Kisah Warga yang Menyaksikan Perubahan Kampung Vietnam Jadi Waduk

Posted on



JAKARTA, PasarModern.com—

Di tengah ketenangan permukaan Waduk Dukuh yang baru selesai dibangun, hanya satu-dua bangunan tua dan sebuah gapura rapuh yang menjadi jejak terakhir Kampung Vietnam.

Kawasan kecil ini telah melewati perjalanan panjang, dari kampung pengungsian, panti jompo percontohan, hingga akhirnya lenyap oleh modernisasi.

Ayuk (61), warga yang tinggal di kawasan Kampung Vietnam, berdiri di tepi waduk yang airnya memantulkan langit mendung.

Perempuan itu memandang ke arah gapura tua yang kini terlihat rapuh, dindingnya penuh grafiti, sementara atap kayunya bolong-bolong seperti digerogoti waktu.

“Dulu di sini ramai. Ada orang Vietnam, terus jadi panti jompo. Sekarang hilang semua… tinggal waduk sama satu-dua bangunan tua,” katanya kepada PasarModern.com saat ditemui, Jumat (14/11/2025).

Ayuk sudah tinggal di kawasan Jalan Diklat Depsos, Dukuh, Kramat Jati, Jakarta Timur, sejak kecil. Ia menyaksikan langsung bagaimana kawasan sederhana yang pernah menjadi tempat tinggal pengungsi Vietnam itu berubah selama lebih dari lima dekade.

Kampung ini telah bertransformasi dari kampung pengungsian, menjadi panti jompo percontohan nasional, kemudian kampung mati yang terbengkalai, hingga dikonversi menjadi waduk pengendali banjir oleh Pemprov DKI Jakarta pada 2024.

Kini, fisik Kampung Vietnam telah hilang. Yang tersisa hanya gapura tua, pondasi bangunan, satu rumah lama yang sudah kosong, serta sedikit ingatan dari warga yang pernah hidup di wilayah kecil yang kini ditelan modernisasi.

Asal-usul nama “Kampung Vietnam”

Nama “Kampung Vietnam” muncul sejak 1970-an, ketika gelombang besar pengungsian terjadi akibat puncak konflik Perang Vietnam.

Ribuan warga Vietnam mengungsi ke beberapa negara, termasuk Indonesia. Sebagian kecil di antara mereka ditempatkan di kawasan Kramat Jati oleh pemerintah Indonesia bersama lembaga internasional.

Namun masa itu tidak berlangsung lama. Setelah situasi membaik, para pengungsi dipulangkan ke Vietnam, sementara sebagian lainnya diarahkan ke Pulau Bintan dan Australia.

Bangunan yang mereka tinggalkan pelan-pelan kosong, lapuk, dan tidak lagi berpenghuni. Pak Suharno (65), salah satu warga paling senior yang ditemui PasarModern.com, masih mengingat samar-samar masa itu.

“Waktu kecil saya lihat mereka, orang-orang Vietnam itu tinggalnya tertib, rapi. Ada barak-baraknya. Mereka enggak lama di sini, cuma beberapa tahun. Tapi setelah pergi, bangunannya kosong, enggak ada yang urus,” ujarnya.

Suharno tinggal di kawasan yang sama sejak 1970-an, sehingga menjadi saksi hidup dari fase paling awal kampung tersebut. Menurut dia, setelah para pengungsi meninggalkan kawasan itu, pemerintah memanfaatkan kompleks tersebut sebagai fasilitas sosial baru.

“Saya sudah tua jadi tidak terlalu ingat, tapi kayanya sebelum tahun 1990-an, kompleks bekas kampung pengungsian itu pernah dialihfungsikan menjadi panti jompo,” cerita Suharno.

Kawasan kembali hidup

Kawasan itu kembali hidup. Ratusan lansia tinggal di sana dengan fasilitas yang pada masanya terbilang sangat lengkap.

Hal serupa disampaikan Yusron (52), warga yang sejak remaja sering menghabiskan waktu di kawasan tersebut.

“Fasilitasnya lengkap. Ada dapur besar, ruang kegiatan lansia, taman rindang. Tempat ini dulu benar-benar hidup,” ujarnya.

Namun bencana datang pada 2002. Banjir besar yang melanda Jakarta tidak hanya merusak banyak wilayah, tetapi juga menghentikan operasional panti tersebut.

“Waktu banjir itu, airnya tinggi sekali. Semua dievakuasi dan tidak ada yang pernah sama lagi,” kata Yusron.

Menurut warga, sejak banjir 2002 kawasan itu terus terendam setiap musim hujan. Pengelola panti perlahan meninggalkan tempat itu karena tidak lagi layak. Pada akhirnya, bangunan dibiarkan tanpa perawatan hingga rusak dimakan usia.

Transformasi menjadi kampung mati

Ketika panti jompo tidak lagi berfungsi, kawasan itu perlahan berubah menjadi kampung mati. Rumput ilalang tumbuh sepanjang jalan, bangunan terbengkalai, dan aktivitas manusia hampir tidak ada.

Sarif (44), warga dari RW sebelah yang kini hampir setiap sore memancing di waduk baru, mengingat bagaimana kondisi kawasan itu pada masa kampung mati.

“Dulu mah kumuh, gelap, banyak nyamuk, bangunan pada nganggur. Anak kecil suka dilarang main ke sini,” katanya.

Rachma (59), warga yang tinggal di permukiman dekat Kampung Vietnam sejak 1990-an, juga mengenang masa-masa saat kawasan itu menjadi titik yang sangat suram.

“Saya masih ingat, dulu banyak bangunan kosong. Ada yang rusak, ada yang roboh. Orang sini jarang berani lewat malam-malam, takut katanya,” ujarnya sembari tersenyum.

Ia juga pernah melihat beberapa warga luar menempati bangunan kosong sebelum akhirnya digusur petugas.

“Ada ada, ada yang bertahan dulu sekitar sepuluh rumah kayanya, tapi itu bukan warga Vietnam ya tapi warga sekitar sini,” tuturnya.

Pada 2010-an, kondisi kampung makin memburuk. Drainase tak terurus, bangunan rusak, dan bau lembap merebak dari rumah-rumah yang ditinggalkan.

Relokasi dan pembongkaran

Pada 2024 menjadi titik balik. Pemprov DKI Jakarta memulai pembangunan waduk pengendali banjir di kawasan tersebut. Beberapa warga yang masih tinggal direlokasi, bangunan tua dirobohkan, dan kawasan dibersihkan.

Kini, area itu telah berubah sepenuhnya. Yang dulu merupakan kompleks pengungsian, lalu panti jompo, kemudian kampung mati, telah menjelma menjadi hamparan air luas dengan dua kolam utama.

Struktur waduk tampak rapi. Talud beton membentang di sisi-sisinya, dan jalur beton memanjang ke tengah kolam untuk fasilitas pemeliharaan. Sesekali, beberapa warga terlihat memancing sambil duduk santai di tepian.

Andra, seorang satpam yang bertugas, mengatakan waduk ini kini berfungsi dengan baik.

“Sudah rapi. Tembok pembatas, drainase, semua dibangun baru. Yang tersisa cuma gapura sama sedikit bangunan tua. Itu pun sudah enggak dipakai,” ujarnya.

Satu-satunya rumah lama yang masih bertahan kini sudah kosong.

“Rumah itu paling pojok. Itu dulu ditempatin warga setelah zaman pengungsi. Tapi sekarang sudah enggak ada orangnya,” kata Andra.

Menelusuri sisa-sisa kampung

PasarModern.com menelusuri kawasan bekas Kampung Vietnam. Memasuki gang sempit yang masih dihuni warga, pengunjung disambut gapura tua berlumut.

Atap kayunya rusak, pilar betonnya penuh coretan, dan beberapa bagian mulai retak. Di balik gapura, aliran sungai kecil membelah kawasan. Airnya mengalir pelan sambil membawa sampah plastik dan dedaunan.

Talud beton baru yang dibangun menegaskan adanya upaya serius pemerintah menata ulang fungsi kawasan ini. Di sisi kiri sungai, lahan yang dulu berisi bangunan panti dan barak pengungsi kini sudah rata dan dipenuhi rumput baru.

Semua sudah hilang.

Nilai sejarah

Untuk memahami nilai sejarah Kampung Vietnam, PasarModern.com mewawancarai pengamat tata kota Yayat Supriatna. Menurut dia, banyak kampung di Jakarta yang memiliki nama historis, namun tidak lagi memiliki identitas fisik yang menegaskan sejarah itu.

“Kalau jejak sejarah itu tidak berkontribusi besar pada perkembangan kota dan tidak ada penandanya, ya lama-lama hilang. Seperti banyak nama kampung di Jakarta: Kampung Melayu, Kampung Ambon, Kampung Bahari tinggal nama saja,” ujarnya.

Urbanisasi, kebutuhan lahan, dan pembangunan infrastruktur menjadi faktor utama hilangnya jejak kampung lama. Ia menilai pembangunan waduk di Kampung Vietnam memang lebih mendesak.

“Jakarta butuh ruang air. Kalau kawasan ini dipilih untuk kolam retensi, ya itu kebutuhan kota. Nama Kampung Vietnam bisa tetap dipakai, tapi identitas fisiknya mungkin memang harus hilang karena prioritas penyelamatan kota lebih besar,” jelas Yayat.

Ia membandingkan situs ini dengan Pulau Galang, eks kamp pengungsi Vietnam yang jauh lebih besar dan terstruktur. Pulau Galang memiliki situs-situs bekas kamp yang masih terjaga, sementara Kampung Vietnam Jaktim hanya berfungsi sebagai penampungan sementara pada masa perang, sehingga nilai fisiknya tidak sebesar di Batam.

Antara modernisasi dan ingatan yang memudar

Kini, Kampung Vietnam lebih dikenal sebagai kawasan waduk baru. Namun bagi warga sekitar, nama itu menyimpan cerita panjang tentang pengungsi yang datang dari jauh.

Sarif berharap gapura tua yang tersisa tidak dibongkar. “Menurut saya bagus dibiarkan. Biar ada jejaknya. Orang lewat jadi tahu tempat ini punya sejarah,” ujarnya.

Pendapat serupa datang dari Suharno. “Kalau semua dihilangkan, hilang cerita kampung ini. Walaupun cuma gapura, itu penanda masa lalu,” katanya.

Sebagian warga memahami bahwa keselamatan dan fungsi waduk lebih penting. “Enggak apa-apa kampungnya jadi waduk. Yang penting ada sedikit saja penandanya, supaya generasi baru tahu bahwa dulu di sini pernah ada orang-orang tinggal,” kata Rachma.

Kini Kampung Vietnam hanya tinggal nama di peta dan kenangan warga. Tidak ada lagi bangunan pengungsian, panti jompo percontohan, atau rumah-rumah tua yang dulunya dihuni puluhan keluarga.

Yang tersisa hanya gapura, pondasi bangunan, satu rumah kosong, dan jejak samar yang perlahan ditutup rumput baru.

Namun bagi warga seperti Ayuk, Suharno, Rachma, Sarif, dan Yusron, kampung itu tidak pernah benar-benar hilang.

“Kadang terbayang, dulu orang-orang lewat sini, ada yang tua, ada yang habis perang, ada yang sakit. Sekarang semua berbeda,” kata Rachma.

Di tengah modernisasi Jakarta, fragmen sejarah kecil itu bertahan dalam bentuk paling sederhana, yakni ingatan warga yang menjadi saksi hidup dari sebuah kampung yang pernah bernapas, lalu lenyap, dan akhirnya berganti rupa demi menyelamatkan kota.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *