5 Prinsip Pendidikan untuk Anak Bahagia ala Finlandia

Posted on

Pendekatan Pendidikan yang Berfokus pada Kebahagiaan Anak

Di tengah arus pendidikan yang sering menilai anak dari kecepatan membaca, berhitung, atau mengerjakan tugas secara akademik, sebuah institusi pendidikan di Menteng datang membawa perspektif baru. Mereka percaya bahwa belajar yang baik tidak dimulai dari tekanan, tetapi dari kebahagiaan. Di dalam setiap ruang kelasnya, satu prinsip selalu menjadi pegangan: “Setiap anak berhak belajar tanpa tekanan, tanpa rasa takut salah, dan tanpa kehilangan keinginannya untuk bertanya.”

Institusi ini mengadaptasi pendekatan pendidikan dari kurikulum Finlandia, yang tidak sekadar mengasah kemampuan akademik, tetapi juga membangun fondasi karakter. Proses belajar-mengajar dirancang agar anak memiliki percaya diri secara sosial, stabil secara emosional, dan kuat secara akademik sejalan dengan resiliensi, komunikasi, dan kemampuan memecahkan masalah.

Lima Prinsip Pendidikan yang Membentuk Anak Bahagia ala Finlandia

  1. Rasa ingin tahu dan kreativitas: fondasi pembelajaran anak



    Prinsip pertama adalah fokus pada joyful learning dan holistic development. Setiap pembelajaran selalu dimulai dari rasa ingin tahu anak. Anak lahir dengan naluri untuk bertanya, mencoba, dan mengeksplorasi dunia. Otak anak usia dini belum sepenuhnya berkembang, sehingga mereka belajar melalui refleksi dan pengalaman langsung, bukan hanya instruksi verbal atau perintah.

Dengan memberikan ruang untuk eksplorasi, anak akan terbiasa membuat kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut. Hal ini membangun jiwa lifelong learner yang senang belajar sepanjang hidup.

  1. Partisipasi aktif: setiap anak adalah pemimpin



    Partisipasi aktif adalah ketika anak benar-benar terlibat dalam proses belajar, bukan sekadar menerima informasi. Mereka menyentuh, mencoba, berdiskusi, dan bereksperimen, menghubungkan teori dengan pengalaman nyata. Dengan cara ini, pembelajaran menjadi relevan, berkesan, dan mudah diingat, sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu dan kreativitas anak.

Aktivitas interaktif seperti permainan peran atau proyek kelompok melatih empati, komunikasi, dan kemampuan mengelola emosi.

  1. Berikan anak kepercayaan: superpower bagi self-esteem



    Kepercayaan adalah fondasi hubungan sosial. Saat ada budaya kepercayaan di sekolah maupun di rumah, anak merasa aman untuk mencoba, gagal, dan belajar dari kesalahan. Guru seyogianya melihat keunikan setiap anak, menghargai kekuatan masing-masing, dan menekankan bahwa setiap anak selalu berusaha melakukan yang terbaik. Tidak ada tekanan untuk menjadi “sempurna”, hanya dukungan untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka.

  2. Hidup berkelanjutan: membiasakan anak peduli lingkungan dan sosial



    Belajar berkelanjutan di sekolah bukan hanya soal teori, tetapi praktik sehari-hari. Anak-anak perlu diajarkan menghargai alam, memilah sampah, menggunakan kembali barang, dan memahami konsep circular economy melalui aktivitas konkret. Contohnya, program pengelolaan sampah dan daur ulang, meningkatkan kualitas udara melalui ventilasi, adanya ruangan terbuka hijau, serta kurikulum berbasis lingkungan.

  3. Belajar di mana saja, kapan saja: dunia adalah kelas terbesar



    Setiap momen bisa menjadi kesempatan belajar. Anak usia dini belajar dengan bergerak dan beraktivitas, bukan duduk manis mengembangkan akademiknya. Contoh kecilnya dapat dimulai dari saat makan, memakai sepatu, membuat kue dengan keluarga, atau mengikuti perayaan budaya. Setiap pengalaman adalah pelajaran berharga yang membangun anak menjadi pembelajar seumur hidup.

Mengapa Anak Harus Belajar dengan Bahagia?



Pendidikan untuk anak usia dini tidak dapat memisahkan antara bermain dengan belajar. Bermain dan belajar adalah satu kesatuan, mereka bermain saat belajar, dan belajar saat bermain. Play-based learning adalah cara belajar yang paling alami dan efektif untuk anak. Lewat free play dan role play, anak terlibat aktif dalam berpura-pura menjadi dokter, pedagang, atau ilmuwan kecil. Di situ mereka belajar mengambil keputusan, bekerja sama, dan mengekspresikan emosi tanpa tekanan untuk “benar atau salah”.

Dari sisi perkembangan otak, anak usia dini belum siap menerima pembelajaran abstrak dalam durasi panjang. Berdasarkan penelitian dari Center on the Developing Child, Harvard University, korteks prefrontal, yakni bagian otak untuk fokus, disiplin, dan pengambilan keputusan baru berkembang optimal setelah usia 5–6 tahun.

Tentang HEI School SPM Menteng



HEI Schools (Helsinki International Schools) didirikan pada tahun 2016 melalui kolaborasi antara University of Helsinki bersama para ahli pendidikan dan desain yang berpengalaman. Sekolah ini memastikan bahwa setiap anak dapat belajar dalam lingkungan yang aman, suportif, dan menghargai keunikan diri mereka. Ekspansi institusi ini di Indonesia dimulai melalui HEI Schools Senayan, yang kini berkembang bersama Sekolah Perkumpulan Mandiri, Menteng untuk menjangkau lebih banyak komunitas dan keluarga.

Bukan hanya membawa standar pendidikan Finlandia ke Indonesia, sekolah ini juga merangkul budaya lokal. Dari desain ruang, pilihan material, hingga karya seni, semua banyak melibatkan kreasi anak bangsa. Anak belajar dalam lingkungan berkelas dunia, tanpa kehilangan akar identitasnya. Rutinitas harian dibuat mengikuti ritme alami anak. Ada waktu tidur siang untuk memulihkan energi, sehingga mereka kembali bermain dan belajar dengan hati yang tenang. Playground yang luas pun bukan sekadar tempat bermain, tetapi ruang untuk mendukung keberanian, mencoba, dan stimulasi motoriknya. Desain Scandinavian dengan warna earthy dipilih agar tidak bising secara visual. Sehingga melahirkan lingkungan yang tenang membuat anak fokus, nyaman, dan merasa aman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *