PasarModern.com,
JAKARTA – Dalam istilah Islam, ‘ain (عَين) berarti “mata”, dan penyakit ‘ain dipahami sebagai gangguan yang muncul akibat pandangan hasad (iri) atau kekaguman berlebihan yang tidak diiringi doa dan barakah.
Rasulullah ﷺ menegaskan realitas ‘ain: “Al-‘ainu ḥaqqun (pengaruh ‘ain itu benar). Jika ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, niscaya ‘ain-lah yang mendahuluinya. Jika kalian diminta mandi (sebagai sebab pengobatan dari ‘ain), maka mandilah.” (Sahih Muslim no. 2188)
Apa Itu Penyakit ‘Ain Menurut Islam
Secara bahasa, ‘ain berarti mata. Dalam konteks syariat, ia menunjuk pada dampak negatif (adh-dharar) dari pandangan, entah didasari hasad (iri dengki) atau kekaguman yang tidak dibingkai doa kebaikan.
‘ain dapat mengenai fisik (lemas, sering sakit) atau non-fisik (gelisah, relasi sosial renggang), namun tidak otomatis semua masalah adalah ‘ain. Karenanya, pisahkan antara penyakit medis (yang perlu dokter) dan gangguan non-fisik (yang perlu doa/ruqyah).
Penyakit ain telah ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam HR Muslim yang berbunyi: الْعَيْنُ حَقٌّ وَلَوْ كَانَ شَىْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ
Artinya: “Ain itu nyata (Haq), kalau saja ada sesuatu yang mendahului takdir, niscaya ‘ain akan mendahuluinya”
ثم تستعين على تنفيذ سمها بنظرها إلى المَعِين
Artinya: “Ain berasal dari kata ‘aana – ya’iinu yang artinya terkena sesuatu hal dari mata. Berawal dari pandangan kagum terhadap sesuatu yang diikuti oleh respon jiwa yang negatif, lalu jiwa tersebut menggunakan media pandangan mata untuk menyalurkan racunnya kepada yang dipandang tersebut” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 1/271).
Ini penting untuk menjaga akal sehat (ta‘aqqul) dalam beragama dan mencegah sikap berlebihan.
Rujukan Keilmuan Modern tentang Ruqyah dan ‘Ain
Rujukan keilmuan modern tentang ruqyah dan ‘ain juga diulas pada literatur akademik dan fatwa lembaga resmi di kawasan muslim (Malaysia/Singapura) yang menekankan ruqyah syar’iyyah sebagai bacaan doa-doa yang ma’tsur (bersumber dalil), bukan praktik yang keluar dari tuntunan.
Dalil dan Hadis tentang Penyakit ‘Ain
-
‘Ain itu nyata
“Al-‘ainu ḥaqqun…” (Sahih Muslim no. 2188) dan dianjurkan mandi ketika diminta (istighsāl) sebagai bagian ikhtiar pengobatan dari ‘ain. -
Anjuran berlindung kepada Allah dari ‘ain
“Mintalah perlindungan kepada Allah, karena ‘ain itu nyata.” (Sunan Ibn Mājah no. 3508) -
Doa perlindungan untuk anak (Hasan dan Husain)
Menjadi dalil formula doa paling masyhur melawan ‘ain: Rasulullah ﷺ mendoakan al-Hasan dan al-Husain dengan kalimat “A‘ūdzu bi kalimātillāhit-tāmmati … wa min kulli ‘ainin lāmmah”. Hadis ini diriwayatkan dalam Bukhari dan Abu Dawud.
Keterangan ulama: Ibnu Qayyim dan ulama syarh hadis menegaskan ruqyah syar’iyyah dengan doa-doa ma’tsur adalah wasilah yang dibenarkan. Makna “kalimātillāhi at-tāmmāt” mencakup perlindungan sempurna dari Allah untuk menolak berbagai bahaya, termasuk ‘ain.
Ciri-Ciri dan Tanda Orang yang Terkena Penyakit ‘Ain
Catatan penting:
Ciri-ciri berikut bukan vonis. Periksakan medis terlebih dahulu agar tidak mengabaikan penyakit fisik.
Kemungkinan ciri fisik (subjektif)
- Sering sakit/lemas tanpa temuan medis yang memadai; migrain berulang; drop energi mendadak.
- Gangguan tidur atau nafsu makan menurun tiba-tiba.
- Wajah pucat kekuningan.
- Nafsu makan berkurang.
- Badan panas dingin silih berganti.
- Sakit kepala berpindah-pindah.
- Jantung berdegup cepat dan tidak beraturan.
- Punggung bawah dan bahu sering sakit.
- Dada sesak dan sering sedih tanpa sadar.
- Emosi tidak terkontrol.
- Malas dalam bekerja dan melakukan kebaikan.
- Banyak tidur.
- Malam hari sering berkeringat padahal tidak panas.
Kemungkinan ciri non-fisik
- Gelisah/overthinking tanpa sebab jelas; mudah tersulut cemas.
- Hubungan sosial/rezeki terganggu setelah kejadian tertentu (misal: dipuji berlebihan/di-expose tanpa adab).
Catatan:
Jangan men-diagnosis diri hanya berdasar “perasaan terkena ‘ain” atau komentar orang. Lakukan cek medis bila gejala berlanjut. Setelah itu, lengkapi dengan doa/ruqyah sesuai sunnah, karena pengobatan terbaik adalah yang menyatukan sebab syar’i dan sebab kauni (medis).
Doa Terhindar dari Penyakit ‘Ain
- Doa Perlindungan Umum (Hadis Bukhari/Abu Dawud – untuk diri/anak)
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
Allāhumma innī a‘ūdzu bi kalimātillāhit-tāmmati min kulli syayṭānin wa hāmmatin, wa min kulli ‘ainin lāmmah.
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan hewan berbahaya, serta dari setiap pandangan mata yang membawa mudarat.”
Nabi ﷺ menjadikan doa ini perlindungan bagi al-Hasan dan al-Husain, dianjurkan dibaca untuk diri dan keluarga. Kapan dibaca? Pagi hingga petang (bagian dari adzkar harian), saat anak rewel tanpa sebab jelas, ketika bepergian, atau ketika merasa terpapar pandangan/pujian berlebihan.
- Doa untuk Anak (lafaz pendek—Hisn al-Muslim)
أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
U‘īdzukumā bikalimātillāhit-tāmmati min kulli syayṭānin wa hāmmatin, wa min kulli ‘ainin lāmmah.
Artinya: “Aku lindungkan kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan, hewan berbahaya, dan dari setiap ‘ain yang memudaratkan.”
Sunnah untuk anak, tapi maknanya juga relevan untuk siapa pun.
- Dzikir Pagi–Petang (bagian pencegahan ‘ain)
Praktikkan rangkaian adzkar sabah masa’, terutama: membaca Ayat Kursi, Al-Ikhlāṣ, Al-Falaq, An-Nās (3×) setiap pagi dan sore. Ini paket perlindungan umum yang membentengi dari sihir, was-was, dan ‘ain—disunnahkan oleh Nabi ﷺ dalam banyak riwayat adzkar harian.
Cara Melindungi Diri dari Penyakit ‘Ain
-
Rutin Dzikir Pagi-Petang
Jadikan Hisn al-Muslim atau aplikasi dzikir resmi sebagai panduan. Prioritaskan Ayat Kursi, Al-Ikhlāṣ–Al-Falaq–An-Nās, dan doa perlindungan di atas. -
Adab Ketika Dipuji/Melihat yang Menakjubkan
Bagi yang melihat: ucapkan “Māsyā’Allāh, Allāhumma bārik” (Semoga Allah memberkahi).
Bagi yang dipuji: kembalikan pujian kepada Allah, ucapkan syukur, dan jangan pamer (riya’) berlebihan. -
Hindari Berlebihan di Media Sosial
Ekspose terus-menerus (harta, anak, prestasi) dapat memicu hasad. Jaga privasi dan niat (berbagi inspirasi, bukan pamrih atensi). -
Luruskan Niat dan Jaga Hati
‘Ain sering “terpicu” dari hasad. Obat hati terbaik: qana’ah (cukup), syukur, dan doa kebaikan untuk orang lain. -
Gaya Hidup Tertib
Self-care (tidur cukup, makan seimbang, olahraga) memperkuat fisik & mental sehingga tidak mudah drop. Upaya ini tidak bertentangan dengan tawakal, justru bagian dari akhz bil-asbāb (mengambil sebab).
Cara Mengobati Orang yang Terkena Penyakit ‘Ain
Cara menghilangkan penyakit ain dengan ruqyah bisa dengan cara membaca doa. Dalam hadits ‘Aisyah RA, ia berkata: “Ketika Rasulullah SAW merasakan sakit, Malaikat Jibril meruqyahnya dengan doa:
باسْمِ اللهِ يُبْرِيكَ، وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيكَ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إذَا حَسَدَ، وَشَرِّ كُلِّ ذِي عَيْنٍ
Bismillahi yubriik wa min kulli daa-in yasyfiik, wa min syarri haasidin idza hasad, wa syarri kulli dzii ‘ainin
Artinya : “Dengan nama Allah yang menyembuhkanmu. Ia menyembuhkanmu dari segala penyakit dan dari keburukan orang yang hasad dan keburukan orang yang menyebabkan ‘ain.” (HR. Muslim no. 2185).
1. Ruqyah Syar’iyyah
Bacakan Al-Fatihah, Ayat Kursi, Al-Ikhlāṣ, Al-Falaq, An-Nās, serta doa perlindungan.
Boleh meniup ringan setelah membaca doa (praktik ruqyah ma’tsur).
Pilih peruqyah tepercaya (memegang kaidah syar’i, tidak melakukan praktik syirik/takhayul). Lembaga resmi menekankan kriteria ruqyah syar’iyyah: bacaan Al-
Qur’an/ doa shahih, bahasa yang dipahami, dan tawakal kepada Allah semata.
2. Istighsāl (mandi) dari pelaku ‘ain
Hadis Muslim menyebut anjuran mandi saat diminta dari pelaku ‘ain; teknisnya dibahas ulama (mengambil air sisa wudhu/mandi pelaku yang diduga, lalu diguyurkan pada yang terkena). Praktik ini butuh hikmah, kedua pihak harus saling ihsan dan menjaga adab.
3. Konsultasi Medis
Jika ada gejala fisik/psikologis, jangan tunda bertemu dokter/psikolog. Ruqyah bukan pengganti penanganan medis, keduanya saling melengkapi.
4. Perbanyak Istighfar dan Sedekah
Husnuzhan kepada Allah dan memperbanyak amal shalih meringankan beban batin, mengundang pertolongan Allah, dan menutup pintu hasad (masyarakat melihat amal, bukan pamer harta).
Adab Ketika Mengagumi Orang atau Sesuatu
Ucapkan: “Māsyā’Allāh, Allāhumma bārik” (Semoga Allah memberkahi). Ini memotong potensi hasad dan mengubah rasa kagum menjadi doa.
Jangan menyindir/mengecilkan nikmat orang: ghibah dan sindiran memantik dengki.
Jaga lisan dan jempol di ruang digital. Jika ingin berbagi kabar gembira, sertakan doa dan hindari berlebihan (iklan diri).
Latih empati: doakan yang sedang diuji; syukuri milik sendiri tanpa membanding-bandingkan.
‘Ain itu nyata, dan Islam memberikan jalan lindung: doa ma’tsur, dzikir pagi–petang, adab ketika kagum, ruqyah syar’iyyah, dan gaya hidup seimbang. Kuncinya tawazun (keseimbangan):
Spiritual, doa, dzikir, ruqyah.
Rasional medis, periksa ke dokter saat ada gejala.
Moral sosial, jaga niat, lisan, dan jejak digital agar tidak memantik hasad.
Dengan iman, ilmu, dan adab, kita memohon: semoga Allah menjaga kita dari ‘ain, memberkahi nikmat yang ada, serta menyembuhkan mereka yang diuji.
FAQ
Apa itu penyakit ‘ain?
Gangguan yang timbul karena pandangan hasad atau kagum berlebihan tanpa doa barakah; diakui dalam hadis Nabi ﷺ.
Bagaimana cara mencegah penyakit ‘ain?
Rutin dzikir pagi–petang, membaca Al-Ikhlāṣ–Al-Falaq–An-Nās, serta mengucap “Māsyā’Allāh, Allāhumma bārik” saat melihat kebaikan.
Apakah penyakit ‘ain benar adanya?
Ya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Al-‘ainu ḥaqqun…” (Sahih Muslim no. 2188).
Apakah penyakit ‘ain bisa disembuhkan?
Bisa, dengan ruqyah syar’iyyah, doa perlindungan yang shahih, istighsāl sesuai tuntunan, serta ikhtiar medis bila ada gejala fisik.
Doa paling dianjurkan?
Doa perlindungan yang Nabi ﷺ bacakan untuk al-Hasan dan al-Husain: “A‘ūdzu bi kalimātillāhit-tāmmati min kulli syaitānin wa hāmmatin wa min kulli ‘ainin lāmmah.” (riwayat Bukhari/Abu Dawud).
Demikian penjelasan mengenai ciri-ciri penyakit ain, doa untuk menghindarinya, dan cara menyembuhkannya. Semoga pembahasan kali ini dapat menjadi pelajaran untuk kita agar senantiasa menghindari diri dari perbuatan riya, dan menjaga hati dari sifat iri serta dengki.


