Penyakit Polio: Penyebab, Gejala, dan Pencegahan
Polio adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus yang menyerang sistem saraf dan dapat menyebabkan kelumpuhan permanen. Kondisi ini sering kali dikenal melalui foto-foto anak-anak dengan kaki yang sangat kurus hingga hanya terlihat seperti tulang yang dibalut kulit. Namun, tidak semua orang menyadari bahwa kondisi tersebut bisa menjadi akibat dari polio.
Virus polio termasuk dalam keluarga enterovirus dan memiliki tiga jenis serotipe berbeda. Virus ini masuk ke tubuh melalui mulut, berkembang biak di tenggorokan dan saluran pencernaan, lalu masuk ke aliran darah. Dalam kondisi tertentu, virus dapat menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan kerusakan pada sel-sel saraf yang mengontrol gerakan otot. Penyebaran virus ini sangat cepat di lingkungan dengan sanitasi buruk dan tingkat vaksinasi rendah.
Gejala polio sangat bervariasi dan dapat dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan tingkat keparahannya:
-
Polio Non-Paralitik (Polio Abortif)
Pada polio non-paralitik, gejalanya dapat berlangsung selama satu hingga sepuluh hari dengan karakteristik mirip flu biasa. Gejala meliputi demam tinggi, sakit tenggorokan, sakit kepala intens, muntah-muntah, kelelahan ekstrem, dan meningitis. Kondisi ini dikenal sebagai polio abortif karena infeksi berhenti pada tahap ini dan tidak berkembang menjadi kelumpuhan. -
Polio Paralitik
Sekitar satu persen kasus polio dapat berkembang menjadi polio paralitik yang lebih serius. Gejala awal mirip dengan polio non-paralitik, namun setelah sekitar seminggu akan muncul gejala yang lebih parah. Termasuk hilangnya refleks tubuh secara tiba-tiba, kejang dan nyeri otot hebat, anggota tubuh lemah, kelumpuhan mendadak, dan kelainan bentuk anggota tubuh. Dalam kasus yang jarang terjadi, virus dapat menyerang otot pernapasan dan menyebabkan kematian. -
Sindrom Pasca-Polio
Setelah pulih total dari penyakit ini, polio masih dapat kembali menyerang setelah 15 hingga 40 tahun. Gejala umum meliputi kelemahan otot dan sendi, nyeri otot memburuk, mudah lelah, penyusutan otot, kesulitan bernapas, sleep apnea, dan depresi.
Meskipun tidak ada obat untuk menyembuhkan polio secara keseluruhan, penyakit ini dapat dicegah melalui vaksinasi. Vaksin tersedia dalam dua jenis yaitu vaksin oral dan vaksin inaktif, yang sama-sama efektif dan aman.
Pengobatan dan Perawatan untuk Polio
Pengobatan untuk polio fokus pada meredakan gejala dan mencegah komplikasi lanjutan:
-
Pengobatan Pereda Nyeri
Obat seperti ibuprofen dapat membantu meredakan rasa sakit dan mengurangi peradangan. Penggunaannya harus sesuai dosis dan dalam pengawasan medis. -
Penanganan Kejang Otot
Obat anti-kejang diberikan untuk menenangkan otot yang mengalami spasme. Penggunaan obat ini harus dalam pengawasan dokter. -
Pencegahan Infeksi Tambahan
Antibiotik diberikan untuk mengobati infeksi saluran kencing pada pasien yang mengalami kelumpuhan. -
Bantuan Pernapasan
Ventilator atau alat bantu pernapasan diperlukan bagi pasien yang mengalami gangguan pernapasan. -
Terapi Pemulihan Fisik
Terapi fisik dan rehabilitasi paru penting untuk mempertahankan fungsi otot dan membantu bernapas lebih efektif.
Selain itu, saran dari Cleveland Clinic meliputi minum banyak cairan, menggunakan kompres hangat, dan istirahat cukup. Dukungan emosional dari keluarga juga sangat penting dalam proses pemulihan.
Dengan memahami gejala, penanganan, dan pentingnya vaksinasi, kita dapat melindungi diri dan generasi mendatang dari ancaman polio yang bisa mengubah hidup seseorang selamanya.


