Mengenal Fenomena ‘Tall Poppy Syndrome’
Ketika seseorang mencapai prestasi atau kesuksesan, hal tersebut sering kali dianggap sebagai sesuatu yang layak dirayakan. Namun, di balik sinar keberhasilan tersebut, terkadang muncul berbagai bentuk gangguan yang tidak terduga. Dalam lingkungan sekitar, kita mungkin pernah mengamati pemandangan yang kurang menyenangkan: gosip, kritik tajam, bahkan upaya untuk menjatuhkan seseorang yang sedang bersinar.
Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah ada kondisi psikologis tertentu yang melatarbelakangi perilaku seperti ini? Untuk menjawabnya, kita perlu memahami istilah ‘Tall Poppy Syndrome’.
Apa Itu ‘Tall Poppy Syndrome’?
Dilansir dari Newport Institute (April 2022), ‘Tall Poppy Syndrome’ adalah fenomena psikologis di mana seseorang melakukan tindakan meremehkan, menjatuhkan, atau menghukum kesuksesan orang lain dengan memberikan kesan bahwa mereka “tidak pantas” mendapatkannya. Fenomena ini biasanya muncul dari rasa iri dan ketidakamanan yang tersembunyi.
Dampak dari ‘Tall Poppy Syndrome’ bisa sangat besar. Orang yang berhasil bersinar seringkali menjadi korban dan akhirnya merasa tidak percaya diri. Mereka cenderung menarik diri, tidak lagi berani mengambil risiko, dan lebih memilih untuk menjaga diri sendiri daripada berkarya.
Sejarah Singkat ‘Tall Poppy Syndrome’
Menurut Medical NT (Juni 2024), istilah ini berasal dari kisah kuno tentang seorang raja bernama Tarquin. Ketika utusan bernama Sextus datang meminta petunjuk, Tarquin diam saja. Ia lalu pergi ke kebun miliknya dan menebas semua bunga poppy yang tinggi menggunakan pedang. Perbuatan ini dianggap sebagai simbol untuk “meruntuhkan” para bangsawan yang dianggap terlalu dominan.
Dari sini, ‘Tall Poppy Syndrome’ menjadi metafora bagi tindakan merendahkan orang yang unggul atau sukses agar terlihat setara atau lebih kecil. Perbuatan ini umumnya dilakukan karena rasa cemburu, ketidakamanan, dan iri hati.
‘Tall Poppy Syndrome’ dalam Kehidupan Nyata
Di dunia nyata, ‘Tall Poppy Syndrome’ bisa terlihat di berbagai lingkungan, mulai dari sekolah, tempat kerja, hingga komunitas. Orang-orang yang menonjol sering kali menjadi sasaran kritik, gosip, dan sindiran. Tidak jarang, mereka diserang secara bersama-sama oleh orang-orang yang merasa sefrekuensi dengannya.
Banyak cara digunakan untuk menjatuhkan seseorang yang sukses. Mulai dari menyebarkan berita buruk, mencari-cari kesalahan, hingga menyampaikan sindiran yang menyakitkan. Tujuannya biasanya hanya satu: ingin “menebas” posisi orang yang menonjol agar dirinya bisa ikut terlihat.
Penyebab ‘Tall Poppy Syndrome’
Menurut Newport Institute dan Psychology Today, empat faktor utama yang melatarbelakangi ‘Tall Poppy Syndrome’ antara lain:
- Rasa Iri: Bukan hanya keinginan untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain, tetapi juga kesadaran bahwa dirinya tidak mampu mendapatkannya. Akibatnya, rasa iri ini disembunyikan melalui gaslighting, kritik, atau sabotase.
- Budaya Kelompok: Tidak semua kelompok memiliki suasana positif. Ada kelompok yang menolak keunggulan orang tertentu, sehingga membuat mereka jadi mangsa kritik dan penghinaan.
- Inferiority Complex: Ketika melihat orang lain sukses, pengidap ‘Tall Poppy Syndrome’ merasa inferior. Bukan berusaha meningkatkan diri, mereka justru memilih untuk merendahkan orang yang berhasil.
- Perasaan Tidak Aman: Rasa tak aman ini sering kali menjadi dasar dari tindakan merusak dan menjatuhkan orang lain.
Bahaya dan Dampak ‘Tall Poppy Syndrome’
‘Tall Poppy Syndrome’ bisa sangat berbahaya. Di zaman modern, istilah ini sering disebut sebagai ‘toxic popularity’. Perilaku ini tidak hanya menyebarkan racun, tetapi juga bisa menular. Aksi ‘menebas’ ini bisa datang dari banyak arah, baik secara individu maupun bergerombol.
Akibatnya, korban bisa mengalami dampak jangka panjang, terutama terhadap mental. Mereka bisa kehilangan rasa percaya diri, takut untuk bertindak, dan ragu untuk berkarya kembali. Potensi-potensi yang selama ini dikembangkan pun bisa terkubur.
Berkembang Tanpa Merusak Bunga yang Lain
Sebagaimana nasihat Prof. Hugo de Vries dalam buku Psikologi Perkembangan (1986), setiap jiwa memiliki waktunya untuk berkembang dengan sebaik-baiknya. Jadi, mengapa harus merasa takut sampai-sampai merusak bunga yang lain?
Melihat seseorang diredupkan sinarnya bisa sangat miris. Sindiran, ghibahan, atau bahkan komentar yang kurang pantas bisa dianggap negatif oleh ‘Tall Poppy Syndrome’. Padahal, hal-hal positif seharusnya diterima dengan tangan terbuka.
Meski kita tidak bisa mengontrol apa yang orang lain lakukan, kita bisa memilih bagaimana meresponsnya. Merusak, menebas, atau meremehkan orang lain tidak akan membuat diri kita lebih bersinar. Justru, itu bisa menghancurkan diri sendiri.
Travers, seorang psikolog Amerika, mengungkap bahwa jika orang lain merendahkan keunggulan kita, itu mencerminkan ketidakamanan mereka. Oleh karena itu, mari berkembang tanpa merusak bunga yang lain.
Prestasi, keunggulan, dan kesuksesan seharusnya bukan beban, melainkan sesuatu yang bisa dibagikan. Ketika kita mampu memberi ruang bagi orang lain untuk bersinar, maka kita juga akan mencapai titik kesuksesan yang sebenarnya.
Spread love… Sehat-sehat dan bahagia selalu ya untuk dirimu yang lagi membaca. Terima kasih banyak sudah berkenan mampir.
Referensi Pendamping
- Zulkifli L. (1986). Buku: Psikologi Perkembangan. Remadja Karya CV.
- Newport Institute – Mental Health. (2022). Tall Poppy Syndrome: When You Get Cut Down for Standing Out.
- Geng, Caitlin. (2024). What to Know About Tall Poppy Syndrome. Medical News Today.
- Travers, Mark. (2025). How Tall Poppy Syndrome Can Hold Back Your Career. Psychology Today.


