JS Putuskan Ceraikan Melda Jelang Pelantikan PPPK, Ini Penyebabnya

Posted on

Perjuangan Melda Safitri yang Mengundang Kepedulian Publik

Melda Safitri, seorang warga Aceh Singkil, menjadi sorotan media sosial setelah kisah pilunya menghebohkan masyarakat. Ia diceraikan oleh suaminya, JS, hanya beberapa hari sebelum pelantikan sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkungan Satpol PP/WH Kabupaten Aceh Singkil. Kisah ini memicu perbincangan luas dan menimbulkan banyak desakan agar pihak terkait mengambil tindakan tegas terhadap JS.

Kisah Melda bermula dari perjuangannya untuk mendampingi suaminya dalam masa sulit hingga akhirnya lolos seleksi PPPK. Ia bahkan membelikan baju Korpri untuk pelantikan suaminya dari hasil berjualan sayur dan cabai. Namun, nasib buruk datang ketika suaminya menceraikannya tiga hari sebelum pelantikan. Hal ini membuat banyak orang merasa tidak nyaman dan mempertanyakan etika serta kepedulian JS terhadap keluarganya.

Pemerintah daerah belum mengambil langkah pemecatan terhadap JS. Bupati Aceh Singkil, Safriadi Manik atau akrab disapa Haji Oyon, menanggapi desakan publik dengan menyatakan bahwa Pemkab tidak akan mengambil tindakan terburu-buru. Ia menekankan pentingnya proses penyelidikan dan mediasi untuk menyelamatkan rumah tangga JS dan Safitri yang telah dikaruniai dua anak.

“Belum dipecat, apapun belum. Sekarang kita penyelidikan dulu, baru kita ajak dan kita utamakan kalau bagi pribadi saya dan juga sebagai Bupati, harus dirujukkan kembali, tidak ada cerai menceraikan,” ujar Bupati Safriadi Oyon.

Fokus utama Pemkab saat ini adalah nasib kedua anak yang menjadi korban dari perpisahan orang tua mereka. “Kan mereka belum bercerai habis, kita mediasi supaya sebaiknya sedapatnya mereka harus bersatu kembali, karena yang kita sedihkan ada dua anak,” tegasnya.

Selama status pernikahan belum final di mata hukum dan proses klarifikasi internal masih berjalan, Pemkab tidak akan mengambil tindakan ekstrem seperti pemecatan. Pernyataan Bupati ini menggarisbawahi pendekatan Pemkab Aceh Singkil yang mengutamakan aspek kemanusiaan dan keberlangsungan keluarga di atas tuntutan sanksi disiplin kepegawaian.

Sebelumnya, kasus Melda Safitri telah memicu kemarahan publik nasional. Banyak pihak, termasuk tokoh masyarakat dan warganet, menilai tindakan JS tidak beretika dan mendesak Bupati untuk mencabut SK PPPK-nya. Meskipun JS telah resmi dilantik sebagai PPPK Satpol PP/WH, kini nasibnya akan ditentukan melalui proses penyelidikan internal dan mediasi yang difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil.

Latar Belakang Peristiwa

Diketahui, Melda Safitri dan JS resmi bercerai sejak 14 September 2025, yang dihadiri kepala desa dan keluarga kedua pasangan itu. Namun, JS telah menjatuhkan talak cerai kepada Safitri sejak 15 Agustus, tiga hari sebelum suaminya dilantik jadi PPPK Satpol PP di Aceh Singkil.

Peristiwa ini memicu kemarahan warga, yang kini mendesak agar ia dipecat. Bahkan, akun Instagram Bupati Aceh Singkil, Safriadi Oyon, banjir komentar warganet yang meminta turun tangan tindak tegas terhadap kasus suami yang menceraikan istri jelang pelantikan dan penerimaan SK PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja).

Berikut komentar warganet:
* “Pecat suami P3K yang ceraikan istri”
* “Yth Bapak Bupati Aceh Singkil yang di rahmati Allah… Sebagai pemimpin yg memahami kode etik n landasan sebagai pegawai P3K, tolong Bapak perhatikan kericuhan mengenai perlakuan salah seorg P3K khusunya pada Satpol PP di Aceh Singkil kepada istri n anak2nya, hal ini sangat tidak mencerminkan nilai2 yg baik sbgai Pegawai P3K.. kami meminta Bapak untuk menghentikan pegawai tersebut, insya Allah kami yakin Bapak akan bertindak dengan bijak, terimakasih Bapak Bupati”
* “Pecat cabut SK nya dari P3K yg ceraikan istrinya pak itu suami gak punya belas kasihan sama anak istri pak.. Pecat pak”
* “Pak suami yang ceraikan istri stlah diangkat p3k telusuri dan pecat saja pak!”

Alasan Awal Perceraian

Terkuak alasan pemicu awal Melda Safitri (33) diceraikan jelang suaminya pelantikan sebagai pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Hal itu berawal karena pertengkaran kecil saat suami pulang dan tidak menemukan lauk di meja makan.

Kehidupan rumah tangga yang dijalani Melda Safitri (33), wanita asal Aceh Singkil, penuh dengan lika-liku. Padahal diakui Saftri, suaminya itu jarang memberikan nafkah untuk kebutuhan sehari-hari. “Hari itu tanggal 14 Agustus, dia pulang kerja, sudah sore, terus dia marah-marah gitu, tidak ada kawan nasi (lauk) di rumah. Karena bagaimana saya harus masak nasi atau kawan nasi sedangkan apa pun tidak ada di rumah,” ujar Fitri dengan suara bergetar.

Suami Fitri terus berlanjut marah dan mengeluarkan kata-kata kasar hingga dinilai melukai harga dirinya. Dengan perasaan penuh amarah, suami Fitri memilih pergi bersama rekannya hingga pulang larut malam.

Amarah suami Fitri terus berlanjut hingga keesokan harinya. Merasa tidak dihargai, Fitri lantas membalas ucapan suami yang dinilai menyakitkan hatinya hingga terjadi ribut besar.

“Saya balas-lah repetan dia, kamu mau apa, kesalahanku apa, saya bilang. ‘Kamu kan tidak bawa belanja, tidak ada kasih (nafkah) apa-apa, jadi apa yang saya masak?’ Jadi dia memancing emosi saya terus, dipancing-dipancing sama dia, terus saya merepet sama dia. Setelah itu, saya pergi cuci piring karena capek ribut terus,” ungkapnya.

Pasalnya, sebagai seorang istri, Safitri sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melayani kebutuhan suami dan anak-anak ditengah keterbatasan ekonomi mereka. Saat Fitri mencuci piring, ternyata suaminya sudah membungkus baju lalu pergi ke rumah tetangga untuk meminjam sepeda motor.

Saat kembali ke rumah, sang suami langsung mengucapkan talak cerai di hari itu juga. “Dia langsung bilang ke saya, kamu Fitri saya ceraikan 1, 2, 3 lalu dia pergi membawa bajunya,” ungkap Fitri.

Kehidupan Setelah Perceraian

Setelah ditalak suaminya, Fitri dan anak-anaknya kembali ke rumah orang tuanya di Kabupaten Aceh Selatan. Dua bulan pasca diceraikan secara lisan, hingga Oktober ini Fitri mengaku bertahan dari hasil jualan gorengan dan minuman seribu rupiah di depan rumahnya. Dari hasil tersebut dia juga mampu menghidupi kedua anaknya yang masih kecil.

Selama masa itu pula, Fitri dan suaminya telah melakukan mediasi disaksikan kedua orang tua dan pihak Kepala Desa, namun sang suami tetap bersikeras untuk menceraikannya. “Bahkan katanya dia mau menceraikan saya sejak lama, tapi dulu posisi saya masih hamil dan saya baru tahu waktu mediasi,” ungkap Fitri.

Kini Fitri mengaku sangat kecewa. Bahkan ia bersikeras tidak ingin kembali jika suatu waktu suaminya memintanya kembali. Fitri menegaskan bahwa dirinya tak berniat membuka aib rumah tangga. Ia hanya ingin menyuarakan bagaimana perjuangan seorang istri yang selama ini ikut berjuang membangun rumah tangga.

“Saya tidak malu. Saya cuma ingin dihargai. Saya bukan istri yang minta lebih, saya cuma ingin dihormati sebagai perempuan yang sudah berjuang,” tuturnya.

Ia mengaku sudah melapor ke sejumlah pihak terkait untuk mencari keadilan, namun hingga kini belum mendapat solusi. “Saya sudah ke sana kemari, tidak ada hasil. Cuma dipandang sebelah mata,” katanya.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *