Merawat Ayam dan Burung, Jalur Tak Terduga untuk Penghasilan Tambahan

Posted on

Saat masa kecil, rutinitas pagi dan sore yang selalu dilakukan adalah memberi makan dan minum untuk hewan peliharaan. Tidak pernah terbayang bahwa pengalaman masa lalu itu akan menjadi bermanfaat ketika dewasa.

Dulu, saya tinggal bersama kakek. Kakek memiliki ayam kampung dan berbagai jenis burung seperti perkutut dan kutilang. Karena jumlahnya banyak, kakek membutuhkan bantuan orang lain untuk merawatnya. Dari rutinitas tersebut, secara tidak sadar tumbuh rasa cinta saya pada burung dan ayam. Kecintaan kakek pada hewan ternyata menurun ke cucunya.

Kegembiraan saat bisa bermain dengan ayam, terutama anak ayam. Sering kali iseng mengejar-ngejar anak ayam atau memandikan burung dengan menyemprot air dari mulut. Namun, kesedihan juga muncul ketika ada ayam yang mati karena penyakit tetelo. Penyakit ini sangat menular dan membuat banyak ayam mati.

Sebelum mati, kakek memilih menyembelih ayam tersebut. Daging ayam dimasak oleh nenek menjadi opor atau dibakar. Rasa daging ayam kampung sangat lezat. Kesedihan lainnya terjadi ketika burung kabur. Pintu sangkarnya terbuka sedikit, sehingga burung bisa keluar. Tapi tidak apa-apa, yang penting burung bisa terbang ke alam bebas.

Saat ayam bertelur, telur-telur itu dititipkan ke warung-warung sekitar rumah. Senang sekali ketika mengantarkan telur dan mengambil uang hasil penjualan. Seiring waktu, hewan peliharaan sendiri yang dipelihara adalah burung merpati. Dari satu pasang, jumlahnya semakin banyak karena beranak pinak. Akhirnya, burung-burung itu dijual. Mengurusnya sangat merepotkan karena terlalu banyak.

Saat sudah dewasa, menikah dan berkeluarga, kegemaran masa kecil masih terus berlanjut. Kegemaran itu bahkan membantu tambahan penghasilan, meski tidak seberapa. Yang penting hobi tetap jalan.

Memelihara hewan peliharaan menjadi pelarian untuk menenangkan jiwa. Ketika isi kepala kusut oleh target pekerjaan, semua buyar saat bercengkerama dengan hewan-hewan peliharaan. Ada gelojak rasa tertentu yang membuat hati gembira.

Memelihara Ayam Kampung

Saat punya anak satu, kami tinggal di Depok. Rumah kontrakan berada di tengah-tengah perkampungan Betawi, dekat pinggiran Sungai Ciliwung. Sekitar rumah kontrakan sangat asri dan hijau oleh pepohonan besar. Di depan dan samping kanan rumah adalah kebun belimbing. Di kiri rumah, kebon pisan. Dan di belakang rumah, ada pohon rambutan, belimbing, mangga, petai, cengkeh, jambu batu, dan durian.

Halaman belakang menjadi surga bagi ayam-ayam yang saya pelihara. Selain teduh oleh pohon-pohon, halaman belakang subur dengan rerumputan. Ada juga rumput ilalang yang tumbuh tinggi, tempat ayam bertelur diam-diam.

Awalnya, memelihara ayam kampung tidak disengaja. Awalnya dari induk ayam yang bertelur di bawah semak belukar dan rumput ilalang di bawah pohon jambu batu. Induk ayam itu mengerami telurnya selama 21 hari hingga lahirlah anak-anak yang lucu. Induk ayam kampung itu berwarna putih polos. Pemiliknya, Bang Jali, orang Betawi pemilik warung kecil dekat rumah. Beliau memiliki banyak ayam kampung yang dibiarkan berkeliaran.

“Ah, ayam gue beranak di situ yeh… dia udah nggak mau balik ke kandangnya. Lu mau? Udah deh buat lu aja,” ujar Bang Jali. Saat itu, saya memberitahu kalau ayam putihnya ada di halaman belakang rumah saya. Akhirnya, ayam itu resmi saya pelihara. Pak Haji, pemilik rumah kontrakan memberikan ijin. Tak lupa, istri juga ikut mengijinkan.

Ayam itu dibuatkan kandang untuk bermalam dan berlindung. Tapi ayam kampung memiliki sifat alami, yaitu jika senja turun, mereka mencari pohon untuk bertengger. Pohon mangga, jambu, dan rambutan menjadi pilihan ayam untuk betengger. Daun-daunnya rimbun, cukup aman berlindung saat hujan.

Lambat laun, ayam-ayam mulai banyak. Mereka beranak pinak. Kadang tanpa saya tahu, selalu muncul dari balik rimbunan rumput ilalang, seekor induk ayam dengan rombongan anak-anaknya.

Telur ayam kampung menjadi favorit saat itu. Olahan aneka makanan telur sering dimasak, mulai dari telur rebus, telur ceplok hingga telur rendang. Telur-telur itu suatu saat saya tawarkan ke rekan kerja. Mereka terperanjat saat tahu saya memelihara ayam kampung. Dan kini, menjual telur ayam kampung.

Telur-telur ayam kampung dijual murah saja. Rp 2500 per butir. Waktu itu sekitar tahun 2011. Akhirnya, di lingkungan tempat kerja saya resmi jadi agen pemasok telur. Di benak saya, bukan pemasok telur, tapi sebagai agen kesehatan. Bukankah gizi telur ayam bagus untuk kesehatan kita?

Memelihara Burung Lovebird

Pada masa pandemi wabah Covid-19, anak-anak bersekolah di rumah. Anak bungsu ditugaskan guru IPA untuk memelihara hewan ternak. Burung Lovebird dipilih karena si bungsu suka dengan warna-warni bulunya. Dan juga suaranya yang ramai dan nyaring. Rumah menjadi berisik. Bising suara burung. Tapi rumah jadi hidup.

Tahun 2020 dan 2021 masih suasana pandemi. Tapi di tahun-tahun itu, Burung Lovebird peliharaan anak saya malah sudah beranak pinak. Sehingga akhirnya dibuatlah kandang lebih besar di pekarangan rumah. Burung Lovebird mudah sekali kawin, sehingga selalu beranak pinak. Mereka bertelur lalu telurnya dierami. Keistimewaan burung ini setia pada pasangannya.

Jika si betina mengerami telur, si jantan bertugas menjaga di depan pintu kandang kotak kayu. Jika si betina keluar sebentar karena mau makan dan minum, gantian si jantan yang akan mengerami telurnya. Pokoknya si jantan ini setia. Saat telur menetas pun, jantan dan betina ini akan sama-sama mengurus anak burung dan membesarkannya. Mereka mengajarkan makan dan terbang. Mereka bergelantungan. Berloncatan. Sungguh menggemaskan.

Karena di tahun-tahun masa pandemi itu, pekerjaan saya bisa dilakukan dari rumah, maka saya bersyukur punya banyak waktu untuk mengurus burung-burung yang semakin banyak. Dari satu pasang, menjadi dua pasang, tiga pasang. Hingga akhirnya menjadi sembilan pasang dengan warna-warni bulu yang cantik.

Pada saat itu, ternyata Burung Lovebird menjadi trend di kalangan pecinta burung. Harga jualnya mahal, tergantung warna dan kondisi fisiknya. Warna hijau, harga burungnya paling rendah. Yang paling mahal, berwarna kuning dan putih.

Suatu pagi sekitar 9 pagi, saat sedang membersihkan kandang burung, tiba-tiba ada suara yang menyapa. “Punten, ngeganggu sebentar … burungnya dijual?” Kemudian dijawab bahwa burung-burung ini tidak dijual. Tetapi bapak yang bertanya tadi, merayu saya kalau Burung Lovebird yang berwarna putih itu ingin dimilikinya. Mau dihadiahkan kepada istrinya.

Saya bergeming. Saat itu, kandang sudah kotor. Perlu segera bersih. Saya melanjutkan bersih-bersih. Rupanya si bapak itu terus memperhatikan burung putih itu. Akhirnya saya luluh, kemudian saya tanya. “Bapak mau bayar berapa?” Dan kagetlah saya, ketika dia menyodorkan 5 lembar uang berwarna merah.

“Ini yah … untuk sepasang burung warna putih itu. Nuhun,” ujar si bapak pembeli burung. Ketika anak saya pulang sekolah (saat itu sudah mulai sekolah lagi walau cuma 3 jam karena masih wabah Covid), anak saya menangis terisak-isak. Dia merasa kehilangan. Sepertinya tidak tega dengan burung putih yang dijual tadi.

Lucunya, esok harinya sebelum berangkat sekolah, anak saya berpesan kalau ada yang mau beli. Jual saja. Asal jangan yang warna kuning. Karena burung warna kuning itu kesayangannya.

Rupanya, minggu depan ada lagi orang yang membeli burung Lovebird lagi. Kini yang dibeli burung warna hijau. Harga sepasang empat lembar uang warna biru. Lebih murah.

Ternyata dari pengalaman mengurus hewan peliharaan itu, ada saja hal-hal di luar dugaan kita. Dari hobi, bisa mendapat teman dan kenalan baru. Dan dari hobi itu, ternyata bisa menambah penghasilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *