Kreativitas sebagai Diplomasi: Indonesia Menguasai Dunia Melalui Hiburan

Posted on

Peran Industri Hiburan dalam Membangun Kekuatan Lunak Indonesia

Industri hiburan di Indonesia kini tidak hanya menjadi sumber hiburan, tetapi juga menjadi sarana penting untuk memperkenalkan identitas nasional ke audiens global. Dari layar sinema, panggung musik, hingga gim interaktif, karya-karya kreatif dari anak bangsa telah menjadi bagian dari soft power yang mampu memperkuat citra Indonesia di dunia internasional.

Dalam acara Power Lunch bertema “Membangun Percakapan Global Lewat Entertainment” yang diselenggarakan oleh GDP Venture, para narasumber seperti Martin Hartono (CEO GDP Venture), Angga Dwimas Sasongko (CEO Visinema), Arief Widhiyasa (Co-founder Agate & CEO Confiction Labs), serta Suwandi Ahmad (Chief Data Officer Lokadata.id) membahas peran industri hiburan dalam membangun identitas budaya dan ekonomi kreatif nasional.

Data Lokadata (2025) menunjukkan bahwa sektor ekonomi kreatif berkontribusi sekitar Rp1.300 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional atau 7,8 persen dari total ekonomi Indonesia, dengan lebih dari 24 juta tenaga kerja di dalamnya. Subsektor film, musik, dan gim menjadi motor utama pertumbuhan, menyumbang sekitar 25 persen dari total nilai ekonomi kreatif nasional, seiring meningkatnya konsumsi konten lokal dan tren experience-driven economy di kalangan generasi muda.

Hiburan sebagai Arena Pembentukan Identitas

Chief Data Officer Lokadata.id, Suwandi Ahmad, menjelaskan bahwa hiburan kini menjadi arena pembentukan identitas. “Generasi muda berperan bukan hanya sebagai penikmat, melainkan juga kreator yakni membuat, meniru, membagikan ulang, dan menjadi bagian dari percakapan global,” ujarnya.

Survei Lokadata juga menunjukkan bahwa 95 persen anak muda Indonesia mendengarkan musik secara daring setiap hari, dengan 40 persen di antaranya menghabiskan waktu lebih dari satu jam. Sementara itu, 54 persen menemukan musik baru melalui media sosial, menandakan algoritma digital kini membentuk arus budaya populer baru.

Soft Power yang Tumbuh dari Negara Berkembang

Martin Hartono menekankan bahwa soft power memiliki banyak bentuk, tidak hanya lewat film, musik, atau gim, tetapi juga melalui nilai-nilai budaya dan simbol yang dikenal dunia. “Bahkan mata uang yang diterima lintas negara pun merupakan bentuk soft power,” ujarnya.

Meskipun biasanya tumbuh dari negara maju dengan fondasi ekonomi kuat, Martin menegaskan bahwa negara berkembang juga bisa memiliki soft power. “India menjadi contoh yang berhasil. Mereka dikenal dunia melalui Bollywood-nya. Indonesia juga memiliki potensi serupa dengan kekayaan budaya yang sangat beragam,” katanya.

Musik: Menawarkan Karakter yang Berbeda

GDP Venture melalui 88rising berupaya membangun identitas yang membedakan musisi Indonesia dari arus utama industri global seperti K-pop atau J-pop. Pendekatannya bukan dengan meniru tren, melainkan menghadirkan warna baru yang lahir dari karakter dan nilai khas Indonesia yang justru menjadi daya tarik di mata dunia.

Inisiatif ini dilakukan secara menyeluruh, mulai dari proses pengembangan artistik, pembentukan visi kreatif, produksi, hingga distribusi di pasar global. GDP Venture dan 88rising berhasil menumbuhkan talenta yang kini dikenal di kancah internasional seperti Rich Brian, NIKI, Warren Hue, dan kini grup vokal No Na yang membawa karakter unik musik Indonesia.

“Kami membentuk No Na dengan keyakinan girl group Indonesia bisa melampaui K-pop. Menariknya, data dari Orchid, fanbase No Na, menunjukkan penggemar terbesar kedua mereka justru berasal dari Korea. Hal ini membuktikan bahwa soft power bisa hadir lewat cara yang segar dan relevan bagi audiens global,” ujar Martin.

Film: Dari Ruang Kreatif Menuju Ekosistem Global

Dari sisi film, Visinema melihat arah industri perfilman Indonesia kini bergerak ke fase baru, dari sekadar produksi konten menuju bisnis hiburan berbasis ekosistem dan Intellectual Property (IP). Menurut data Lokadata (2025), film horor masih mendominasi bioskop dengan pangsa sekitar 55 persen dari total penonton nasional. Namun, di tengah dominasi tren ini, Visinema memilih jalur berbeda: menghadirkan cerita yang berakar pada nilai kehidupan dan realitas sosial, dengan pendekatan naratif yang lebih emosional dan universal.

Salah satu implementasi visi tersebut adalah proyek animasi JUMBO, yang berakar pada nilai keluarga dan dikembangkan sebagai IP jangka panjang dengan rencana produksi hingga lima tahun ke depan. “JUMBO kami bangun dengan economic runway yang panjang agar proses kreatifnya matang. Kreator butuh waktu untuk menciptakan sesuatu yang relevan lintas generasi,” kata Angga.



Keterangan foto (kiri ke kanan): Ossy Indra Wardhani (Corporate Affairs Director GDP Venture), Martin Hartono (CEO GDP Venture), Angga Dwimas Sasongko (CEO Visinema), Arief Widhiyasa (Co-founder Agate & CEO Confiction Labs), dan Suwandi Ahmad (Chief Data Officer Lokadata.id). – (Dok istimewa)

Gim: Talenta Lokal, Dampak Global

Industri gim Indonesia juga menunjukkan pertumbuhan stabil dan berkelanjutan. Sebelum pandemi, pasar gim tumbuh 9–10 persen per tahun, melonjak signifikan saat pandemi, dan kini stabil pasca-Covid dengan kontribusi lebih dari 8,5 persen terhadap ekonomi kreatif nasional.

“Gim adalah medium kolaboratif yang mempertemukan seni, teknologi, dan budaya. Ini cara baru memperkenalkan nilai Indonesia ke dunia,” ujar Co-founder Agate dan CEO Confiction Labs, Arief Widhiyasa.

Secara global, industri gim bernilai sekitar 192,7 miliar dolar AS, melampaui gabungan pendapatan industri film dan musik. Di Indonesia, nilainya meningkat hampir sepuluh kali lipat dalam dua dekade, dari 10 juta dolar AS pada tahun 2000 menjadi hampir 100 juta dolar AS pada 2025.

Agate telah merilis berbagai gim global seperti Valthirian Arc, Code Atma, dan Rifstorm, yang berhasil masuk dalam Top 50 Most Played Game saat perilisan demonya. “Keberhasilan mengembangkan gim bergantung pada kekuatan SDM. Karena itu, sejak 2018 kami mendirikan Agate Academy—lembaga pelatihan yang memberikan pendidikan pembuatan gim bagi sekolah, universitas, dan profesional agar siap bersaing secara global,” ujar Arief.

Indonesia dalam Percakapan Budaya Global

Perkembangan lintas sektor ini menegaskan kreativitas Indonesia kini menjadi kekuatan baru. Dari musik, film, hingga gim, para pelaku industri kreatif berhasil mengubah entertainment menjadi sarana memperkenalkan nilai dan identitas bangsa kepada dunia.

Kekuatan ini tidak lahir semata dari popularitas, melainkan dari kemampuan talenta Indonesia mengemas nilai dan identitas bangsa menjadi karya yang relevan secara global. Kolaborasi antara teknologi, budaya, dan bisnis melahirkan ekosistem kreatif berkelanjutan, sebuah soft power yang membangun persepsi positif Indonesia di mata dunia.

Dengan semakin banyaknya karya Indonesia di panggung internasional, Indonesia bukan lagi sekadar penonton dalam percakapan budaya global, melainkan turut menjadi narator yang membawa suara, nilai, dan kisahnya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *