Prof. Dr. Ir. Rr. Nugrahini Susantinah Wisnujati: Transformasi Digital dan Kepemimpinan Perempuan di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) kini memasuki babak baru dalam sejarahnya, dengan kepemimpinan Rektor perempuan pertama, Prof. Dr. Ir. Rr. Nugrahini Susantinah Wisnujati, M.Si. Sebagai salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) tertua di Jawa Timur, UWKS dikenal sebagai institusi pendidikan yang memiliki Fakultas Kedokteran. Dalam wawancara eksklusif, Prof. Nugrahini menjelaskan strategi-strategi utama untuk meneguhkan posisi UWKS sebagai kampus unggul, baik di tingkat nasional maupun global.
Strategi Utama UWKS untuk Menjadi Kampus Unggul
Persaingan antar perguruan tinggi, terutama PTS, sangat ketat. Namun, UWKS memiliki kekuatan yang kuat berupa reputasi dan alumni yang berkualitas. Contohnya, Fakultas Kedokteran UWKS telah melahirkan lulusan-lulusan unggul seperti dr. Billy Daniel Messakh, Sp.B, Direktur Utama RSUD dr. Mohamad Soewandhie di Surabaya, serta dr. Andin, Wakil Direktur RS Delta Surya. Bahkan, ada lulusan UWKS yang menjadi Menteri Kesehatan di Timor Leste.
UWKS didirikan pada 19 Juli 1981, dan saat ini memiliki 8 fakultas serta 29 program studi. Di antaranya adalah Fakultas Kedokteran Umum, Kedokteran Hewan, Fakultas Pertanian, FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan), Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), dan Fakultas Teknik. Selain itu, SDM UWKS juga kuat, dengan banyak guru besar hingga lektor kepala. Gedung-gedung ikonik seperti Twin Tower juga menjadi identitas kampus.
Promosi digital juga menjadi fokus UWKS, mengingat generasi muda saat ini lebih dekat dengan media digital.
Transformasi Digital, Internasionalisasi, dan Penelitian Berdampak
Transformasi digital menjadi salah satu prioritas utama Prof. Nugrahini. Hal ini dilakukan untuk memastikan semua aspek kampus, termasuk keuangan, tercatat secara digital. Tidak ada keputusan yang didasarkan pada preferensi pribadi, tetapi berdasarkan data yang jelas.
Selain itu, UWKS juga fokus pada internasionalisasi. Kerja sama dan konferensi internasional menjadi bagian dari akreditasi. Beberapa kegiatan internasional bernilai besar, seperti pengabdian masyarakat dan publikasi bersama.
Penelitian dan pengabdian yang berdampak juga menjadi fokus. Menteri menegaskan bahwa penelitian tidak boleh berhenti pada jurnal, tetapi harus memberikan manfaat nyata. Contohnya, FKIP mengajar anak-anak hasil perkawinan campuran Indonesia–Malaysia yang belum diakui legal, sementara Fakultas Hukum memberi konsultasi hak-hak TKW di Malaysia.
Pengembangan Alumni dan Kurikulum Berbasis Output
Untuk meningkatkan terserapnya alumni di dunia kerja, UWKS menggunakan kurikulum Outcome Based Education (OBE) yang orientasinya pada dampak. Mahasiswa dimagangkan agar memiliki keterampilan nyata. Hasil tracer study menunjukkan bahwa alumni UWKS semakin banyak terserap, namun kualitas pekerjaan dan kesejahteraan masih menjadi tantangan.
Nilai-Nilai Kewijayakusuman dan Pembinaan Mahasiswa
UWKS memiliki moto “Anggung Wimbuh Linuwih” yang artinya selalu bertumbuh. Selain itu, nilai-nilai Kewijayakusuman seperti Tatak (fokus), Tetek (tekun), Tanggon (bertanggung jawab), dan Trapsila (mempunyai attitude yang baik) ditanamkan kepada mahasiswa. Mahasiswa dibina melalui perjalanan sejarah dari Trowulan hingga Penataran, agar memahami karakter Wijaya Kusuma sebagai putra-putri Raden Wijaya.
Persiapan untuk Target Indonesia Emas 2045
Dalam visi Indonesia Emas 2045, salah satu target adalah meningkatkan gross enrollment ratio hingga 60 persen. UWKS sudah memiliki rencana strategis lima tahunan (Renstra) yang diturunkan menjadi rencana operasional (Renop) di masing-masing fakultas. Semua Renop wajib mengarah pada target-target Renstra, dan Renstra dirancang untuk mendukung capaian Indonesia Emas 2045.
Kerja Sama dengan Rumah Sakit dan Program Beasiswa
Fakultas Kedokteran UWKS bekerja sama dengan banyak rumah sakit, mulai dari tipe A hingga tipe C. Harapannya, mahasiswa belajar dari berbagai guru dan menemukan variasi kasus yang berbeda-beda. Kerja sama mencakup rumah sakit di Sidoarjo, Gresik, Probolinggo, Pasuruan, Mojokerto, Kediri, hingga Nganjuk, serta rumah sakit khusus seperti RSJ Menur, RSJ dr. Radjiman, dan RSUD dr. Soetomo.
UWKS juga memiliki rumah sakit pendidikan sendiri, yaitu RS Notopuro Sidoarjo dan RS Sidoarjo Barat (Sibar). Selain itu, dosen-dosen dari rumah sakit mitra bisa mengajar dan menjadi bagian dari civitas akademika.
Riset dan Kerja Sama Internasional
Riset menjadi salah satu pilar pendidikan tinggi. UWKS memiliki beberapa “pondok” atau pusat kajian, seperti Pondok Osteoarthritis, Pondok Stunting, dan Pondok Paru Sehat. Masyarakat bisa datang untuk mendapatkan layanan, sementara dosen melakukan penelitian lanjut dari kasus-kasus yang muncul.
UWKS juga memiliki kerja sama internasional khusus di bidang kesehatan, terutama dengan Timor Leste dan Malaysia. Ke depan, UWKS ingin memperluas kolaborasi tersebut.
Upaya Meningkatkan Peringkat Nasional dan Internasional
Salah satu indikator penting adalah penilaian PTS Unggulan dari LLDIKTI. Untuk itu, UWKS memperkuat aspek penelitian, pengabdian, serta pelaporan administrasi. Peningkatan jumlah jurnal internasional juga menjadi fokus. UWKS membuat program percepatan publikasi, terutama untuk lektor kepala dan guru besar.
Beasiswa dan Lingkungan Pendidikan yang Kompetitif
UWKS memiliki banyak beasiswa, termasuk dari pemerintah melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP), serta beasiswa dari institusi seperti Van Deventer-Maas, bank-bank seperti Bank Jatim, BCA, BRI, dan lainnya. Selain itu, UWKS juga bekerja sama dengan lembaga seperti Mau Dhuafa dan pemerintah daerah, misalnya melalui program Surabaya Tangguh.
Beasiswa di UWKS bukan hanya banyak, tetapi juga berkualitas dan berdampak. Yayasan UWKS sangat serius dalam mendukung pendidikan, bukan sekadar mengejar pemasukan.
Lingkungan Pendidikan yang Nyaman dan Kompetitif
Fasilitas lengkap seperti UKM, ruang band, bela diri, ruang kreatif, dan perpustakaan berbasis digital membuat mahasiswa betah belajar di UWKS. Di kelas, sistem smart class sudah diterapkan untuk membuat suasana kuliah lebih menarik dan interaktif.
Lingkungan kekeluargaan juga menjadi ciri khas UWKS. Bahkan, dosen yang mengalami kesulitan kadang mendapat bantuan. Gaji dosen di UWKS juga sangat kompetitif, bahkan banyak dosen mengatakan gaji mereka lebih baik dibandingkan pegawai negeri.
Harapan untuk Sinergi dengan Pemerintah
Prof. Nugrahini berharap ada sinergi yang lebih kuat antara perguruan tinggi swasta dan negeri. Melalui APTISI, UWKS rutin menyampaikan masukan kepada LLDIKTI. Saat ini, LLDIKTI membina baik kampus swasta maupun negeri. Prof. Nugrahini berharap fasilitas dan sarana akademik di kampus negeri bisa dibuka untuk kolaborasi dengan kampus swasta, terutama dalam penelitian dan praktikum. Semakin kuat sinergi itu, semakin cepat pula peningkatan kualitas pendidikan tinggi dan IPTEK kita.


