Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung: Dari Ambisi ke Kegagalan
Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh, yang awalnya diharapkan menjadi simbol kemajuan infrastruktur Indonesia, kini menjadi sorotan utama akibat pembengkakan utang yang mencapai sekitar Rp116 triliun. Nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) terlibat dalam proyek ini, yang kini menjadi beban berat bagi negara, terutama BUMN.
Latar Belakang Proyek Whoosh
Whoosh awalnya digagas pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2011 dengan Jepang sebagai mitra utama melalui JICA. Jepang telah melakukan studi kelayakan dan menawarkan pinjaman bunga rendah sebesar 0,1 persen dengan tenor 40 tahun. Namun, pada 2015, Jokowi memilih China sebagai mitra kerja sama, karena menawarkan skema B2B tanpa jaminan APBN dan pinjaman sebesar 5 miliar dollar AS dengan bunga lebih tinggi, yaitu 2 hingga 3,4 persen.
Pembangunan proyek ini dipercepat melalui Peraturan Presiden No. 3 Tahun 2016, yang menjadikannya sebagai proyek strategis nasional. Jokowi juga meletakkan batu pertama pada Januari 2016 dan meresmikannya pada 2 Oktober 2023.
Pembengkakan Biaya dan Utang
Proyek Whoosh mengalami pembengkakan biaya sebesar 1,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp19,54 triliun dari biaya awal yang direncanakan 6,07 miliar dollar AS. Total investasi proyek mencapai 7,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp116 triliun. Sebanyak 75 persen dari total investasi berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB), sementara sisanya berasal dari setoran modal pemegang saham.
Dampak pada PT KAI (Persero)
Proyek Whoosh memberikan tekanan besar terhadap kinerja keuangan PT KAI (Persero). Utang untuk pembiayaan proyek membuat PSBI mencatat kerugian senilai Rp1,625 triliun pada semester I-2025. Karena menjadi lead konsorsium PSBI, PT KAI menanggung porsi kerugian paling besar, yakni Rp951,48 miliar per Juni 2025.
Bocoran dari Eks Waketum Projo
Budianto Tarigan, eks Wakil Ketua Umum Projo, mengungkap pertemuan dengan Jokowi di Istana terkait proyek Whoosh. Ia mempertanyakan urgensi proyek tersebut, mengingat akses Jakarta-Bandung sudah bisa ditempuh menggunakan mobil dan kereta Argo Parahyangan. Jokowi menjawab singkat bahwa proyek ini adalah program dari dirinya dan teman-temannya.
Pandangan Agus Pambagio
Agus Pambagio, analis kebijakan publik, menyatakan bahwa Jokowi mengabaikan saran dan peringatan tentang proyek ini yang dinilai terlalu mahal. Ia mengatakan bahwa Jokowi tidak mau mendengar saran dari Menteri Perhubungan saat itu, Ignasius Jonan. Agus juga mengungkap bahwa pembayaran utang Whoosh dilakukan oleh pemerintah, meskipun proyek ini di bawah tanggungan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
Kritik terhadap Proyek Whoosh
Beberapa pihak mengkritik proyek Whoosh karena tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan membawa beban finansial yang berat. Angka penumpang yang belum mencapai target 31 ribu per hari menunjukkan bahwa proyek ini belum memberikan dampak ekonomi yang signifikan.
Kesimpulan
Proyek Whoosh yang awalnya diharapkan menjadi simbol kemajuan infrastruktur kini menjadi contoh nyata dari kesalahan dalam pengambilan keputusan. Pembengkakan utang dan dampak finansial yang berat terhadap BUMN menunjukkan pentingnya evaluasi dan perencanaan yang matang dalam proyek-proyek besar. Kritik terhadap proyek ini harus menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah dalam menghadapi tantangan infrastruktur di masa depan.


