Populer Kaltim: Siswa Bontang Pilih Lapar Daripada Makan MBG, 5 Daerah dengan Tingkat HIV Tertinggi di Kaltim

Posted on

Program Makan Bergizi Gratis di Bontang Kembali Jadi Sorotan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), kembali menjadi sorotan setelah ditemukan menu MBG yang basi. Kejadian ini terjadi di SMA Negeri 2 Bontang pada Kamis (2/10/2025). Hal ini dibenarkan oleh Kepala SMA Negeri 2 Bontang, Suyanik.

Berikut adalah beberapa fakta terkait kejadian tersebut:

  • Kejadian kedua di SMA Negeri 2 Bontang

    Ini bukan pertama kalinya sekolah ini menerima menu MBG yang basi. Sebelumnya, pekan lalu, siswa juga menerima nasi goreng yang basi. Aroma tidak sedap muncul dari timun busuk yang bercampur dengan nasi dan membuatnya berair. Pada kejadian terbaru, menu yang diterima adalah batagor yang basi.

  • Pelajar memilih tidak makan

    Setelah menerima menu MBG yang basi, para pelajar SMA Negeri 2 Bontang enggan menyantap hidangan tersebut dan memilih mengembalikannya ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Meski begitu, Suyanik memastikan tidak semua makanan bermasalah. Sebagian menu tetap segar dan dikonsumsi siswa. Namun, ia mengingatkan para pelajar agar lebih mawas diri dalam memilih makanan untuk menghindari masalah kesehatan.

  • Kepala Sekolah sudah melaporkan

    Jumat (3/10/2025), Suyanik sudah melaporkan kejadian menu MBG basi ini. Ia menyarankan agar menu berbahan sayuran yang mudah busuk sebaiknya dihindari.

  • Respons Kepala Regional SPPG Bontang

    Kepala Regional SPPG Bontang, Surya Dwi Saputra, membenarkan adanya temuan makanan basi di SMA Negeri 2. Sekolah itu diketahui mendapat suplai makanan dari dapur Bontang Utara 03 di HOP 6. Menurutnya, ada menu nasi goreng yang basi.

  • Dapur SPPG dievaluasi menyeluruh

    Menurut Surya Dwi Saputra, saat ini dapur terkait sedang dievaluasi, baik pemilihan menu maupun cara pengolahannya. Ia menegaskan, evaluasi menyeluruh akan dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terulang. “Kami juga memberikan pemahaman kepada siswa agar lebih cermat sebelum mengonsumsi makanan,” katanya.

Daftar SPPG di Kota Bontang

Berdasarkan data dari laman resmi Badan Gizi Nasional (BGN) di kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur, terdapat enam operasional SPPG. Berikut daftarnya:

  • SPPG Kota Bontang, Kecamatan Bontang Utara, Kelurahan Guntung
  • SPPG Kota Bontang, Kecamatan Bontang Utara, Kelurahan Bontang Baru
  • SPPG Kota Bontang, Kecamatan Bontang Utara, Kelurahan Api-api
  • SPPG Kota Bontang, Kecamatan Bontang Utara, Kelurahan Gunung Elai, Gunung Elai 2
  • SPPG Kota Bontang, Kecamatan Bontang Barat, Kelurahan Kanaan

Kekhawatiran Orangtua

Sebelumnya, orangtua di Bontang menyampaikan kekhawatirannya terkait program MBG lantaran di sejumlah daerah mencuat kabar keracunan terhadap anak-anak usai makan menu MBG. Burhan, orang tua siswa SMP Negeri 4, mengaku tidak menampik adanya kekhawatiran setelah mendengar kabar keracunan massal di luar Bontang. Namun ia menilai kasus tersebut bisa menjadi pengingat bahwa pengelolaan program belum sempurna.

Senada, Haryani, orang tua murid SD 012 Bontang Selatan, tetap memberikan dukungan penuh terhadap program MBG. Menurutnya, pemerintah perlu rutin melakukan evaluasi dengan mendengarkan masukan dari sekolah-sekolah penerima.

5 Daerah dengan Kasus HIV Tertinggi di Kalimantan Timur

Penyakit HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan isu kesehatan masyarakat yang masih menjadi tantangan global, termasuk di Indonesia. Data statistik kesehatan yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur menunjukkan adanya disparitas signifikan dalam temuan kasus baru Penyakit HIV/AIDS di berbagai kabupaten/kota.

Berikut adalah lima daerah dengan jumlah kasus baru HIV/AIDS terbanyak di Kalimantan Timur:

  • Kota Samarinda: 130 kasus
  • Kota Balikpapan: 58 kasus
  • Kabupaten Kutai Timur: 33 kasus
  • Kota Bontang: 24 kasus
  • Kabupaten Kutai Barat: 21 kasus

Data penemuan kasus baru HIV/AIDS ini menjadi alarm penting bagi pemerintah, lembaga kesehatan, dan seluruh lapisan masyarakat. Angka tinggi di beberapa kota utama seperti Samarinda dan Balikpapan menunjukkan bahwa fokus pencegahan harus diperkuat pada populasi perkotaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *