Pekerjaan Sampingan: Hobi Jadi Penghasilan

Posted on

Perjalanan Menulis dari Hobi ke Kehidupan yang Berarti

Banyak orang mengira bahwa bekerja full time membuat kita tidak punya waktu untuk mengembangkan diri. Namun, bagi saya, justru dari sela-sela waktu kerja, saya menemukan peluang baru melalui hobi: membaca dan menulis. Dari kebiasaan ini, saya mendapatkan banyak hal yang tidak terduga.

Beberapa tahun lalu, tepatnya saat pandemi covid-19, saya hanya seorang pembaca biasa yang menikmati aroma buku baru dan suara halaman yang dibalik malam-malam sebelum tidur. Tidak pernah terpikir oleh saya bahwa saya akan tenggelam dalam cerita dan gagasan yang ditemukan di setiap halaman.

Suatu hari, saya dinyatakan sebagai pemenang giveaway buku dari sebuah penerbit ternama. Saya diminta untuk membagikan pengalaman dan insight dari buku tersebut melalui media sosial. Dari situ, perjalanan saya dimulai tanpa disangka. Akhirnya, kebiasaan yang awalnya hanya hobi berubah menjadi sumber penghasilan tambahan.

Tentu saja, tidak langsung bisa cuan. Semua dimulai dari langkah kecil: berbagi apa yang saya ketahui, sejujurnya dan sebisanya. Awalnya, saya menulis ulasan buku dengan format sederhana. Tidak muluk-muluk, hanya inti cerita, hal yang disukai, dan pesan yang muncul di kepala. Setiap posting terasa seperti percakapan hangat—seperti sedang bercerita ke teman sambil ngopi santai.

Tanpa disadari, banyak orang menikmati sudut pandang saya. Circle kecil mulai terbentuk. Satu dua orang menyapa lewat komentar atau pesan. Ada yang bilang merasa terbantu memilih bacaan, ada pula yang mengaku termotivasi untuk mulai membaca kembali.

Jujur, rasanya kagum dan gembira. Seperti menemukan harta karun. Saya seperti berjumpa rumah lain—tempat menumbuhkan literasi. Yang paling mengejutkan, saya jadi kenal dengan banyak teman literasi secara online.

Kami bertukar rekomendasi buku, berdiskusi ringan, bahkan saling penasaran dengan insight satu sama lain. Dari koneksi kecil itu, pintu baru terbuka: kesempatan kerja sama dengan penerbit.

Pertemuan dengan Penerbit: Dari Pembaca Jadi Rekan

Suatu hari, ada penerbit yang menghubungi saya. Mereka suka cara saya menulis review—mengalir, jujur, dan ramah untuk pembaca pemula. Saya diminta untuk membaca buku baru mereka, membuat ulasan, dan mempublikasikannya. Tentu saja saya senang—tidak cuma dapat buku gratis, tapi juga kesempatan memperluas pengalaman.

Dari satu kerja sama, terus merembet ke kerja sama lain. Saya mulai belajar tentang profesionalitas: bagaimana berkomunikasi, mengatur waktu, menghargai tenggat, hingga menjaga kepercayaan. Ternyata dunia literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, tapi juga tentang etika bekerja sama.

Honornya mungkin tidak seperti selebriti internet (influencer) ternama yang sekali unggah bisa dapat jutaan. Tapi buat saya, ini cukup: bisa bayar paket data, nongkrong sesekali, belanja kebutuhan kecil, atau sekadar mengamankan tabungan tipis. Rasanya menyenangkan saat sesuatu yang kita suka bisa membiayai beberapa kebutuhan.

Tapi, nggak begitu langsung dapat cuan. Awalnya hanya dibayar pakai buku. Nah, buku inilah yang saya jual kembali di marketplace (toko online). Baik buku yang masih tersegel (baru) atau buku preloved (bekas).

Menemukan Diri Lewat Menulis

Selain jadi reviewer, saya juga menulis hal lain. Bukan cuma soal buku—tapi pemikiran, keresahan, dan refleksi kecil sehari-hari. Ternyata, menulis itu bukan cuma soal menghasilkan karya—tapi juga tentang menyelamatkan diri.

Kadang ada hari ketika kepala sesak penuh pikiran. Nulis itu jadi semacam ruang bernafas. Ada rasa lega ketika kata-kata akhirnya keluar, meskipun belum sempurna. Di situ saya merasa lebih menikmati hidup.

Dan, Alhamdulillah, dari menulis saya juga beberapa kali mendapat rezeki. Kadang ikut lomba menulis dan menang, kadang dapat fee untuk tulisan tertentu. Tidak besar, tapi cukup menghangatkan hati—karena dihargai atas sesuatu yang kita kerjakan dengan cinta.

Tidak Sekadar Cuan

Kalau bicara keuntungan, tentu uang jadi salah satunya. Tapi bagi saya, keuntungan yang paling terasa justru bukan materi.

Ada ketenangan yang datang setiap selesai menulis. Ada rasa puas saat berhasil merangkum pemikiran jadi sederhana. Ada rasa bangga ketika orang lain bilang tulisannya bermanfaat. Semua itu tidak bisa diukur dengan angka.

Bahkan kadang, yang kita dapat justru teman baru dan obrolan hangat yang tidak disangka. Kadang kita tidak sadar, tulisan bisa jadi jembatan ke banyak hal baik.

Jujur, memang tidak selalu mulus. Ada hari ketika saya kehabisan ide. Ada masa saat postingan kita sepi dari like (suka) dan komentar. Ada momen merasa tidak cukup baik dibandingkan yang lain.

Tapi saya belajar untuk menikmati perjalanan. Tidak terburu-buru, tidak harus sempurna, yang lenting jalan terus, kontinyu.

Karena yang paling berharga dari ngonten bukan tentang siapa paling cepat sampai puncak. Tapi siapa yang bisa menikmati proses pendakiannya.

Ohya, hobi yang saya geluti ini tentunya tidak mengganggu kerja full time. Bahkan, dulu ketika kerja di pabrik yang jam kerjanya jelas padat—capek fisik maupun mental. Saya bisa produktif membaca dan menulis.

Di sela istirahat, dalam perjalanan, atau sebelum tidur, saya pelan-pelan menamatkan buku. Dalam sebulan masih bisa menyelesaikan tiga sampai empat buku. Malam atau di waktu senggang saya menuliskan ringkasannya, lalu mempostingnya.

Prosesnya tidak instan dan tidak juga mudah. Tapi tidak mengganggu pekerjaan. Saya tetap menjalankan tugas sebagai karyawan, sementara membaca dan menulis jadi “me-time” yang menenangkan.

Dari situ saya belajar bahwa: ngonten itu tidak harus menyita waktu; yang penting rutin, walau sedikit. Nah, kalau teman pembaca punya hobi yang disukai—entah membaca, menggambar, atau sekadar curhat lewat tulisan—cobalah bagikan.

Perlahan, jangan dulu ngomongin uang. Lakukan untuk diri sendiri dulu. Untuk menata pikiran, menyimpan jejak, berbagi hal baik.

Kalau memang ada rezekinya, ia akan datang lewat jalannya sendiri. Kadang melalui teman baru, kadang lewat kesempatan tak terduga.

Dan kalaupun tidak menghasilkan uang sebanyak orang lain, setidaknya kamu sudah mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: pengalaman, pengetahuan, ketenangan hati, lingkungan baik, dan kesadaran bahwa hal kecil yang kamu lakukan punya makna.

Ngonten bukan soal viral—tapi soal menyampaikan sesuatu agar orang lain merasa tidak sendirian. Dan itu, menurutku, adalah bentuk keberhasilan yang tidak bisa diukur dengan uang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *