Bacaan Misa dan Pelajaran Iman
Bacaan pertama dalam Misa tanggal 12 Oktober 2025 diambil dari Kitab 2 Raja-raja 5:14-17. Dalam kisah ini, Naaman, seorang panglima raja Aram, mengikuti perintah Nabi Elisa untuk membenamkan dirinya tujuh kali ke dalam Sungai Yordan. Setelah itu, tubuhnya pulih seperti tubuh seorang anak, dan ia menjadi tahir (baca: murni, suci atau bersih). Setelah sembuh, Naaman ingin memberikan hadiah kepada Nabi Elisa. Namun, Nabi Elisa menolak dengan tegas, “Demi Tuhan yang hidup, yang aku layani, aku tidak akan menerima apa-apa.”
Kisah ini diteruskan oleh Bacaan Injil yang diambil dari Lukas 17:11-19. Dalam bacaan ini, Yesus menyembuhkan 10 orang sakit kusta, tetapi hanya satu orang yang kembali dan memuliakan Allah. Yesus tidak meminta hadiah, melainkan meminta mereka untuk memuliakan Allah setelah sembuh. “Dimanakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” tanya Yesus.
Sebagai catatan, satu-satunya orang kusta yang kembali adalah orang Samaria. Orang Samaria sering dianggap sebagai pengkhianat karena agama mereka berbeda dengan orang Yahudi, sehingga dibenci oleh mereka.
Minggu ini, umat diajak oleh Gereja Katedral Semarang untuk “Bersyukur sebagai Tindakan Iman”, seperti kata Yesus kepada orang Samaria dalam Bacaan Injil, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Perbedaan Bacaan Injil di Berbagai Gereja
Saya merasa terkejut ketika mengikuti Misa di Gereja St. Theresia Bongsari Semarang. Bacaan Injil yang digunakan berbeda dari biasanya. Biasanya, semua Bacaan dalam Misa di Gereja Katolik manapun pada hari yang sama adalah sama. Namun, kali ini Bacaan Injil diambil dari Matius 8:23-27 tentang Yesus menghardik angin ribut di danau dimana para murid dan Yesus sedang berperahu. Perahu mereka dihempas gelombang, dan Yesus saat itu sedang tenang-tenang tidur dan kemudian dibangunkan oleh para murid.
Nabi Elisa Menolak Gratifikasi
Kata-kata Nabi Elisa, “Demi Tuhan yang hidup, yang aku layani, aku tidak akan menerima apa-apa,” menghujam hati saya. Nabi Elisa menganggap bahwa pekerjaannya adalah melayani Tuhan, sehingga saat melakukan pelayanan, tidak sepantasnya dia menerima pemberian dari Naaman.
Saya belajar tentang profesionalitas dan juga rasa cukup yang dimiliki oleh Nabi Elisa. Jika Nabi Elisa tidak merasa cukup atau selesai dengan dirinya, maka dia akan dengan senang hati menerima hadiah untuk pelayanan yang dia berikan kepada Tuhan.
Bagi saya, rasa cukup bukan ditunjukkan dari nominal harta yang saya miliki, tetapi lebih pada ketidak melekatan saya pada harta.
Kisah Sufi Kaya dan Sufi Miskin
Untuk memperjelas apa yang saya maksud dengan ketidak melekatan pada harta, ijinkan saya mengutip ‘Kisah Sufi Kaya dan Sufi Miskin’ yang pernah saya baca di sebuah akun Facebook. Begini kisahnya:
Dikisahkan ada seorang guru yang merekomendasikan muridnya untuk belajar kepada seorang sufi ternama. Setelah melewati perjalanan yang amat panjang, sang murid akhirnya dapat berjumpa dengan sufi ternama tersebut. Betapa kagetnya sang murid, ketika melihat rumah sufi ternama tersebut sangat mewah seperti istana raja. Pakaiannya mewah dan kendaraannya juga sangat bagus. Karena ragu, sang murid bertanya kepada tetangga-tetangga sufi ternama tersebut. Dan, semuanya menjawab bahwa orang yang dimaksud adalah sufi ternama tempat dia direkomendasikan untuk belajar.
Di tengah keraguan, sang murid pun menjumpai sufi ternama tersebut. Ia pun menyampaikan maksud dan tujuannya. Betapa kagetnya sang murid mendengar kata-kata yang keluar dari mulut sufi ternama itu: “Tolong sampaikan salam saya kembali kepada gurumu. Aku berpesan agar dia tidak selalu sibuk dengan urusan dunia.”
Dalam hati sang murid berkata, bagaimana mungkin orang kaya raya itu memberikan nasehat kepada gurunya yang jauh dari kehidupan dunia agar tidak sibuk dengan urusan dunia. Bukankah yang lebih sibuk mengurus dunia adalah sufi kaya itu? Akhirnya sang murid pamit pulang dan tidak jadi berguru kepada sufi kaya itu.
Sesampainya di padepokan gurunya, ia menceritakan semua kejadian yang dilihatnya dan juga menyampaikan nasehat sufi kaya itu untuk gurunya. Yang lebih mengagetkan sang murid, gurunya menangis dan membenarkan kata-kata sufi kaya itu.
Akhirnya sang guru menjelaskan. Memang benar sufi kaya tersbut bergelimangan harta. Namun, harta yang melimpah itu tidak menyebabkan dia lalai dan lupa kepada Allah. Hartanya tidak mengganggu dzikirnya. Ia tidak sombong karena hartanya dan ia pun tidak masalah jika hartanya diambil Allah. Ia memandang harta biasa-biasa saja.
Sementara saya, ujar sang guru, hartanya memang tidak melimpah, tetapi tiap hari dia masih sibuk memikirkan harta. Bahkan bisa jadi saya, kata sang guru, lebih sibuk memikirkan urusan harta dibandingkan dengan sufi yang kaya raya tersebut.
Pelajaran bagi Saya
Pelajarannya bagi saya adalah bahwa sibuk memikirkan harta, tidak dapat dilihat dari jumlah harta yang dimiliki. Guru yang lebih miskin dari sang sufi kaya, ternyata bisa lebih sibuk memikirkan harta dibandingkan dengan sufi kaya. Kata kuncinya adalah kemelekatan.
Sufi kaya siap untuk melepas hartanya yang berlimpah. Harta tidak melekat pada dirinya.
Ketika Nabi Elisa menolak hadiah dari Naaman, tidak ada kemelekatan harta bagi Nabi Elisa. Bahkan Nabi Elisa melihat nasehatnya kepada Naaman adalah bagian dari pekerjaannya untuk melayani Tuhan. Karena pekerjaannya adalah melayani, maka Nabi Elisa menolak menerima hadiah dari Naaman. Tidak perlu ada penghasilan tambahan dari pekerjaannya melayani Tuhan.
Saya sering tergoda untuk menerima hadiah di luar gaji yang sudah saya terima. Meskipun hasil kerja saya buruk, ketika orang yang saya layani memberikan hadiah untuk saya, saya tergoda untuk menerimanya. Padahal sekali lagi, saya tahu hakekat pekerjaan saya, dan saya juga tahu gaji yang akan saya terima dari pekerjaan saya, tetapi mengapa saya tergoda menerima hadiah?
Gereja Katolik pernah mengalami masa suram. Masa-masa ini kemudian menjadi materi kritik Martin Luther terhadap Gereja Katolik. Saat itu banyak pemuka agama Katolik yang menjual surat pengampunan dosa bagi keselamatan seseorang. Luther memprotes dan menyatakan bahwa keselamatan berasal dari iman, bukan dari pembayaran uang.
Gereja Katolik tidak malu mengakui pernah mengalami masa-masa kelam. Dan, yang terpenting Gereja Katolik mau memperbaikinya. Buktinya untuk saya pribadi, saya belajar tentang hal ini di Mata Kuliah Sejarah Peradaban Barat di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada yang diampu oleh almarhum Romo Dick Hartok, SJ. Peserta mata kuliah ini tidak semuanya beragama Katolik.
Oh alangkah indahnya jika semua orang, termasuk pemuka agama, meniru Nabi Elisa. Tidak perlu ada hadiah tambahan saat melakukan pelayanan. Tidak perlu ada hadiah-hadiah tambahan untuk pekerjaan kita.


