Makam yang Menenangkan: Kisah Sugino Merancang Tempat Peristirahatan yang Tenang

Posted on

Perubahan Makam Desa Kedungguwo yang Menjadi Ruang Ketenangan

Di desa Kedungguwo, Magetan, kawasan makam yang dulu dianggap angker dan kumuh kini berubah menjadi tempat yang ramah dan menenangkan. Jalan cor beton yang dicat dengan warna-warna cerah, sejumlah pohon palem yang berjajar, serta tanaman puring berwarna-warni menciptakan suasana yang tidak biasa bagi sebuah kawasan pemakaman.

Lahan seluas 100 x 30 meter ini kini dipenuhi oleh pohon kersen dan beberapa tanaman perdu berbunga. Meski tidak ada tanda-tanda jelas seperti papan penunjuk, warga setempat memahami bahwa kawasan ini adalah makam umum. Warga Desa Kedungpanji, Sri Puji Lestasri, mengatakan bahwa perubahan besar terjadi sejak dua tahun lalu ketika ia sedang memperbaiki makam orangtuanya.

Ia menyebutkan bahwa fasilitas baru seperti jalan masuk yang rapi dan lahan parkir dalam kompleks makam sangat membantu warga yang ingin berziarah. “Dulu belum pernah serapi ini,” ujarnya.

Tradisi Ziarah yang Menghubungkan Warga

Di desa tersebut, tradisi ziarah yang melibatkan warga dari Madiun hingga daerah lainnya tetap dilestarikan. Puji menjelaskan bahwa saat menjelang bulan puasa dan lebaran, kawasan makam menjadi ramai karena kegiatan tahlil bersama.

Sugino, pensiunan Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Magetan, menjadikan makam sebagai “kantor” keduanya sejak tahun 2014. Setiap pagi pukul 05.00 WIB, ia membersihkan makam yang awalnya berumput dan menyeramkan. Ia merasa nyaman di sana, karena ia percaya bahwa makam adalah tempat yang paling butuh kenyamanan dan ketenangan.

Perubahan yang Dilakukan Sugino

Sejak Sugino mengelola makam, gambaran seram tentang area pemakaman perlahan memudar. Rumput yang dulu melebat kini tertata, semak yang menutupi batu nisan sudah hilang, dan jalan setapak yang becek kini terdapat jalan beraspal. Bahkan, pohon buah mulai rambutan hingga beberapa tanaman perdu berbunga ditanam di titik-titik yang dulu kosong.

Sugino ingin makam menjadi tempat yang ramah untuk siapa saja, baik untuk yang berziarah, sekadar duduk barang lima belas menit, maupun keluarga yang melepas rindu pada yang tiada. Ia bahkan membawa bibit buah, menanam lombok, dan menata tanaman-tanaman agar makam tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat duka, tetapi juga sebagai ruang keteduhan.

Upaya Sendiri untuk Merubah Makam

Yang membuat perjalanan Sugino menyentuh adalah kenyataan bahwa hampir seluruh upaya untuk merubah kawasan makam yang menyeramkan menjadi makam yang menyenangkan untuk ziarah itu ia biayai sendiri melalui kotak amal kecil yang ia letakkan di area makam. Kesadaran warga datang perlahan, ditumbuhkan oleh kepercayaan yang ia jaga setulus mungkin.

Menurut Sugino, kunci untuk melakukan perubahan kondisi makam di desanya hanya satu: membangun kepercayaan. Ia menghitung sedikitnya butuh biaya Rp 118 juta untuk mengubah kondisi pemakaman di desanya yang ia catat untuk pembangunan jalan dan kebutuhan lainnya.

Inisiatif Penggalian Makam untuk Mempermudah Proses Pemakaman

Salah satu gagasan Sugino untuk membantu masyarakat yang meninggal adalah inisiatif penggalian makam untuk mempermudah proses pemakaman. Sugino mengaku sudah menyiapkan 63 liang lahat dalam kondisi siap pakai. Liang lahat diisi dengan abu batu di dasar, digali dengan standar kedalaman dan kerapian tertentu sehingga ketika ada warga yang meninggal tidak perlu menunggu 4 jam menggali kubur karena kondisi pemakaman merupakan kawasan batu kapur yang keras.

Makam sebagai Ruang Damai

Sugino mengaku ingin makam setara dengan halaman rumah, bersih, rapi, terawat, dan tidak menakutkan. Lebih dari 20 tiang lampu dia pasang termasuk kran untuk peziarah cuci tangan atau mengambil wudu tersedia mengelilingi kompleks makam. Ia juga berusaha menjaga budaya ziarah di malam hari untuk mendoakan kerabat mereka yang telah meninggal.

Menjelang Ramadhan dan Lebaran, area makam menjadi titik persiapan spiritual warga. Ratusan warga biasanya menggelar kegiatan doa bersama di makam sanak keluarag mereka. Baginya, makam harus menjadi tempat yang tidak menyeramkan, melainkan ruang untuk menenangkan diri, mengingat dan mendoakan sanak keluarga yang telah tiada.

Harapan Sugino

Di usianya yang ke-60, Sugino hanya berharap satu hal, semoga masyarakat terus mendukung dan meneruskan menjaga kebersihan makam. Karena baginya, makam bukan tempat berakhirnya perjalanan, tetapi tempat dimulainya ingatan yang panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *