Nurul, ASN yang Menyelamatkan Bilqis, Suku Anak Dalam Menangis saat Anaknya Dibawa

Posted on

Sosok Nurul Anggraini Pratiwi dalam Upaya Penyelamatan Bilqis

Nurul Anggraini Pratiwi, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) wanita, menjadi satu-satunya perempuan yang terlibat langsung dalam upaya penyelamatan Bilqis (4), bocah korban penculikan asal Makassar, Sulawesi Selatan. Perannya dalam misi ini menunjukkan dedikasi dan keberanian yang luar biasa, terlebih karena ia harus melintasi hutan yang sulit dan berbahaya untuk menemukan anak tersebut.

Selain Nurul, ada juga tokoh dari Suku Anak Dalam (SAD), yaitu Temenggung Joni, yang bertindak sebagai mediator antara polisi dengan kelompok Temenggung Sikar, mertua dari Begendang, yang merawat Bilqis di tengah hutan. Tidak hanya itu, ada juga Temenggung Roni yang turut serta dalam proses penyelamatan.

Nurul menjadi satu-satunya perempuan yang mencari dan menemukan Bilqis selama berjam-jam, melewati jalan berbatu dan berdebu yang dikurung oleh kebun sawit hingga ke tengah hutan. Keempat orang ini menjadi ujung tombak dalam penyelamatan Bilqis pada malam hari di tengah hutan.

“Saya tidak merasa takut karena ada tiga orang temenggung yang menjaga saya,” kata Nurul saat ditemui di kantornya, Kamis (13/11/2025). Ketakutan dirinya tidak sebanding dengan keselamatan Bilqis, yang menjadi fokus utamanya dalam misi penyelamatan tersebut.

Ketika berjalan melintasi hutan menuju lokasi keberadaan Bilqis dan keluarga Begendang, ketiga temenggung menjaganya dari semua sisi, untuk melindungi Nurul dari marabahaya. “Mereka saat menjaga, hingga berjalan lambat, supaya saya tidak ketinggalan dan tetap dalam radius penjagaan mereka,” kata perempuan lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung ini.

Kedekatan Nurul dengan Orang Rimba sudah menjadi warisan dari orangtuanya, Budi Vrihaspati, yang telah menjadi aktivis Kelompok Peduli Suku Anak Dalam (Kopsad). “Dari kecil terbiasa berinteraksi dengan saudara dan keluarga saya SAD ini,” kata Nurul. Karena itu, saat diminta membantu menyelamatkan Bilqis di Orang Rimba, ia langsung meninggalkan urusan di Bungo, kemudian meluncur ke lokasi.

Selain Nurul, ada dua rekannya dari Dinas Sosial Merangin, yakni Azrul Affandi dan Husnul Hotim. Lantaran Nurul berangkat dari Bungo, dia sendirian menerabas jalan berdebu dan berbatu dari simpang Mentawak menuju kediaman Temenggung Sikar.

Ia berangkat pas tengah hari mengendarai sepeda motor hingga sekitar pukul 14.00 WIB, tiba di rumah Temenggung Sikar. Sudah ramai tim dari kepolisian Makassar menunggu negoisasi tiga temenggung dengan Begendang, yang tinggal di Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi.

Tak berapa lama menunggu, ketiga temenggung pun kembali dan membawa Nurul untuk menjemput Bilqis. Dari permukiman Temenggung Sikar, mereka berempat menempuh perjalanan selama lebih dari dua jam. Matahari hampir terbenam saat mereka berangkat ke Bukit Suban. Rinai hujan menyertai perjalanan mereka.

“Pas sekitar pukul 7 malam, kami tiba di Bukit Suban. Lalu berjalan kaki, untuk sampai lokasi Bilqis berada,” kata dia. Sesampainya di sudong atau rumah sederhana beratap terpal dengan lantai kayu gelondongan, Nurul menyaksikan Bilqis dan orangtua angkatnya menangis.

“Kami awalnya menunggu sampai anaknya diantar oleh Begendang. Cuma anaknya menangis, dia tidak mau lepas dari orangtua angkatnya,” kata Nurul. Setelah menunggu hampir satu jam, Bilqis tetap tidak mau lepas, maka dengan perlahan Nurul mengambil “paksa” Bilqis.

“Bilqis masih menangis. Saya minta maaf saya peluk ibu angkatnya dan anaknya-anaknya, saya tenangkan mereka dulu, baru kemudian bawa Bilqis pergi,” kata Nurul. Sebenarnya, Begendang dan keluarganya sudah legawa melepas Bilqis, tetapi harus menunggu karena Bilqis belum mau lepas.

“Secara psikologis juga anak itu kan berpindah-pindah, jadi dia merasa aman nih sama keluarga yang sekarang, jadi wajar merasa aman,” kata Nurul. Meski demikian, tidak ada ancaman maupun perlakuan dari Orang Rimba yang kemudian dapat mengancam nyawa.

Ketika Bilqis sudah berada dalam dekapan Nurul, mereka sempat berkenalan dan berbincang singkat. Awalnya Bilqis takut, mungkin dia mengira Nurul bagian dari penculik dan anak ini tidak bisa melihat wajah Nurul dengan jelas karena berjalan dalam gelap.

“Saya bilang akan mengembalikan Bilqis ke orangtua, lalu dia tanya siapa itu Temenggung Sikar, Jon, dan Roni. Tidak apa kata saya, mereka orang baik,” kata Nurul saat berbincang dengan Bilqis.

Setelah beberapa jam berjalan, pihak kepolisian dari Makassar menunggu kami di jalan, mereka meminta Bilqis bersama mereka. “Saya pergi dengan Bilqis ke mobil polisi rombongan Makassar dan meninggalkan tiga temenggung yang berada di mobil berbeda. Kami langsung meluncur ke Polres Merangin,” tuturnya.

Saat dalam mobil polisi dari Makassar, mereka video call dan menunjukkan Bilqis sedang bersama Nurul. Tiba di Polres Merangin sudah jam 21.00 WIB. Nurul lantas mengusap sekujur badan Bilqis dengan tisu basah, kemudian mengganti bajunya. Setelah itu ia menyuapi Bilqis makanan. Usai makan, Nurul pun meminta Bilqis untuk menulis, sebagai diagnosis terhadap rasa trauma.

“Saya terkejut, dia gambar wajah saya, lalu kemudian ibunya dan simbol hati, yang menyimbolkan rasa cinta,” kata Nurul. Ia tahu, perjalanan kembali Bilqis masih panjang. Maka, dia melipir meninggalkan Bilqis bersama polisi.

“Jangan sampai terlalu dekat, nanti saya menghambat proses pengembalian Bilqis ke Makassar,” kata Nurul. Perempuan berusia 31 tahun ini merasa senang menjadi bagian kecil dalam upaya menyelamatkan Bilqis, korban penculikan anak.

“Keamanan Bilqis menjadi yang paling utama,” tutup Nurul.

Jaringan Pelaku Penculikan yang Melibatkan Berbagai Provinsi

Fakta baru terungkap dari kasus penculikan Bilqis (4), bocah asal Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Polisi mengidentifikasi jaringan pelaku yang beroperasi lintas provinsi. Kapolda Sulsel Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro mengatakan, para tersangka tidak hanya beraksi di Makassar. Jaringan mereka juga terdeteksi di Bali, Jawa Tengah, Jambi, dan Kepulauan Riau.

“Saat ini tersangka sudah memberikan keterangan terkait tempat kejadian lain di empat provinsi tersebut,” ujar Djuhandhani di Mapolda Sulsel, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Kamis (13/11/2025). Ia menjelaskan, penyidikan dilakukan bersama Bareskrim Polri karena kasus ini melibatkan lintas wilayah hukum.

“Ada keterbatasan yurisdiksi di tingkat Polda, sehingga kami koordinasikan dengan Bareskrim,” ucapnya. Menurut Djuhandhani, pengungkapan ini merupakan bentuk komitmen Polri menjalankan fungsi perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat melalui penegakan hukum yang tegas.

Sebelumnya, polisi menetapkan empat orang sebagai tersangka, yakni SY (30), NH (29), MA (42), dan AS (36). Mereka ditangkap di lokasi berbeda dan kini ditahan di Mapolrestabes Makassar. Para pelaku dijerat Pasal 83 jo Pasal 76F UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 2 ayat 1 dan 2 jo Pasal 17 UU No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Ancaman hukumannya mencapai 15 tahun penjara.

Djuhandhani menyebut, motif pelaku murni karena faktor ekonomi. “Mereka menjual anak untuk memenuhi kebutuhan hidup,” katanya. Polisi menyita barang bukti berupa empat ponsel, satu kartu ATM BRI, dan uang tunai Rp1,8 juta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *