Penyebab Banjir dan Longsor di Sumut Bukan Hujan, Walhi Sumut Ungkap Kerusakan Hutan

Posted on

Kerusakan Ekosistem Hutan Batang Toru Memicu Banjir Besar

Kerusakan ekosistem hutan Batang Toru menjadi salah satu faktor utama yang memicu terjadinya banjir besar di beberapa daerah. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut menyampaikan bahwa hujan bukanlah faktor utama penyebab banjir, melainkan campur tangan manusia yang signifikan. Dalam laporan mereka, ditemukan banyak kayu-kayu terbawa air dan kondisi hutan yang gundul di sekitar lokasi bencana.

Manajer Advokasi dan Kampanye Walhi Sumut, Jaka Kelana Damanik, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berulang kali menyuarakan pentingnya perhatian penuh terhadap ekosistem Batang Toru. Wilayah ini mencakup Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara. Kerusakan ekosistem ini sangat mengancam karena wilayah tersebut kaya akan flora dan fauna, termasuk orangutan tapanuli yang paling langka di dunia.

Walhi Sumut menduga kuat bahwa bencana yang terjadi saat ini diperparah oleh kebijakan pemerintah yang memberikan izin kepada perusahaan-perusahaan di ekosistem Batang Toru. Jaka mengkritik ungkapan intensitas hujan mengakibatkan banjir yang terjadi. Pemerintah seharusnya melakukan kebijakan-kebijakan yang dapat meminimalisir dampak dari bencana.

Laju deforestasi di wilayah ini sulit dibendung karena perusahaan-perusahaan yang beraktivitas di ekosistem Batang Toru melakukan penebangan pohon dengan berlindung dibalik izin yang dikeluarkan pemerintah.

Korban Jiwa dan Pengungsi

Delapan korban ditemukan meninggal akibat banjir dan longsor di Kota Sibolga. Kepala SAR Nias, Putu Arga Sudjarwadi, mengungkapkan update hasil pencarian dan evakuasi tim. Selain 8 orang meninggal, 21 orang dinyatakan masih hilang akibat bencana tersebut.

Berdasarkan data yang Tribun Medan dapatkan, 8 orang yang meninggal itu berada di Jalan Perjuangan 2 orang, Jalan Sutoyo LK I Pasar Baru 2 orang, Jalan Masjid Budi Sehati 2 orang, Lapo Uci 2 orang. Sementara data korban hilang berada di tujuh titik yakni Jalan Perjuangan 2 orang, Jalan Beo 1 orang, Lapo Uci 1 orang, Jalan Murai 10 orang, Jalan Kenanga (Aek Habil) 7 orang lebih.

“Korban lost contact M. Azhar Hasibuan (Ketua Pengadilan Agama Sibolga) sempat hilang tapi telah tiba di Posko SAR (Markas Kopi) bersama keluarga,” katanya.

Titik Lokasi Terdampak

Pihak SAR menggerakkan seluruh personel untuk melakukan pencarian dan evakuasi terhadap seluruh warga. Titik lokasi yang terdampak banjir terdiri dari Badiri, Pinangsori, Lumut, Sarudik, Tukka, Pandan, Tapian Nauli, Kolang. Sementara tanah longsor terjadi di 7 titik antara lain: Badiri, Sibabangun, Lumut, Sarudik, Tapian Nauli.

Saat ini banjir masih terus berlanjut. Tinggi airnya selutut orang dewasa. Adapun lokasi banjir terdiri dari Jalan Sibuluan Nauli (Tugu Ikan), Simpang Tukka-Sibuluan Baru, dan Pondok Batu.

Korban Jiwa dan Pengungsi

Enam jasad disimpan di Puskemas Batangtoru, Tapsel, Rabu (26/11/2025). Keenam jasad ini merupakan korban banjir bandang di tiga desa, Huta Godang, Garoga, dan Aek Ngadol. Sementara jembatan Fransiskus putus dan longsor Matauli. Namun alat-alat berat sudah mulai bekerja.

“Saat ini pengungsi di GOR Pandan kurang lebih 200 orang dan terus bertambah,” jelasnya.

Berikut jumlah KK terdampak di Sibolga dan Tapteng:
* Pandan: 150 KK
* Sarudik: 338 KK
* Barus: 65 KK
* Kolang: 1.261 KK
* Tukka: 10 KK
* Lumut: 78 KK

Korban Sekeluarga

Jumlah korban meninggal akibat hujan deras dan tanah longsor di wilayah Tapanuli Sumut terus bertambah. Di kabupaten Tapanuli Tengah (Tepteng) di antaranya terdapat empat orang sekeluarga. Keempat korban tersebut yakni Dewi Hutabarat (33), Tio Arta Rouli Lumbantobing (7), Vania Aurora Lumbantobing (4), dan Ilona Lumbantobing (3).

Basarnas mencatat tanah longsor juga melanda tujuh kecamatan antara lain Kecamatan Badiri, Kecamatan Sibabangun, Kecamatan Lumut, Kecamatan Sarudik, dan Kecamatan Tapian Nauli. “Korban longsor meninggal dunia empat orang merupakan satu keluarga,” ujar Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Nias, Putu Arga Sudjarwadi.

Putu melaporkan pada Rabu (26/11/2025) pukul 10.00 WIB Bendungan PLTA Sipan Sipahoras, Kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah telah dibuka karena debit air di bendungan sudah sangat tinggi sehingga banjir di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah semakin memburuk. Bahkan, kata dia, sampai pukul 17.00 WIB hujan juga belum berhenti dan mengakibatkan longsor di berbagai titik.

Korban Banjir di Batangtoru

Hingga Rabu (26/11/2025), sebanyak 13 orang tewas akibat bencana banjir bandang di Batangtoru, Tapanuli Selatan (Tapsel). Semua korban tewas dibawa untuk dievakuasi ke Puskesmas Batangtoru. Semula sebanyak 6 korban jiwa yang sengaja disimpan di puskemas sejak Selasa (25/11/2025).

“Siang tadi bertambah tujuh lagi. Sekarang total pasien exit (meninggal dunia) bertambah menjadi 13 korban jiwa,” ucap Kepala Puskesmas Batangtoru, Erlida Batubara kepada Tribun Medan.

13 orang warga tewas ini merupakan korban jiwa saat banjir bandang di tiga desa. Garoga, Huta Godang, dan Garoga. Kebanyakan korban tewas berasal dari Garoga dan Huta Godang. Namun ada satu korban jiwa yang didapati merupakan warga Pandan, Tapanuli Tengah (Tapteng).

200 Orang Mengungsi

Basarnas juga mencatat terdapat sekira 200 orang mengungsi di GOR Kecamatan Pandan. “Pengungsi di GOR Pandan kurang lebih 200 orang dan bertambah. Korban lost contact Ketua Pengadilan Agama Sibolga M. Azhar Hasibuan telah tiba di Posko SAR (Markas Kopi) bersama keluarga,” kata Putu.

8 Orang Korban Tewas di Humbahas

Tiga kecamatan di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara, turut terkena banjir bandang dan longsor, setelah hujan deras mengguyur wilayah itu sejak Selasa (25/11/2025). Ketiga kecamatan itu ialah, Kecamatan Pakkat, Parlilitan, dan Tarabintang. Di Kecamatan Pakkat, ada dua desa yang kondisinya memprihatinkan, yaitu Desa Panggugunan dan Desa Pulo Godang.

Banjir bandang dengan membawa material bongkahan kayu-kayu itu menerjang pemukiman warga dengan deras dan cepat. Dalam hitungan menit, rumah-rumah terseret oleh lumpur dan material longsor, menyebabkan kepanikan dan teriakan minta tolong di tengah cuaca yang gelap dan buruk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *