Kasus Siswi SD di Palembang dengan Mata Lebam
Kasus seorang siswi SD di Palembang yang pulang sekolah dengan mata lebam akhirnya terungkap setelah dilakukan pemeriksaan medis dan klarifikasi dari berbagai pihak. Peristiwa ini menarik perhatian masyarakat dan menjadi viral di media sosial.
Siswi SD tersebut berinisial F (7 tahun), yang duduk di kelas 2 SDN 150 di Gandus, Palembang. Awalnya, orangtua korban curiga bahwa anaknya mengalami kekerasan di sekolah. Hal ini diketahui setelah F pulang sekolah dengan mata yang lebam dan merah. Orangtua korban, Sukirnawati atau Erna, melaporkan kejadian ini ke polisi karena kecurigaan adanya pemukulan oleh guru wanita.
Kecurigaan Orang Tua
Menurut pengakuan Sukirnawati, ia melihat kedua mata anaknya lebam saat menjemput F dari sekolah. Ia langsung masuk ke dalam kelas untuk bertanya kepada teman-teman korban. Dari penjelasan teman-teman korban, ia mendengar bahwa F dipukul oleh seorang guru wanita yang menggunakan cincin.
Sukirnawati menyatakan bahwa ia sangat panik dan langsung melaporkan kejadian ini ke polisi. Menurutnya, F mengalami trauma dan tidak mau kembali ke sekolah lagi. Selain itu, guru-guru lainnya menyebut bahwa F sering memainkan HP, sehingga alasan mata merah disebabkan oleh penggunaan HP tersebut.
Penjelasan Guru dan Pihak Sekolah
Guru yang mengajar F mengaku tidak mengetahui adanya kekerasan di dalam kelasnya. Ia menyatakan bahwa F duduk di bangku paling depan dan tidak ada kejadian apapun selama ia mengajar. Penjelasan ini juga didukung oleh pihak sekolah yang membantah adanya tindakan kekerasan terhadap siswa.
Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, turun langsung meminta penjelasan terkait kasus ini. Ia juga mengunjungi rumah F dan menjamin biaya pengobatan akan ditanggung oleh pemerintah.
Hasil Pemeriksaan Medis
Dokter spesialis mata Rumah Sakit Fatimah dan RSMH, dr Riani Erna SpMK, memberikan penjelasan bahwa mata lebam bukan akibat pemukulan. Menurutnya, jika ada kekerasan pada mata maka biasanya hanya satu mata yang terkena, bukan kedua matanya. Selain itu, kondisi mata merah dan bengkak lebih mungkin disebabkan oleh infeksi atau virus.
Pemeriksaan medis juga menunjukkan bahwa F sempat demam seminggu sebelum mata merah dan bengkak. Dokter menyatakan bahwa kondisi ini bisa disebabkan oleh infeksi yang menyerang sistem imun, sehingga mengakibatkan peradangan pada mata, hidung, atau mulut.
Penyebab Mata Merah dan Bengkak
Menurut dokter, mata merah dan bengkak yang dialami F bisa disebabkan oleh infeksi atau virus. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berkembang menjadi radang yang mengakibatkan selaput mata berdarah. Namun, kondisi ini tidak berbahaya dan tidak mengakibatkan kebutaan, meskipun penyembuhannya membutuhkan waktu lebih lama.
Dr Riani juga menyarankan agar jangan mengucek mata terlalu kuat dan sering karena bisa menggores kornea mata. Jika kornea mata tergores, hal ini bisa mengganggu penglihatan.
Penanganan Awal
Orang tua korban menyatakan bahwa F sempat dibawa ke Puskesmas Gandus pada 27 Oktober lalu. Saat itu, F mengalami demam dan mata merah pada bagian kiri. Setelah diperiksa, ditemukan bunyi berisik pada paru-paru F dan batuk berulang-ulang. Dokter menyimpulkan bahwa F kemungkinan menderita batuk rejan (pertusis).
Batuk rejan adalah penyakit pernapasan yang sangat menular, disebabkan oleh bakteri dan ditandai dengan batuk hebat yang diikuti suara tarikan napas bernada tinggi seperti “whoop”. Gejalanya bisa dimulai seperti flu biasa tetapi kemudian berkembang menjadi serangan batuk parah yang dapat berlangsung berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.


