Kasus Perundungan di Universitas Udayana dan Aduan Selebgram Rusia
Sejumlah peristiwa menarik terjadi di Bali, khususnya terkait kasus perundungan yang melibatkan mahasiswa Universitas Udayana (Unud) serta aduan dari selebgram asal Rusia yang dikenal dengan nama Mr. Terimakasih.
Sergei Domogatskii, yang dikenal sebagai selebgram berjiwa sosial dan sering membuat konten berbagi dengan masyarakat Indonesia, khususnya Bali, mengunggah foto Kapolda Bali Irjen Pol Daniel Adityajaya. Dalam caption unggahannya, Sergei menyebutkan adanya dugaan suap kepada polisi untuk mempidanakan dirinya. Ia juga menyebutkan bahwa ada kelompok yang mengumpulkan dana sebesar 30 ribu dolar AS atau sekitar Rp 500 juta untuk membayar polisi.
“Saya mohon bantuan Bapak agar korupsi di kepolisian tidak dibiarkan berkembang,” tulis Sergei dalam captionnya. Ia juga menandai akun resmi Kapolda Bali dan Bidan Propam Polda Bali. Balasan dari akun Instagram resmi Kapolda Bali menyatakan bahwa mereka siap menerima Sergei untuk menjelaskan duduk perkaranya.
Penjelasan dari Pihak Kampus Unud
Di sisi lain, kasus perundungan terhadap almarhum Timothy Anugerah Saputra (TAS), seorang mahasiswa FISIP Unud, menjadi sorotan. Enam mahasiswa diduga melakukan perundungan melalui percakapan grup WhatsApp (WA). Perundungan ini termasuk menyamakan foto saat TAS jatuh dari Gedung FISIP dengan selebgram Kekeyi dan memberikan sindiran.
Keenam mahasiswa tersebut kemudian meminta maaf di media sosial. Namun, beberapa netizen menilai sanksi pengurangan nilai soft skill dari Unud terlalu ringan bagi pelaku perundungan. Pihak Unud mengklaim bahwa isi percakapan tersebut terjadi setelah almarhum meninggal dunia, bukan sebelum peristiwa yang menimpa almarhum.
Hasil rapat tersebut akan diteruskan kepada Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK) UNUD untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Rektor Unud, Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, menyampaikan rasa prihatin atas peristiwa yang menimpa almarhum. Ia menegaskan bahwa kampus harus menjadi ruang aman, berempati, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
Dampak Psikologis dari Komentar Sarkastik
Cokorda Bagus J. Lesmana, psikiater sekaligus Guru Besar di bidang Psikiatri Komunitas dan Budaya di Universitas Udayana, menjelaskan bahwa komentar sarkastik atau sindiran di ruang digital memiliki dampak psikologis nyata. Ia menekankan pentingnya kehati-hatian sebelum menyatakan sebuah komentar sebagai bentuk perundungan.
Menurutnya, tindakan menyebarkan percakapan pribadi ke ranah publik dapat dikategorikan sebagai perundungan. Proses psikologis menuju dorongan mengakhiri hidup akibat perundungan biasanya bersifat bertahap dan melibatkan beberapa tahapan emosional. Korban awalnya hanya merasa sedih atau malu, namun jika tidak mendapatkan dukungan sosial, ejekan bisa menjadi keyakinan negatif seperti “Aku gagal” atau “Aku beban”.
Langkah-Langkah yang Diambil Oleh Kampus
UNUD terus memberikan pendampingan psikologis bagi rekan-rekan mahasiswa dan civitas akademika yang terdampak. Selain itu, kampus berkomitmen memperkuat program kesehatan mental dan literasi digital di lingkungan kampus. UNUD juga mengajak seluruh civitas akademika untuk menjadikan peristiwa ini sebagai refleksi dan pembelajaran bersama tentang pentingnya empati, rasa hormat, dan kepedulian antar sesama mahasiswa.


