Perubahan Strategi dan Kepemimpinan Projo
Pada pembukaan Kongres ke-III Projo, Budi Arie Setiadi mengumumkan rencana bergabungnya organisasi relawan pendukung mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Partai Gerindra. Ia meminta izin kepada peserta kongres untuk melangkah ke partai yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto. Pengumuman ini dilakukan dalam konteks perubahan strategi organisasi yang semakin bergerak menjauh dari embel-embel Jokowi.
Selama Kongres PSI di Solo, Jawa Tengah, Prabowo Subianto menanyakan status kepartaian Budi Arie Setiadi. Ia bertanya apakah Budi akan bergabung ke Gerindra atau PSI. Pertanyaan tersebut disampaikan dengan nada santai, yang kemudian mendapat respons riuh dari para hadirin. Budi, yang merupakan salah satu anggota kelompok relawan Projo, mengatakan bahwa ia akan mengikuti perintah Prabowo.
Projo sendiri adalah organisasi relawan yang didirikan sebagai bentuk dukungan terhadap Jokowi. Putra Jokowi, Kaesang Pangarep, menjadi ketua umum PSI, sementara Jokowi disebut-sebut bakal menjadi ketua dewan pembina PSI. Namun, Jokowi belum pernah memberikan konfirmasi resmi mengenai hal ini.
Budi Arie sebelumnya menjabat sebagai Menteri Koperasi, tetapi pada 8 September 2025, ia dicopot dan digantikan oleh Ferry Juliantono, seorang kader Gerindra. Pada pembukaan Kongres Projo di Hotel Grand Sahid Jakarta, Budi menyatakan bahwa Projo akan memperkuat agenda politik Prabowo, agar kepemimpinan sang presiden lebih solid.
“Karena itu kami akan memperkuat seluruh agenda politik Presiden dengan memperkuat partai politik pimpinan Presiden,” ujar Budi dalam pidato pembukaan Kongres III Projo di Jakarta Pusat, Sabtu, 1 November 2025. Ia juga menegaskan bahwa Projo merupakan pelopor pendukung Prabowo-Gibran dan berkomitmen untuk terus mendukung pemerintahan.
Budi meminta pengertian dari relawan Projo jika suatu saat ia bergabung dengan partai. “Enggak usah ditanya lagi partainya apa. Karena apa? Saya mungkin satu-satunya orang yang diminta oleh Presiden langsung di sebuah forum,” ujarnya.
Keputusan Budi Arie menjadi partisan Gerindra dinilai sebagai langkah politik untuk membuang embel-embel Jokowi dari Projo. Selain itu, Projo juga memutuskan mengubah logo partainya yang sebelumnya menggunakan siluet Jokowi. Budi menyatakan desain baru logo akan dijadikan sayembara terbuka agar publik bisa ikut serta dalam proses penciptaan logo.
Perubahan Logo dan Penolakan Istilah Pro-Jokowi
Budi Arie menampik istilah Projo berasal dari singkatan Pro-Jokowi. Menurut dia, istilah itu hanya melekat di masyarakat karena lebih mudah diucapkan. Ia mengklaim bahwa Projo berasal dari bahasa Sanskerta dan Jawa Kawi yang artinya “negeri” dan “rakyat”. “Projo memang enggak ada (singkatan). Cuma teman-teman media kan ya, Projo, Pro-Jokowi, itu karena gampang dilafalkan saja,” jelas Budi.
Tanda-tanda Jokowi menjauh dari organ relawannya ini ditandai dengan ketidakhadirannya pada Kongres Projo. Ajudan Jokowi, Syarif Muhammad Fitriansyah, mengkonfirmasi bahwa Jokowi tidak hadir karena alasan kesehatan. Meski tidak hadir secara fisik, Jokowi tetap memberikan perhatian melalui video singkat yang disampaikan kepada para relawan.
Budi Arie membantah bahwa Projo berupaya menjauh dari Jokowi. Ia meminta media untuk tidak mem-framing bahwa Projo seolah-olah putus hubungan dengan Jokowi. “Saya ingin menjelaskan kepada teman-teman media sekalian karena dari perkembangan berita ini seolah-olah disampaikan terkesan Projo putus hubungan dengan Pak Jokowi, jangan diframing. Projo ini lahir karena ada Pak Jokowi,” kata Budi.
Analisis Politik dan Reaksi Publik
Dosen ilmu politik Universitas Islam Negeri Jakarta, Adi Prayitno, membeberkan tiga indikasi Budi Arie mulai berpaling dari Jokowi. Pertama, Budi tidak bergabung ke PSI dan memilih ke Gerindra. Kedua, Projo menghapus foto Jokowi dari logo mereka. Ketiga, Budi menyatakan bahwa Projo bukan Pro-Jokowi, tetapi negeri dan rakyat.
Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis Agung Baskoro menilai keputusan Budi Arie masuk Partai Gerindra sebagai bagian dari pragmatisme politik. “Agar Budi Arie tetap relevan dan strategis dalam panggung politik nasional,” ujarnya.
Kongres III Projo kembali menetapkan Budi Arie Setiadi sebagai ketua umum Projo secara aklamasi. Freddy Damanik, Ketua Pimpinan Sidang Kongres Projo ke-III, menyampaikan lima resolusi hasil sidang komisi politik. Resolusi tersebut mencakup dukungan terhadap pemerintahan Prabowo dan Gibran, transformasi organisasi, serta visi Indonesia Emas 2045.
Usai terpilih kembali, Budi mengatakan rencananya bergabung dengan Partai Gerindra masih menunggu restu partai. “Diizinin enggak sama yang bergabung ke Partai Gerindra? Kan kita belum bergabung. Saya baru mau masuk, baru mau masuk,” katanya.
Budi juga mengatakan bahwa rekan-rekan sesama organisasi menyerahkan sepenuhnya keputusan untuk bergabung ke Gerindra. Ia tidak menegaskan apakah anggota Projo lain juga akan bergabung. Namun ia mengatakan, apabila ketua umumnya bergabung Gerindra, kemungkinan besar anggotanya akan mengikuti.
Mantan Menteri Koperasi ini mengatakan sudah berkomunikasi dengan Presiden Prabowo Subianto. Ia akan menghadap Prabowo dalam waktu dekat. “Nanti akan kami serahkan hasil Kongres III ini sebagai bentuk forum tertinggi organisasi, khususnya Projo. Rekomendasinya dan resolusinya akan kita serahkan kepada Pak Presiden Prabowo,” ujar Budi Arie.
Budi kembali meluruskan pemberitaan yang menyebut perubahan logo sebagai tanda putus hubungan organisasi relawan ini dengan Jokowi. Ia membantah perubahan logo sebagai upaya memisahkan Projo dengan Jokowi. “Tadi pagi juga kami sudah berkomunikasi dengan Pak Jokowi via telepon, juga kita akan sampaikan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Kami akan melaporkan seluruh hasil dan rekomendasi Kongres III Projo ini kepada beliau,” katanya.
Hendrik Yaputra, Ervana Trikarinaputri, dan Septhia Ryanthie berkontribusi dalam tulisan ini.


