Di dalam kehidupan yang keras ini, kita semua diperhadapkan dengan berbagai pilihan yang sama-sama tidak enaknya. Seperti dalam kasus kehidupan in this economy. Mau job hopping, mau lompat ke mana? Mau job hugging, rasanya kok juga tidak betah!
Bagai menghadapi buah simalakama! Serba salah.
Tak terasa sudah hampir satu tahun saya mengajar di bimbel Yulia (bukan nama sebenarnya). Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengajar di bimbel Yulia, dan hanya dalam tempo tiga bulan, ya, tiga bulan persis, saya dipecat begitu saja tanpa kejelasan apa kesalahan saya, dan hanya beberapa kalimat yang menggambarkan tentang “kesulitan keuangan” yang Yulia hadapi.
Secara pribadi, saya sangat membutuhkan pekerjaan (dibaca: uang) saat itu untuk memberikan pemasukan bagi saya. Tapi apa mau dikata. Memang Tuhan sepertinya menghendaki saya harus berpisah dengan bimbel Yulia.
Dan entah, bagai dejavu, dengan kondisi yang hampir sama, yaitu kesulitan keuangan dan problem mendapatkan pekerjaan di usia yang sudah tak lagi masuk hitungan ‘muda’, saya kembali ke bimbel Yulia, karena saya tidak punya pilihan lain. Mau tidak mau, suka tidak suka, terpaksa saya menjalani.
Tentu saja, saya mensyukuri apa yang sudah saya terima sampai saat ini. Di saat mungkin ada beberapa atau banyak orang yang susah mencari pekerjaan, saya mempunyai pekerjaan, meskipun bisa dikatakan dalam sektor informal atau mungkin malah nonformal, dikarenakan pendapatan yang tidak menentu atau tidak pasti.
Ada teman saya yang tak sependapat dengan pernyataan saya yang mengatakan kalau mengajar di bimbel adalah pekerjaan dengan pendapatan yang tidak menentu. Yah, gimana mau bilang menentu, kalau honor mengajar di bulan Oktober dan November 2025 saja masih belum keciuman bau uangnya!
“Sabar ya, Sir.”
Selalu seperti itu yang Yulia, bos saya yang satu ini selalu berujar kalau mendekati awal bulan baru. “Saya prioritaskan kakak-kakak yang masih mahasiswa. Kasihan mereka. Mungkin mereka butuh buat bayar kos dan lainnya.”
“Lha, lalu saya tidak butuh untuk bayar listrik, air, dan belanja kebutuhan hidup?” Saya hanya membatin dalam hati.
Apakah saya tidak masuk prioritas beliau? Apa boleh buat, terima nasib aja!
Paling tidak, beberapa les privat saya peroleh dari segelintir mantan murid bimbel atau yang berniat les di bimbel, tapi beralih les dengan saya di rumah mereka masing-masing.
Saya masih bisa bertahan sampai saat ini, dan berharap masih bisa bertahan sampai beberapa bulan ke depan, sambil melihat peluang baru di tempat lain.
Sembari tetap menyiapkan mata dan telinga untuk beralih ke lain hati alias pekerjaan baru, Yulia “the big boss” mempunyai kebiasaan yang bisa dikatakan menjengkelkan, dan terus-menerus berulang. Ibaratnya, dia suka mengobral satu kata yang selalu dia ucapkan di chat WA atau secara lisan saat berada di bimbel.
Apakah satu kata tersebut? Satu kata yang menjengkelkan tersebut adalah “Semangat”.
“Semangat, Sir Anton.”
“Semangat, Sir, untuk berbagi ilmu.”
“Semangat, kakak-kakak semua.”
Membosankan? Bagi saya sih yes. Amat sangat membosankan!
Positif dan negatif dari mengobral satu kata
Bicara tentang satu hal, tentu saja tidak bisa melihat hitam atau putih seluruhnya. Pastinya ada baik dan buruk, positif dan negatif dari melakukan sesuatu. Begitu juga dengan kebiasaan Yulia mengobral kata “semangat”.
Menurut saya, bila melihat dari sudut pandang positif, ada 2 (dua) hal yang mengemuka:
Pertama, Dia mengerti susahnya mengajar murid-murid dari generasi zaman now.
Sebagai bos, dia juga terjun langsung (kadang-kadang), jika ada kakak-kakak guru yang berhalangan mengajar. Ditambah lagi, dia berjerih lelah dengan upaya mendidik dan mengajar. Jadi, otomatis, menyemangati dengan kata “semangat” bukan hanya ditujukan kepada kakak-kakak guru, tapi juga kepada dirinya sendiri, yang menghadapi secara langsung ‘kebrutalan’ murid-murid di masa kiwari.
Tentu saja, perkataan “semangat” dari sang bos sangat diapresiasi.
Kedua, Jam kerja panjang, minim apresiasi dari orang tua murid, tapi bos peduli.
Sudah jamak diketahui publik dan menjadi rahasia umum kalau profesi guru di negeri +62 sangatlah tidak mendapat tempat yang terhormat. Julukan ‘Pahlawan tanpa tanda jasa’ dan retorika dari kebanyakan pejabat publik tentang jasa guru yang sekadar lip service di hari guru juga menjadi penyumbang pandangan menyesatkan dari sosok guru yang seharusnya mendapat penghargaan yang sepantasnya. Bukan sekadar sertifikat atau pengalungan medali dan pemberian uang di saat penganugerahan predikat guru berprestasi; tapi pemberian rutin gaji yang layak setiap bulan.
Jam kerja panjang, tapi minim apresiasi berimbas dari atas (dibaca: pemerintah) ke bawah (dibaca: kebanyakan orang tua murid). Terkadang (atau malah sering kali), orang tua ingin anak-anak mereka mendapat keistimewaan atau prioritas utama di bimbel, padahal mereka semua membayar sama.
Untungnya, Yulia sebagai pimpinan bimbel memberikan apresiasi yang seharusnya didapat dari orang tua murid.
Terlepas dari sudut pandang positif, saya juga melihat obralan kata ‘semangat’ dari sudut pandang negatif. Dalam observasi saya, ada 2 (dua) juga pandangan negatif seputar pelontaran kata ‘semangat’:
Pertama, Sengaja mengalihkan perhatian guru pada jasa memberikan pengetahuan yang sangat tinggi kepada murid.
Siapa yang tidak tahu akan besarnya manfaat membagikan pengetahuan kepada orang lain? Semua orang juga tahu akan hal itu, namun Yulia lupa akan satu hal, bahwa kata-kata penyemangat saja atau penjelasan akan pentingnya jasa mendidik tidaklah cukup ampuh untuk meredakan lapar di perut dan melunaskan utang yang sudah menggunung lama.
Kedua, Menutupi rasa bersalahnya karena belum membayar honor mengajar saya dan, mungkin, beberapa guru lainnya.
Saya tidak tahu apakah hanya saya yang menjadi satu-satunya ‘korban’ PHP Yulia. Dua bulan belum mendapat honor yang seharusnya sudah saya peroleh. Apalagi mendekati akhir tahun. Sungguh sangat menyakitkan!
Ditambah lagi, sebentar lagi akan memasuki liburan semester. Ada beberapa murid yang meminta ‘istirahat’ les dan itu adalah malapetaka bagi para guru di bimbel dan les privat.
Bagaimana Yulia dan pimpinan bimbel seharusnya berkata dan bertindak?
Apa yang seharusnya Yulia dan para pimpinan bimbel seharusnya berkata dan bertindak di tengah keadaan ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja saat ini?
Menurut saya, ada 3 (tiga) hal yang mereka seharusnya katakan dan lakukan:
1. Jangan terlalu berlebihan mengobral kata “semangat”
Hal-hal yang terlalu berlebihan tidaklah baik. Secukupnya saja.
Hal yang sama berlaku dengan mengobral satu kata “semangat”. Mengobral kata ‘semangat’ berulang kali seakan menjadi pepesan kosong belaka yang menjadi pemanis standar tanpa makna mendalam. Yang ada hanya ritual kebosanan karena kata usang yang terpapar nyata di hadapan telinga.
Alih-alih mengobral kata ‘semangat’, kreatiflah untuk menggunakan kata-kata penyemangat lainnya dan membarengi dengan doa. Misalnya: “Semoga kakak-kakak semua senantiasa sehat dan terus bergiat mencerahkan wawasan murid”; atau “Terus berkarya”, dan lain sebagainya.
2. Berikan apa yang menjadi hak guru
Semangat tidak akan muncul jika hak guru terus ‘dikebiri’. Menyadari bahwa guru juga manusia dan mereka adalah insan-insan yang juga mempunyai kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Apalagi menyangkut sandang, pangan, dan papan.
Bagaimana guru bisa semangat, jika dalam kepala, mereka masih mengkhawatirkan apa yang mereka bisa makan hari ini, bagaimana membayar kredit cicilan motor yang tertunggak, cara melunasi uang kos di bulan berjalan, dan lain sebagainya?
Kata “Semangat” bukanlah solusi atas keresahan mereka, dan kata “Sabar” tidak bisa dijadikan alasan pembelaan diri karena ketidakmampuan membayar honor guru tepat waktu, yang pada kenyataan malah dua bulan lebih tertunggak!
3. Jangan terlalu sering mengobral janji yang ujungnya tanpa realisasi
“Nanti, di awal tahun ajaran, honor kakak-kakak naik….”
Janji Yulia di masa lampau ini adalah salah satu yang menghias di sekitar bulan Mei 2025. Satu dari sekian banyak janji yang hanya tinggal janji.
Saya sudah memperingatkan Yulia untuk tidak sering mengobral janji, yang ujungnya cuma PHP. Pemberi Harapan Palsu. Tanpa realisasi.
“Anda tidak usah berjanji kalau pada akhirnya tidak bisa menepati,” kata saya saat itu.
Terlalu berani? Saya sekadar mengingatkan beliau. Dan, saya tahu, pada akhirnya dan seterusnya, Yulia tetap dengan setelannya. Stecu. Setelan cuek dan tidak pernah belajar dari hal melontarkan janji-janji yang pada akhirnya tak pernah terwujud.
Daripada mengobral janji, lebih baik realisasi tanpa janji sebelumnya. Diam di awal, menaikkan honor kemudian. Itu lebih bermakna.
Bagaimana saya dan guru-guru bimbel berkata dan bertindak?
Ini bukan terbatas pada saya dan guru-guru bimbel dimana kami mengajar. Tiga saran ini adalah bagi semua insan yang berprofesi sebagai guru, di mana pun mereka mengajar, dan merasa apa yang mereka sudah kerjakan tidak mendapatkan ‘penghargaan’ yang sepantasnya, baik itu berupa uang dan apresiasi.
Tiga saran perkataan dan tindakan bagi rekan guru semua adalah:
1. Tetap bekerja dengan baik dan benar
Tetap bekerja dengan baik dan benar adalah satu hal yang harus senantiasa kita usung dalam raga ini. Apa pun profesinya. Apalagi kita sebagai guru. Tidak ikhlas mengajar, ilmu pun tak akan tersampaikan dengan baik, sehingga murid tidak akan memahami pelajaran dengan maksimal, atau malah bahkan keliru dalam memaknai.
Mengajar, mendidik, bekerja dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya, karena bekerja adalah ibadah juga.
2. Tetap melihat peluang kerja di tempat lain
Jangan menjadikan satu tempat sebagai tumpuan satu-satunya mendapatkan penghasilan. Anda bakalan kecewa.
Saya sudah mengalami sendiri bagaimana kekecewaan bertumpu pada satu sumber yang ujungnya membawa petaka bagi keuangan saya di masa lampau. Dan saya belajar juga bagaimana dengan melihat berbagai peluang kerja di berbagai tempat yang menawarkan, bukan saja upah yang lebih layak sesuai dengan kompetensi, namun juga memberikan masa depan yang lebih baik dari segi jenjang karier.
Jadi, tetap buka mata dan telinga, karena dunia tidak hanya selebar bimbel atau tempat kita bekerja.
3. Belajar keterampilan baru untuk memperoleh penghasilan tambahan
Hanya mengandalkan profesi guru tentu saja bisa dikatakan tak akan mencukupi atau malah tidak bisa menjadikan kaya. Kalau pun ada guru yang kaya, mereka bisa kaya karena ada ‘sampingan’ lain, misalnya membuka rumah makan, menjadi pengusaha tambak udang, mengusahakan rumah kos-kosan, dan lain sebagainya.
“Yah, kalau tidak ada modal, gimana, Pak?”
Ada beberapa rekan guru yang pernah menanyakan soal modal. Sebenarnya modal itu tidak melulu berbentuk uang, tapi modal bisa berupa keterampilan yang kita punya. Misalnya, keterampilan menulis dalam banyak kesempatan memberikan saya, tidak hanya healing dalam hal mental health, tapi juga cuan, karena di masa lalu, saya beberapa kali memenangkan kompetisi blog, baik itu menulis artikel, atau bahkan tawaran menjadi content writer, penulis artikel yang dibayar oleh agensi periklanan. Lumayan. Satu artikel dihargai seratus ribu, dan ada sekitar 16 artikel lebih yang saya harus selesaikan dalam jangka waktu tertentu.
Sudah suka menulis, dibayar pula. Amboi. Nikmat mana yang kau dustakan!
Sekarang saya lagi belajar juga tentang digital marketing, karena saya sadar, hidup hanya sementara. Kalau mengandalkan penghasilan dari profesi guru, saya tidak akan bisa mewujudkan impian-impian saya.
Jadi, belajarlah keterampilan baru. Bukan sekadar memperoleh penghasilan tambahan. Kalau bisa yang high paid skill. Keterampilan yang dibayar mahal. Dengan begitu, selain tak pusing dengan pendapatan, mengajar pun bisa maksimal.
Bijaklah dalam berkata
Mengobral satu kata adalah hal yang lumrah di satu sisi, namun bisa menjadi ‘kekejian’ di sisi lain. Dua sisi positif dan negatif. Yang mana di antara dua sisi tersebut yang dominan? Itulah yang menjadi persoalan.
Yang jelas, mengobral kata ‘semangat’ berulang kali di kasus saya dan para rekan guru bimbel tidaklah bijak. Apalagi tanpa adanya komunikasi yang baik dan ketiadaan evaluasi yang selalu digembar-gemborkan di awal tahun ajaran, tapi ternyata hanya halusinasi. Tanpa berita. Tanpa informasi lebih lanjut.
Akhir kata, bijaklah dalam berkata, karena masalah tak bisa terselesaikan hanya dengan perkataan belaka.


