Dr Aisah Dahlan Bongkar Rahasia Otak yang ‘Matikan’ Saat Tidur

Posted on

Perbedaan Cara Tidur Laki-Laki dan Perempuan

Pernahkah Anda merasa heran, saat anak menangis di malam hari, para ibu langsung terbangun sementara sang ayah tetap terlelap? Menurut dr Aisah Dahlan, fenomena ini bukan karena para suami tidak peduli, melainkan karena perbedaan cara kerja otak saat tidur antara laki-laki dan perempuan. Dalam sebuah kajian yang diunggah di akun TikTok @draisyahdahlan, konsultan narkoba sekaligus pakar neurosains, dr Aisah menjelaskan bahwa ketika laki-laki tidur, sekitar 70 persen ‘listrik’ otaknya dalam keadaan mati. Sementara itu, saat perempuan tidur, 90 persen listrik otaknya tetap aktif.

“Siapa yang pernah waktu punya anak masih bayi? Anak nangis, ibu bangun, bapaknya enggak bangun? Itu bukan karena dia tidak mau bangun,” kata dr Aisah Dahlan. Karena otak perempuan tetap waspada, mereka dapat mendengar suara tangisan anak, dengkuran suami, bahkan ketukan pintu di malam hari. Itulah sebabnya banyak perempuan mengeluhkan sulit tidur nyenyak dan sering merasa kurang istirahat.

“Begitulah perempuan tidur. Allah ciptakan untuk mendengarkan apa yang terjadi sekeliling,” ujarnya. Ia memberi contoh situasi saat pandemi, ketika anak sudah tidur di kamar terpisah. Tengah malam, anak tiba-tiba mengetuk pintu kamar untuk meminta obat demam. “Coba ibu enggak bangun-bangun gimana?” ujar dr Aisah Dahlan. Sekalipun sesekali ibu terlalu lelah dan tidak mendengar, biasanya Allah membangunkan suami untuk menggantikan. Namun, alih-alih langsung menggendong anak, kebanyakan suami akan membangunkan istrinya.

“Pas suami bangun, bukan gendong anak, dia bangunin istrinya. ‘Mah, mah, mah, anakmu bangun…’” kata dr Aisah sambil menirukan gaya para suami. Penjelasan ini pun menuai banyak reaksi warganet, terutama para ibu yang merasa relate dengan pengalaman tersebut.

Jangan Nasehati Anak Laki-Laki Saat Lapar!

dr Aisah Dahlan juga membahas pentingnya cara berkomunikasi dengan anak laki-laki. Dalam sebuah video penjelasan dari dr Aisah Dahlan mengenai cara menghadapi anak laki-laki saat lapar viral di TikTok. Video tersebut telah ditonton lebih dari 4 juta kali dan menuai ribuan komentar dari para orang tua, khususnya ibu-ibu.

Dalam video tersebut, dr Aisah Dahlan mengingatkan para ibu untuk tidak menasihati anak laki-laki dalam kondisi lapar. Menurutnya, waktu dan cara memberi nasihat sangat berpengaruh terhadap respons emosional anak laki-laki. “Siapa punya anak laki-laki? Pantang nasehati anak laki-laki dikala dia lapar,” ujar dr Aisah dalam video tersebut.

Ia menjelaskan, cara paling efektif untuk menasihati anak laki-laki adalah saat sedang makan, tepatnya di pertengahan waktu makan. Selain itu, penting untuk tidak memberikan nasihat di depan orang lain agar anak tidak merasa terpojok. “Ibu kalau mau nasehati anak laki paling gampang ajak makan, pertengahan makan ibu nasehati. Dan tidak di depan orang lain. Itu laki-laki,” tambahnya.

dr Aisah juga menyoroti perbedaan fisiologis antara laki-laki dan perempuan. Menurutnya, pusat rasa lapar pada laki-laki lebih besar, sehingga ketika anak laki-laki mengatakan “aku lapar”, sebenarnya mereka sudah lapar sejak setengah jam sebelumnya. “Perempuan ibu-ibu ini nggak bisa ngerasain laparnya laki-laki. Karena pusat makan kita kecil. Makanya kita ngeyel,” jelasnya.

Ia mencontohkan situasi saat anak laki-laki mengerjakan PR. Meski hanya tersisa satu nomor, ketika lapar datang, anak akan sulit fokus. Karena itu, dr Aisah menyarankan agar ibu memberikan makanan terlebih dahulu, kemudian melanjutkan aktivitas belajar dengan suasana menyenangkan. “Nanti habis makan, selesainnya itu dengan senang ya. Yeay gitu. Sehingga besok-besok pada saat mengerjakan PR, dia tidak trauma lagi,” ucapnya.

Anak Introvert dan Susah Cerita?

Punya anak introvert, dan mereka cenderung pendiam dan susah bercerita? Banyak orang tua yang mengeluhkan anaknya sulit bercerita atau mengekspresikan perasaan terlebih jika anak memiliki kepribadian introvert. Memiliki anak yang introvert sering kali orang tua bingung bagaimana cara membuka percakapan tanpa membuat anak merasa tertekan.

Menanggapi hal ini, Dr Aisah Dahlan membagikan cara lembut yang bisa dilakukan orang tua agar anak introvert lebih terbuka. Dalam penjelasannya, Dr Aisah Dahlan menyebut bahwa anak introvert memiliki cara berkomunikasi yang berbeda dengan anak ekstrovert. Mereka biasanya tidak langsung bercerita panjang, melainkan butuh waktu dan ruang kepercayaan sebelum benar-benar membuka diri.

“Kalau anak perempuan atau anak introvert mau bicara, lihat wajahnya. Simpan HP, tatap wajah anak dan dengarkan dengan penuh perhatian,” ujar Dr Aisah Dahlan. Dr Aisah Dahlan menekankan, saat anak introvert mulai berbicara, orang tua harus menghentikan aktivitas lain dan memberikan fokus penuh. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua benar-benar hadir untuk mendengarkan.

“Anak introvert ngomongnya itu seminggu sekali dan sebentar. Jadi ketika dia mau cerita, tanggapi dengan sabar. Jangan buru-buru menyela atau menginterogasi,” jelasnya. Berbeda dengan anak ekstrovert yang bisa langsung ‘nyerocos’ dan terbuka dengan ekspresi wajah ceria, anak introvert cenderung hati-hati.

Karena itu, cara orang tua menyambut ceritanya sangat menentukan apakah mereka akan merasa nyaman atau justru menutup diri lagi. Dr Aisah Dahlan juga mengingatkan, anak introvert ingin memastikan bahwa orang tua benar-benar meluangkan waktu untuk mereka. Sikap diam orang tua saat mendengarkan bukan berarti pasif, melainkan memberi ruang bagi anak untuk berpikir dan mengekspresikan perasaannya tanpa tekanan.

“Anak introvert ingin mempercayai bahwa Bundanya benar-benar meluangkan waktu untuk dia. Jadi jangan mentang-mentang anak diam, lalu kita diamkan juga. Orang tua harus sabar dan pelan-pelan memancingnya dengan pertanyaan ringan,” tutur Dr Aisah Dahlan. Pertanyaan ringan bisa berupa “Kenapa, Nak?” atau “Mau cerita apa?” dengan nada tenang dan lembut.

Hindari langsung menanyakan hal berat atau menyudutkan, karena bisa membuat anak introvert menutup diri lebih rapat. Dalam parenting, Dr Aisah Dahlan menilai penting bagi orang tua untuk mengenali watak anaknya. Dengan begitu, pendekatan komunikasi bisa lebih tepat.

“Anak ekstrovert biasanya langsung terbuka, ekspresif, bahkan saat bercerita bisa sambil bercanda. Tapi anak introvert beda. Dia akan terbuka saat merasa benar-benar didengarkan,” kata Dr Aisah Dahlan. Kunci utama menghadapi anak introvert adalah kesabaran dan konsistensi. Orang tua perlu memberi sinyal bahwa mereka aman untuk diajak berbicara.

Seiring waktu, anak akan terbiasa dan percaya bahwa orang tua adalah tempat pertama untuk bercerita. Dengan pendekatan yang tenang dan penuh perhatian seperti yang dijelaskan Dr Aisah Dahlan, anak introvert akan merasa lebih nyaman membuka diri. Bukan dengan paksaan, tapi melalui kehadiran, kesabaran, dan kasih sayang orang tua.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *