Saat limbah menjadi berkah: kisah ibu-ibu Kampung Perca Bogor bangkit dari pandemi

Posted on

BOGOR, PasarModern.com– Dari tumpukan limbah tekstil yang berwarna-warni, warga sebuah permukiman kecil di Kota Bogor berhasil menenun harapan baru.

Di Kampung Perca, potongan kain yang dulu dianggap tak berguna kini berubah menjadi sumber penghasilan, ruang belajar, sekaligus gerakan ekonomi kreatif yang lahir pada masa penuh tekanan: pandemi Covid-19.

Di kampung yang berada di Kelurahan Sindang Sari ini, sisa-sisa kain tak lagi dilihat sebagai sampah yang mengotori halaman atau memenuhi sudut rumah. Potongan kain aneka warna itu kini menjadi simbol ketahanan warga dan upaya bersama untuk bertahan di masa sulit.

Beberapa tahun lalu, limbah perca hanya menjadi tumpukan tak beraturan. Namun ketika gagasan pengelolaan limbah dan ekonomi kreatif mulai masuk, warga bertanya: apa yang bisa diwujudkan dari sisa-sisa ini?

Pertanyaan itu baru menemukan bentuknya pada masa pandemi—ketika tekanan ekonomi mengubah cara hidup banyak keluarga, khususnya para ibu rumah tangga.

Saat pandemi menyulap Sindangsari

Ditemui di galeri utama Kampung Perca, pengurus Kartika Dwi menceritakan kondisi pada 2020. Di Sindangsari kala itu, pandemi tidak hanya membawa kesunyian, tetapi juga ketidakpastian ekonomi.

Para suami kehilangan pekerjaan, jam kerja dipangkas, dan banyak keluarga kehilangan sumber nafkah. Kondisi ini menjadi pukulan berat terutama bagi ibu rumah tangga yang sepenuhnya bergantung pada penghasilan suami.

Dari situ, kata Kartika, lahir kepedulian seorang warga RW 01, Nining Sriningsih, yang juga menjadi Ibu RW di kampung tersebut.

Melihat tetangganya terdesak kesulitan ekonomi, Nining merasa tak bisa diam. Ia memikirkan cara agar ibu-ibu tetap bisa berkegiatan dan mendapatkan pemasukan.

“Awal mulanya itu waktu itu kan tahun 2020 itu Covid-19. Di mana keluarga kami juga terkena dampaknya ya, ada yang diputus juga kerjanya di PHK, terus ada juga yang dibatasi waktu-waktu kerjanya,” kata Kartika.

Nining kemudian mengajak ibu-ibu berlatih menjahit agar suatu hari dapat mandiri. Ia menghubungi pemilik kursus dan konveksi Harapan Antar Sesama (HAS), yang memberi izin pemakaian mesin jahit serta sisa kain dan benang sebagai bahan belajar.

“Kebetulan di lantai 2 ini kan ada konveksi ya. Nah, di bawah itu terkena dampaknya juga tapi kain-kain itu masih banyak,” katanya.

Dukungan itu menjadi fondasi lahirnya Kampung Perca. Ide tersebut disampaikan kepada Lurah Sindang Sari, dan mendapat dukungan penuh dari istri Lurah, Enny Wulan, yang berpengalaman di dunia fesyen.

“Ibu RW itu (Nining) cerita ke Pak Lurah saat itu. Nah, cerita bagaimana ya biar bisa mendapatkan penghasilan,” ujar Kartika.

Dari sinilah semangat kolektif itu bermula. Pada awal September 2020, sebanyak 15 ibu mulai bergabung. Mereka belajar bergantian, dipandu Enny dan dua ibu lain yang sudah terbiasa menjahit. Masker menjadi produk pertama mereka.

Setelah dipromosikan dalam sebuah kegiatan, pesanan mulai berdatangan.

Masker jadi produk pertama

Tak disangka, gerakan warga ini mendapat sambutan luas dari pemerintah kota. Kartika mengatakan dukungan mulai terasa ketika produksi masker meningkat.

Kartika berujar, perhatian pemerintah mulai terasa sejak awal mereka memproduksi masker. Ia menceritakan bagaimana para ibu, yang awalnya bekerja secara mandiri dan seadanya, mulai mendapat dorongan.

“Diarahkan juga oleh Bapak Camat saat itu dukungannya sampai ke Bapak Wali Kota. Jadi ada beberapa kantor-kantor yang memesan kepada kami. Minimalnya 200 pieces gitu,” kata dia.

Kartika melanjutkan bahwa kondisi tempat produksi saat itu jauh berbeda dengan yang sekarang. Para ibu bekerja di ruangan kecil dengan peralatan seadanya. Mesin-mesin tua sering rusak, tetapi dari penghasilan pertama, mereka perlahan membeli alat, yaitu gunting, setrika, meteran, hingga memperbaiki mesin jahit.

Seiring meningkatnya permintaan, dari pendapatan pertama, mereka membeli gunting, setrika, meteran, serta memperbaiki mesin-mesin yang rusak—modal kecil untuk memulai perjalanan yang lebih panjang.

“Nah, udah gitu. Pas kita mendapatkan penghasilan itu. Kita beliin dulu kayak semacam setrika, gunting.Itu kan belum ada ya,” ujar dia.

Momentum itu membuat para ibu perlahan percaya diri memproduksi barang secara massal.

Limbah kain yang tak lagi menjadi sampah

Salah satu kekuatan Kampung Perca adalah pemanfaatan limbah tekstil. Sisa kain dari konveksi, butik, hingga kiriman masyarakat terus berdatangan setiap pekan.

Banyak pengusaha rumahan maupun perorangan bingung harus membuang ke mana sisa kain tersebut, sehingga mereka memilih mengirimkannya ke Kampung Perca yang dinilai mampu mengolahnya.

“Jadi mereka juga kan bingung ya, Itu mau digunakan untuk apa. Kebetulan kan kita juga bisa memanfaatkan. Jadi sampai saat ini kita tidak berbayar, untuk kain-kain perca ini,” kata Kartika.

Bahkan pakaian sitaan Bea Cukai rencananya akan dikirim ke Kampung Perca agar tidak dibakar. Meski demikian, kata Kartika, tidak semua kain layak produksi, tetapi sisa terkecil sekalipun dimanfaatkan.

“Sisa-sisa kain yang lain itu, Kita buat kecil-kecil, Kita buat ecobrick Kita masukin ke botol dijadikan tempat sampah, jadi kita benar-benar memanfaatkan,” katanya.

Dukungan Pemkot

Perhatian pemerintah kota memperkuat gerakan ini. Program pemberdayaan yang awalnya sederhana berkembang menjadi kegiatan ekonomi kreatif yang menonjol.

Program pemberdayaan yang tadinya sederhana berubah menjadi gerakan yang dianggap berkontribusi bagi pemberdayaan perempuan dan ekonomi lokal.

“Sering ditunjau juga oleh Bapak Bima Arya (mantan Walikota Bogor) saat itu. Setelah itu banyak kantor-kantor yang memberikan CSR,” kata dia.

Dukungan pemerintah dan berbagai lembaga membuat Kampung Perca semakin kuat dalam hal peralatan dan fasilitas produksi.

Bantuan alat dan fasilitas membuat kegiatan produksi jauh lebih tertata. Banyak ibu kini memiliki mesin jahit sendiri di rumah sehingga bisa bekerja dari mana saja.

“Dana bantuan seperti BJB. Dari Taspen, dari beberapa kantor-kantor. Alhamdulillah kita juga masing-masing ibu-ibu bisa mendapatkan mesin di rumah. Jadi bisa diproduksi juga,” ungkapnya.

Miliki empat galeri

Kampung Perca kini memiliki empat galeri, yaitu Galeri Pak Has, Galeri Petok, Galeri Kriwil, dan galeri utama. Galeri utama buka setiap hari, sementara yang lain dibuka saat kunjungan atau acara tertentu.

Hanya galeri utama yang beroperasi rutin, sementara galeri lainnya baru dibuka ketika ada kegiatan kunjungan atau tamu dari luar daerah.

“Tahun 2021 diresmikan. Kita sudah punya galeri 4 di sini tapi kalau hari-hari biasa, paling galeri utama saja yang buka sama di galeri depan,” kata Kartika.

“Kalau misalnya ada kunjungan dari kota mana, Baru dibuka semua,” sambungnya

Kampung Perca kini telah berkembang jauh dari masa-masa awal ketika para ibu hanya membuat masker. Kini ada lebih dari 40 produk, mulai dari aksesori rumah hingga fesyen.

“Salah satunya ya, Ada notebook, tempat tisu besar, tempat tisu kecil, Bantal duduk, bantal kursi, Terus ada tas juga, Ada syal, sama pangsi,” jelas Kartika.

Harga bervariasi, dari Rp 10.000 hingga Rp 250.000 untuk produk fesyen tertentu. Harga menyesuaikan tingkat kerumitan, ukuran, dan jenis produk yang dibuat.

Beberapa barang kecil dijual dengan harga terjangkau, sementara produk fesyen dan dekorasi rumah yang memerlukan proses lebih panjang dipasarkan dengan harga lebih tinggi.

Setiap tahun, pesanan meningkat saat Hari Jadi Bogor (HJB). Pesanan biasanya meningkat pesat, produk mereka dianggap mewakili kreativitas warga sekaligus mengangkat citra Kota Bogor.

“Di produk Kampung Perca, Jadi apalagi setiap Acara HJB (hari jadi Bogor) ya, Itu acara HJB, Pesanan pasti ada yang keluar terus,” kata dia.

Perkembangan produk lahir dari keberanian mencoba dan belajar dari internet atau permintaan pelanggan.

“Awalnya kita juga mencoba dulu, Bikin produk apa ya, Bantal kursi, Setelah bantal kursi, Ini enak banget ya, Ada bantal duduk, Kita coba, Kita lihat di Youtube, Bagaimana cara buatnya,” ujarnya.

Kreativitas para ibu tidak berhenti pada produk-produk yang sudah ada. Mereka terus mengembangkan model baru, baik yang berasal dari ide pengrajin sendiri maupun permintaan pelanggan.

“Terus juga kadang, Kalau ada yang pengen jahit baju, Saya modelnya kayak gini, kita coba-coba, ide dari pengrajin sendiri, Kedua juga, Dari customer, Request, Jadi itu juga bisa jadi masukan,” ungkap dia.

Jadi penghasilan ibu-ibu

Kini, banyak ibu rumah tangga di Kampung Perca memiliki penghasilan sendiri untuk pertama kalinya. Ia menyebutkan, banyak dari mereka yang sebelumnya tidak pernah mendapatkan uang dari hasil kerja pribadi.

“Iya betul, Karena kan ini ibu rumah tangga ya, Yang tidak biasa mendapatkan penghasilan sendiri, sekarang bisa mendapatkan penghasilan sendiri,” kata Kartika.

Sebagian besar dari mereka awalnya tidak memahami menjahit, bahkan memasukkan benang ke mesin pun sulit. Kini, hampir semua sudah mahir.

“Sekarang sudah benar-benar kayak suhu,” ujar dia.

Ia juga menggambarkan bagaimana awalnya para ibu sering bingung hanya untuk memasukkan benang ke jalur mesin. Bagian yang terlihat sederhana itu justru menjadi tantangan besar bagi mereka yang tak pernah bersentuhan dengan mesin jahit sebelumnya.

“Yang awalnya itu tidak paham sama sekali, Ini kan namanya mesin jahit sama Jarum tangan itu kan beda ya, tapi sekarang sudah semuanya bisa,” jelas dia.

Sementara Nina (55), salah satu pengrajin, mengatakan pendapatan dari Kampung Perca sangat membantu kebutuhan harian. Pendapatan yang ia terima cukup untuk menutup kebutuhan-kebutuhan kecil yang sebelumnya bergantung pada gaji suami.

“Tentunya untuk istilahnya beli-beli bumbu, kebutuhan dapur untuk beli pulsa sebagainya. Kita ibu-ibu mengharapkan dari tentunya yang punya gaji suami,” ujarnya.

Lebih dari itu, ada kepuasan tersendiri ketika karya mereka dihargai. Ada kebanggaan tersendiri ketika hasil kerja mereka dihargai orang lain, dibeli, dan digunakan.

“Cukup puas ya dengan hasil kami itu. Apalagi hasil kami itu orang dibeli, disukai itu suatu kebanggaan ya Tentunya ibu-ibu juga sama seperti itu, dihargai dengan orang lain tentunya itu ya suatu reward,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *