pasar Kalangan ini selalu ramai diserbu khususnya warga Kecamatan Pandan, dan Tukka.

Hal itu dikarenakan lokasi pasar ini dekat dengan dua kecamatan tersebut.

Selain itu, semua yang dijajakan oleh pedagang tidak seperti biasanya.

Hari ini tidak ada yang menjual ikan laut atau ikan sungai hanya ada yang menjual ikan teri dan asin. Tidak ada yang jual daging sapi. Padahal, pasar kalangan ini bisa dikatakan pasar tradisional yang cukup lengkap. 

Namun, seluruh pedagang bumbu giling diserbu warga.

Mereka lebih memilih membeli bumbu giling dibanding cabai. 

Hal itu dikatakan Seorang pedagang bumbu giling dan bahan makanan Idar (43) kepada Tribun Medan.

Menurut Idar, saat ini kondisi listrik di Tapteng pasca bencana belum 100 persen hidup secara merata.

Masih banyak kecamatan yang terdampak listriknya belum hidup hingga saat ini. 

Untuk itu, kata Idar mereka memilih membeli cabai giling.

 Sebab, jika listrik mati, mereka tetap bisa masak sambal tanpa blender.

“Pasca banjir ini harga sembako memang masih naik. Tapi enggak drastis kayak hari pertama bencana terjadi. Dan saat inj banyak warga yang membeli bumbu giling. Karena listrik masih mati hidup,” katanya saat ditemui Tribun Medan di kios jualannya,  Rabu (10/11/2025).

Menurutnya, pembeli tetap ramai, tapi mereka membeli dalam jumlah yang lebih sedikit.

Hal itu disebabkan, belum pulihnya ekonomi warga Tapteng pasca banjir bandang.

“Tetap ramai pembeli, ada  kemarin mereka beli banyak-banyak untuk stock tapi itu ketika masih bencana. Satu minggu bencana itu ramai sampai stock saya habis.Sekarang pembeli  tetap ada, tapi   mereka beli sedikit-sedikit. Enggak kaya biasanya,”jelasnya.

Bawang Merah Naik, Barang Sering Kosong

Untuk saat ini yang masih mahal dan barangnya sulit didapatkan di Tapteng adalah bawang merah. 

“Bawang merah ini  Rp 60 ribu. Dari dulu harganya enggak jauh dari situ. Dan ini naik tapi gak  drastis. Bawang merah ini sulit didapatkan. Barangnya suka kosong,” katanya. 

Dikatakannya, langka dan naiknya harga bawang merah disebabkan akses jalan Tarutung-Sibolga yang masih terputus. Dan Faktor cuaca. 

Sementara untuk harga cabai, saat ini masih tinggi. Tetapi tidak seperti beberapa waktu lalu pasca bencana yang sempat harganya sampai Rp 300 ribu per kg.

“Itu tiga hari pasca bencana harga cabai hampir Rp 300 ribu. Meningkat tiga kali lipat. Tapi hari ke empat pasca bencana  itu harganya turun drastis Rp 180 ribu. Kemudian  hari ke lima turun lagi Rp 100 ribu. Dan saat ini menjadi Rp 65 ribu. Ini masih tinggi tapi tidak naik drastis,” ucapnya.

Diterangkannya juga, sementara untuk tomat harga tetap stabil. Tetapi untuk bawang putih itu  naik Rp 10 ribu yang tadinya Rp 30 ribu jadi Rp 40 ribu.

“Namun yang paling langka saat ini adalah sayur. Biasanya kita ambil sayur dari Kecamatan Lopian dan Tukka. Tapi lihatlah hancur semua lahannya. Makanya kita sekarang ambil sayur di Sorkam, itupun yang ada cuman sayur singkong dan sayur kangkung harganya Rp 5.000 satu ikat biasanya Rp 2.000 per ikat,” jelasnya.

Untuk itu, pasca bencana ini, diakuinya jualannya tetap jalan seperti biasanya dan tetap ada keuntungan.

Namun diakuinya warga membeli dalam jumlah sedikit.

“Tetap nya untung dan tidak rugi. Tapi itulah lebih banyak orang beli bumbu giling. Bahan makanan lainnya mereka beli dalam jumlah yang lebih sedikit,” jelasnya 

Hal senada juga disampaikan pedagang daging ayam.

Menurutnya tidak ada  kelangkaan daging ayam. Hanya saja memang harga lebih naik namun tidak signifikan

“Harga ayam Rp 40 ribu. Naik. Biasanya Rp 30-35 Ribu. Pembeli ramai tapi mereka beli sedikit-sedikit enggak beli   kek biasanya 1 Kg,” jelas penjual ayam. 

Sementara itu, seorang warga Pandan Rauda Hutagalung mengatakan, ia tak bisa membeli dalam ukuran banyak, karena suaminya belum bisa bekerja seperti biasanya.

“Kami beli secukupnya saja. Karena harus pandai ngatur keuangan. Suami lagi gak nelayan ke laut. Karena ombak masih tinggi. Sementara saya gak bisa jualan di kantin karena anak sekolah masih libur. Jadi yang penting sekarang, kami sehat  rumah sudah  bisa ditempati. Tinggal memikirkan ekonomi lah ini,” ucapnya singkat. 

Sementara itu, Bupati Masinton mengatakan akan melakukan sidak ke sejumlah pasar pasca bencana banjir dan longsor. 

Hal itu dilakukan agar harga bahan sembako, makanan yang dijual warga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan.

“Kami akan mulai tinjau pasar-pasar. agar harga bahan pokok dan makanan stabil. Kami juga mengusahakan percepatan perbaikan infrastruktur jalan agar bahan-bahan sembako bisa masuk dengan cepat ke Tapteng,” ucapnya pada saat diwawancarai Tribun Medan di Gor Pandan beberapa waktu lalu.

Permukiman Hancur, Ribuan Orang Mengungsi 

Pasca bencana banjir dan longsor, kondisi permukiman warga masih hancur amburadul.

Selain Medan, beberapa daerah yang dalam kondisi parah terkena bencana di antaranya Tapanuli Tengah, Sibolga, Langkat,Tapanuli Selatan dan Kabupaten Humbang Hasundutan. 

Kondisi parah menyebabkan warga, ribuan orang mengungsi.

Bencana banjir dan longsor di Sumatera Utara menyebabkan dampak yang signifikan.

 Lebih dari setengah wilayah atau sebanyak 18 Kabupaten atau kota terdampak bencana tersebut.

Hingga Rabu sore 10 November 2025, setidaknya 11.200 rumah rusak di wilayah terdampak.

Selain itu banyak infrastruktur lainnya juga hancur.

“Kerusakan infrastruktur publik juga meluas ke banyak kabupaten di Sumatera Utara. Tercatat 60 Fasilitas Pendidikan, termasuk 121 jembatan rusak. Sebanyak 80 fasilitas umum, sembilan rumah Ibadah, dan satu fasilitas kesehatan rusak,” ujar Kapusdatinkom Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Rabu malam, (10/12/2025).

340 Korban Meninggal

Data terbaru, bencana yang terjadi akhir November lalu juga lalu menyebabkan 340 jiwa meninggal dan 128 jiwa hilang di Sumut.

“Selain itu 651 jiwa terluka,” katanya.

Bencana juga menyebabkan puluhan ribu orang mengungsi di Sumut.

Saat ini kata dia upaya penanganan pengungsi difokuskan pada kabupaten dengan jumlah warga mengungsi terbanyak.

Pengungsi di Kabupaten Tapanuli Tengah mencapai 18,3 ribu jiwa mengungsi, diikuti oleh Kabupaten Langkat 15,2 ribu jiwa , Kabupaten Tapanuli Selatan 7 ribu jiwa, Kabupaten Humbang Hasundutan 2,2 ribu dan Kota Sibolga 2,1 ribu jiwa.

“Pemerintah daerah di setiap kabupaten bersama BNPB dan instansi terkait terus berkoordinasi untuk memastikan penyaluran bantuan yang efektif dan mempercepat proses rehabilitasi pasca-bencana,” pungkasnya.

Korban Jiwa Banjir Sumatera Bertambah Jadi 969 Orang

Korban jiwa bencana banjir bandang dan tanah longsor di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menjadi 969 orang, per Rabu (10/12/2025).

Data tersebut berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi (Kapusdatinkom) Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa korban meninggal dunia bertambah 5 jenazah.

Pada Selasa (9/12/2025), korban jiwa yang meninggal dunia yaitu 964.

Dengan bertambahnya 5 jenazah, sehingga hari ini total korban jiwa yang meninggal dunia menjadi 969 orang.

Korban meninggal dunia bertambah 5 jenazah dar

“Korban meninggal dunia bertambah 5 jasad yang ditemukan dari jumlah 964 jiwa korban meninggal dunia pada Selasa, 9 Desember 2025.

Pada hari ini menjadi 969 jiwa,” kata Abdul dalam konferensi pers via Zoom, Rabu.

Abdul menjelaskan bahwa 5 jenazah itu ditemukan di dua provinsi, di antaranya 2 jenazah ditemukan di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, dan 3 jenazah ditemukan di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat.

“Sehingga total korban 969 jiwa meninggal dunia,” ujarnya.

 

Sementara itu, korban hilang per hari ini berkurang 12 orang.

Dari data yang direkapitulasi dan dimutakhirkan posko 3 provinsi, korban hilang kini menjadi 252 jiwa.

“Kemarin terdata 264 jiwa daftar pencarian orang, saat ini berjumlah 252 jiwa,” kata Abdul.

Jumlah pengungsi  berada di angka 894.501 orang dengan ditemukannya tambahan 2 korban di langkat di Sumatra Utara dan 3 korban di kabupaten padang pariaman sehingga total 969 jiwa meninggal dunia

Korban hilang pada hari ini berkurang 12 orang data yang kemudian direkaputilasi

Kemarin terdata 264 jiwa daftar pencarian orang saat ini berjumlah 252 jiwa.

Jumlah pengungsi yaitu 894.501 orang.

Abdul mengatakan jumlah pengungsi bertambah menjadi 500 orang.

Penambahan jumlah pengungsi tersebut terjadi di Sumut.

Berikut rekapitulasi korban bencana banjir di Sumatera, data dari BNPB per Rabu (10/12/2025):

– Korban meninggal 969 jiwa

– Korban hilang 252 jiwa

– Pengungsi 894.501 orang

(*/PasarModern.com)

Cr5/PasarModern.com/ Tribunnews.com

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *