Momen Pelari di Jalanan: Cuan, Privasi, dan Etika

Posted on

Fenomena Fotografer yang Memotret Pelari di Ruang Publik

Fenomena fotografer yang memotret pelari di ruang publik kini menjadi perbincangan hangat. Praktik ini menuai pro dan kontra, terutama terkait privasi dan komersialisasi foto. Seorang fotografer aktif di platform Fotoyu, Ibra (bukan nama sebenarnya), mengungkapkan motivasinya memotret pelari cukup sederhana. “Yang membuat saya tertarik dalam memotret pelari ya yang pertama gak menutup kemungkinan dan realistis aja ya pertama karena uang, kalau untuk portofolio itu juga enggak semuanya,” katanya.

Ibra menambahkan, file foto biasanya disimpan sementara sebelum dihapus jika tidak terjual. “Dan file biasanya saya timbun selama satu bulan, sesuai yang di Fotoyu dan hardisk. Jika file yang di Fotoyu yang tidak terjual pasti dalam jangka waktu satu bulan itu saya hapus, begitu juga di hardisk saya hapus juga,” jelas Ibra.

Menurut Ibra, meminta izin kepada setiap pelari dianggap merepotkan karena satu sesi pemotretan bisa menghasilkan banyak jepretan dan melibatkan lebih dari satu orang. Fotoyu pun sudah memiliki sistem deteksi wajah agar foto tetap diarahkan ke pemiliknya. “Untuk izin ke pelari enggak sih, ya karena kita foto pelari tuh kan enggak cuma satu jepretan dan bukan satu pelari juga ya. Jadi untuk izin itu malah akan merepotkan juga dan aplikasi Fotoyu kan juga sudah dengan deteksi wajah juga ya,” ujarnya.

Jika ada pelari yang merasa tidak nyaman, Ibra menekankan bahwa cukup memberi isyarat agar tak difoto atau langsung mendekati fotografer untuk meminta foto dihapus. “Bukan masalah privasi sih mas. Lebih ke masalah yang seharusnya bisa diselesaikan dengan santai tapi dibesar-besarkan saja,” kata Ibra. “Untuk pelari yang meminta untuk di foto itu sering. Biasanya saya kalo ada yang tidak mau difoto itu tadi fotonya langsung saya hapus,” sambung dia.

Menurut Ibra, masalah privasi pada saat ini seperti tak bisa berlaku ketika seseorang berada di ruang publik. Ia mencontohkan keberadaan kamera pengawas (CCTV) di ruang publik sebagai bukti bahwa orang-orang seharusnya menyadari risiko direkam. “Dan kalau memang masih meributkan tentang privasi menurut saya itu karena ruang publik semua pasti sudah ada kosekuensinya untuk hal-hal privasinya. Kalo enggak mau privasinya terganggu ya sudah olahraganya jangan di ruang publik,” katanya.

Terkait regulasi pemerintah, Ibra berpendapat aturan sebaiknya dibuat berdasarkan pemahaman lapangan. “Kalau pemerintah membuat aturan ya lebih baiknya pemerintah lihat dan langsung terjun ke jalan dulu deh sebelum membuat aturan karena dari Fotoyu itu bisa membuat fotografer yang sepi job ada pemasukan loh,” ujarnya.

Boleh Difoto, Tapi Jangan Paksa

Joshua Alexander (29), fotografer jalanan, menekankan pentingnya batasan etika fotografer. “Kalaupun ada yang keberatan karena mengambil gambar seseorang atau properti pribadi mereka berhak untuk meminta dihapus,” katanya. Joshua menekankan bahwa kesadaran harus datang dari kedua pihak. Fotografer perlu memahami hukum terkait hak privasi, sementara subjek harus menyadari bahwa di ruang publik tidak ada privasi mutlak.

“Kalau menurut saya harus ada kesadaran dari kedua pihak, dari pihak dokumenter harus paham bahwa ada hukum yang mengatur hak privasi seseorang. Namun juga pelari harus paham bahwa tidak ada privasi di ruang publik,” ujarnya. Ia menyarankan fotografer memberi isyarat atau gestur jika ingin memotret agar subjek yang bersedia bisa memberi persetujuan. “Seharusnya ini dilakukan pihak fotografer dengan memberi signal / gesture jika ingin di foto dan hanya memfoto pihak yang consent ingin di foto, bukan sebaliknya yang mengharuskan pelari yang harus melakukan gestur untuk tidak mau di foto,” katanya.

Joshua juga menyoroti peluang dan risiko platform seperti Fotoyu. “Kalau dilihat dari peluangnya dan resikonya memang sangat menggiurkan, namun menurut saya pribadi ada baiknya tidak bergantung ke Fotoyu dan lebih baik mencari client dengan pendekatan lainnya,” jelasnya. Menurut Joshua, fotografer yang berpengalaman biasanya punya trik agar subjek merasa nyaman, misalnya mengobrol singkat sebelum memotret atau memilih sudut yang tidak mengganggu.

Pelari Juga Punya Hak ‘Enggak Mau Difoto’

Danar Kalingga (26), seorang pelari, pernah menemukan foto dirinya saat tengah lari pagi. “Yang paling bikin risih adalah ketika foto itu diambil bukan di event lari resmi, tapi saat saya sedang lari pagi santai,” ujarnya. Menurut Danar, momen pribadi seperti lari pagi seharusnya dihormati. Ia merasa kesal ketika difoto saat tidak ingin difoto.

“Awalnya jengkel tapi berusaha diabaikan. Namun pernah ada momen ketika saya benar-benar lagi tidak ingin difoto lalu tetap difoto, di situ saya merasa sangat kesal,” katanya. Danar menekankan pentingnya membedakan fotografi olahraga, street photography, dan foto jurnalistik. “Apalagi kalau hasil fotonya memang berfokus ke pelari yang menjadi objek fotonya. Bedakan dengan street photography dan juga foto jurnalistik,” jelasnya.

Beberapa momen dianggap tidak pantas untuk difoto, seperti saat pelari kelelahan atau membetulkan pakaian. “Beberapa momen ‘enggak pantas’ menurut saya seperti saat muka sedang sangat merasa kelelahan atau tidak fokus saat sedang membetulkan pakaian, dan lain-lain,” ujarnya. Danar menilai fotografer sebaiknya meminta izin atau memberi tahu sebelum memotret. “Apabila terjadi di ruang publik tanpa ada acara khusus, harusnya fotografer meminta izin, menanyakan, atau memberi tahu pelari yang sedang berlari. Bisa juga fotografer menawarkan diri dan memang mengambil foto pelari yang sudah janjian dan setuju untuk difoto,” katanya.

Untuk menghindari difoto tanpa izin, Danar biasanya menutup wajah, memberi gestur, atau memilih jalur sepi. “Pernah berkali-kali. Dengan menutup wajah, gestur tangan, menggelengkan kepala, ngomong kalau tidak ingin difoto, sampe ngambil jalur lain yang sepi fotografer,” jelasnya. Ia bercerita pernah menghadapi konfrontasi dengan fotografer meski akhirnya fotonya dihapus. “Waktu itu reaksi si fotografer awalnya defensif, lalu karena memang saya tegas, akhirnya dia meng-iyakan untuk menghapus fotonya dan diam walaupun terlihat kesal,” ujarnya.

Danar menilai praktik fotografi yang berorientasi keuntungan lebih rawan melanggar etika, sedangkan yang menangkap semangat olahraga lebih menghormati izin pelari. “Fotografer yang menangkap semangat olahraga biasanya lebih beretika seperti meminta izin, tidak burst foto. Sedangkan yang hanya mengejar profit, seringnya memotret tanpa izin, fokus pada subjek yang terlihat menarik, dan bahkan tidak menyortir, atau bahkan mengedit fotonya di akhir,” jelas Danar.

Ahli: Fotografer Perlu Bimbingan dan Etika

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menilai praktik fotografi pelari berpotensi mengganggu hak individu meski dilakukan atas nama pekerjaan atau dokumentasi olahraga. “Sebenarnya ada yang saya sebut sebagai pelanggaran etika atau privasi gitu ya. Jadi mencederai, ada proses yang disebut sebagai mencederai privasi individu,” kata Rakhmat.

Ia pun membandingkan dengan negara lain yang memiliki aturan ketat terkait izin pengambilan gambar di ruang publik. “Di luar negeri misalnya, kita tidak semudah untuk mengambil foto misalnya di ruang publik. Dan itu kalaupun misalnya ada, dia (subjek yang difoto) harus disamarkan, diblurkan misalnya wajahnya gitu kan. Dia (fotografer) harus konsen dulu, izin dulu,” ujarnya. Rakhmat menekankan pentingnya penguatan kontrol di kalangan fotografer melalui asosiasi dengan kode etik dan monitoring.

“Asosiasi untuk fotografi itu untuk melakukan penguatan, untuk melakukan kontrol, monitoring begitu ya bagi mereka yang memang tercatat dalam asosiasi itu,” jelasnya. Ia menyarankan pengawasan dan pendampingan bagi fotografer agar pelanggaran privasi bisa diminimalkan. “Nah perlu ada pengontrolan, perlu ada pendampingan sehingga ini paling tidak bisa mengurangilah. Mengurangi efek dari kebebasan yang bablas ini,” kata Rakhmat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *