JAKARTA, PasarModern.com – Keberadaan bank keliling di kota-kota besar seperti Jakarta memang kerap menjadi andalan, terutama para ibu rumah tangga.
Menawarkan pinjaman uang dari rumah ke rumah dengan proses yang instan membuat bank keliling dibutuhkan banyak orang ketika sedang terdesak kebutuhan ekonomi.
Salah satunya warga Manggarai, Jakarta Selatan, bernama Ria (58). Ia mengaku sudah menggunakan jasa bank keliling sejak tahun 2002.
Ria pernah meminjam uang dari bank keliling ketika warung nasi uduknya kehabisan modal.
Selain untuk modal dagang, ibu dua anak itu juga sering mengandalkan bank keliling untuk membayar kebutuhan anaknya sekolah, meski uang yang dipinjamnya tak pernah besar.
“Paling gede minjam Rp 500.000 enggak pernah Rp 1 juta. Yang punya warteg baru Rp 1 juta,” jelas Ria.
Uang pinjaman itu akan ia cicil Rp 25.000 per harinya selama 24 hari, sehingga bunganya hanya sekitar 10 persen.
Bangun rumah dari bank keliling
Keberadaan bank keliling benar-benar membantu Ria pada tahun 2019. Kala itu, ratusan rumah warga di Manggarai ludes terbakar, dua diantaranya adalah milik Ria.
Untuk membangun dua rumah itu, Ria membutuhkan biaya ratusan juta rupiah. Semua tabungan miliknya, suami, anak, dan orangtuanya ludes untuk membangun rumah.
Namun, ketika itu, dua rumah Ria belum sepenuhnya rampung dan masih membutuhkan biaya pembangunan.
Ia harus memutar otak untuk mendapatkan uang dalam waktu cepat agar pembangunan rumahnya tidak terhambat dan tak lagi membayar kontrakan.
“Paling banyak (minjam bank keliling) pas rumah saya kebakaran itu ambil pinjaman dari lima bank keliling itu masing-masing Rp 500.000 kalau bank keliling terbatas karena kalau yang dagangnya gede baru dikasih jutaan,” tutur Ria.
Uang pinjaman bank keliling itu, ia gunakan untuk mencicil beli bahan bangunan yang kurang seperti semen, pasir, kayu, dan membayar jasa tukang.
“Kalau ditotal mah bisa Rp 12 juta itu minjam bank keliling buat kekurangan bangun rumah, karena kalau total bisa ratusan juta rupiah biayanya,” imbuh dia.
Setelah rumahnya kebakaran, ada lima petugas bank keliling yang setiap hari menagih cicilan ke kediamannya.
Berbagai cibiran ia dapatkan dari tetangga. Namun Ria memilih tutup telinga.
“Bank keliling cukup menolong menurut kita, dari pada darurat supaya rumah kita ketutup abis kebakaran. Sekarang udah jadi rumah,” ucap dia.
Ia tak membayar bersamaan lima petugas bank keliling yang menagih ke rumahnya setiap hari. Biasanya, ia membayar utangnya itu secara bergantian.
“Ya enggak semuanya setiap hari bayar. Kadang tiga orang dulu yang dua libur, besoknya gantian,” jelas Ria.
Ria mengaku, petugas bank keliling tidak pernah memaksa atau memarahi para nasabah jika libur membayar cicilan hanya satu hari saja.
Biaya sekolah
Warga Koja, Jakarta Utara, bernama Darto (47), juga sering terbantu dengan keberadaan bank keliling selama ini.
Ayah dari tiga orang anak itu sudah mulai coba jasa bank keliling ketika dirinya belum menikah. Namun, dulu uang pinjaman dari bank keliling hanya ia habiskan untuk berfoya-foya.
Sampai akhirnya kini ia sudah menikah dan memiliki anak, kondisi ekonomi yang belum membaik membuat Darto masih selalu mengandalkan bank keliling.
Namun, uang pinjaman dari bank keliling tak lagi ia gunakan untuk berfoya-foya, melainkan memenuhi kebutuhan makan dan sekolah anaknya.
“Kadang buat sekolah, kadang buat makan, kadang buat biaya-biaya yang mendadak enggak tak terduga,” ucap dia.
Pasalnya, pendapatannya sebagai tukang service jam sering kali tak cukup untuk menghidupi istri dan tiga orang anaknya yang masih belia.
Bank keliling sebagai penolong
Berkali-kali diselamatkan ketika mengalami desakan ekonomi, Darto kini menganggap bank keliling sebagai ‘Dewa Penolong’.
Pasalnya, meminjam uang di bank keliling sangat mudah dan bisa cair dalam waktu cepat. Darto tinggal menyiapkan KTP dan tanda tangan untuk proses pencairan uang di hari itu juga.
Meminjam uang di bank keliling membuat Darto lebih nyaman dibanding harus meminjam dengan keluarga terdekat.
Sebab, ia trauma ketika mau meminjam uang dengan keluarga sendiri justru mendapat cemohan yang melukai hati.
“Dia dewa penolong di saat kita terdesak ekonomi, daripada saudara kita ngoceh dulu mulutnya baru minjemin, kadang juga enggak ngasih,” tutur Darto.
Hal itu pula yang membuat Darto menilai bunga 20 hingga 30 persen di bank keliling cukup murah dan terjangkau karena proses pinjaman yang mudah.
Kini, ia memiliki cicilan pinjaman uang di tiga bank keliling yang berbeda-beda karena kebutuhan ekonomi.
“Sekarang saya punya bank keliling tiga, pinjamannya Rp 1 juta, Rp 1 juta, sama Rp 2 juta, bayarnya per hari. Dalam satu hari yang Rp 2 juta, itu bayarnya Rp 60.000, sedangkan Rp 1 juta bayarnya Rp 30.000, jadi paling tidak saya bayar utang Rp 120.000 per hari,” ujar dia.
Meski begitu, ia tidak selalu membayar ketiganya setiap hari. Ketika pendapatannya kosong, maka ia bisa libur membayar cicilan.
Kebanyakan petugas bank keliling memahami jika nasabahnya libur satu atau dua hari karena pemasukan usahannya sedang sepi.
Penyebab bank keliling terus eksis
Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat menilai, semakin eksisnya bank keliling di kota besar seperti Jakarta disebabkan karena banyak orang yang mengalami kesulitan ekonomi.
“Orang-orang yang mengalami kesulitan finansial, krisis ekonomi, banyak yang di PHK, mereka menganggur tapi mereka butuh untuk kehidupan yang cepat. Nah, itu yang kemudian membuat bank keliling eksis di Jakarta,” jelas Rakhmat.
Adanya bank keliling membuat orang tidak perlu bersusah payah datang ke leasing atau pegadaian untuk meminjam uang.
Di sisi lain, meminjam uang di bank keliling tidak membutuhkan jaminan seperti di pegadaian atau leasing.
“Karena kalau ke pegadaian mereka harus memiliki barang tertentu seperti emas, elektronik, dan seterusnya. Bank keliling hadir sebagai cara yang instan, cepat ketika orang membutuhkan keuangan,” ucap Rakhmat.
Rakhmat bilang, biasanya permintaan pinjaman bank keliling akan meningkat ketika menjelang tahun ajaran baru sekolah dan Lebaran.
Pasalnya, para ibu rumah tangga di dua momen itu memerlukan uang dalam jumlah yang tak sedikit sehingga menggunakan jasa bank keliling.
Bahaya bank keliling
Meski keberadaannya sering dibutuhkan warga, bergantung pada bank keliling bisa mendatangkan bahaya untuk masyarakat.
“Bahayanya adalah ini akan menjadi tekanan lingkaran kemiskinan karena bunganya itu kan sangat tinggi. Jika tidak sesuai jatuh temponya itu akan nambah lagi, tagihannya semakin besar,” jelas Rakhmat.
Ketika tagihan bunga membeludak, tentu saja warga yang meminjam uang dari bank akan tertekan secara psikologis.
“Secara sosial mereka akan dikucilkan, dan itu akan menjadi lingkaran kemiskinan, siklusnya akan gali lubang tutup lubang, pinjam lagi kemana untuk bayar utang ini dan itu siklusnya akan begitu,” jelas Rakhmat.
Kemudian, selalu bergantung dengan bank keliling juga akan membuat seseorang sulit untuk lepas dari lingkaran kemiskinan.
Oleh sebab itu, pemerintah diminta untuk tak tinggal diam terhadap terus eksisnya bank keliling di Jakarta.
Rakhmat menyarankan pemerintah rutin memberikan edukasi tentang literasi keuangan kepada masyarakat kelas bawah.
Dengan adanya edukasi itu, masyarakat bisa diberikan pemahaman mengenai bahaya dari pinjaman bank keliling.
Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad, juga berpendapat yang sama.
Peningkatan literasi keuangan perlu dilakukan agar tak lagi terjerat bank keliling.
Kemudian, pemerintah juga harus mencarikan lembaga alternatif yang memang bisa memberikan pinjaman uang yang mudah seperti bank keliling.
Ia pun menyarankan agar bank-bank formal ke depannya bisa lebih menjangkau masyarakat kelas menengah bawah yang memang membutuhkan pinjaman.
“Paling penting adalah penyadaran harus ada perbaikan akses dari lembaga formal atau bank-bank besar untuk masuk ke wilayah lebih kecil atau mikro, katakan lah unit layanan yang sifatnya pada level RT dan RW mungkin bisa mengakses market mereka,” tutur Ahmad.


