Jumlah dan Lokasi Pangkalan Udara Internasional di Berbagai Negara
Pertanyaan tentang berapa banyak pangkalan udara internasional yang dimiliki suatu negara mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya bisa sangat rumit. Hal ini disebabkan oleh perbedaan definisi, kebijakan pemerintah, serta situasi geopolitik yang kompleks. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat (AS) memiliki jaringan pangkalan udara luar negeri yang paling luas, sedangkan negara lain memiliki jumlah yang lebih sedikit dan fokus pada wilayah tertentu.
Amerika Serikat: Jaringan Terluas di Dunia
Angkatan Udara AS memiliki pangkalan udara internasional terbanyak di dunia. Beberapa pangkalan yang terkenal antara lain Pangkalan Udara Ramstein di Jerman, Kadena di Jepang, Osan di Korea Selatan, Al Udeid di Qatar, Incirlik di Turki, Aviano di Italia, serta RAF Lakenheath di Inggris. Selain itu, AS juga memiliki pangkalan rotasi di Australia, Norwegia, Filipina, dan sejumlah lokasi lainnya.
Pangkalan rotasi adalah fasilitas militer di luar negeri yang tidak bersifat permanen, melainkan digunakan secara bergantian (rotasi) oleh pasukan suatu negara untuk latihan, operasi, atau penempatan sementara. Secara keseluruhan, Angkatan Udara AS memiliki lebih dari 45 pangkalan udara yang berada di luar wilayah kedaulatan AS. Jumlah tersebut dapat meningkat menjadi 65 atau lebih, tergantung pada definisi yang digunakan.
Pada 2019, Angkatan Luar Angkasa AS (US Space Force) dipisahkan dari Angkatan Udara AS dan dibentuk sebagai cabang militer tersendiri. Jika pangkalan-pangkalan Angkatan Luar Angkasa AS turut diperhitungkan, maka jumlahnya bisa bertambah, termasuk Pangkalan Luar Angkasa Pituffik di Greenland (sebelumnya Pangkalan Udara Thule), serta instalasi radar di lokasi seperti Pulau Ascension, tergantung pada definisi pangkalan yang digunakan.
Selain itu, terdapat kehadiran Angkatan Udara AS di Pulau Wake, Kepulauan Mariana Utara, Samoa Amerika, serta Puerto Riko. Angkatan Laut dan Korps Marinir AS secara bersamaan membentuk apa yang sering disebut sebagai “angkatan udara terkuat kedua di dunia.” Mereka mengoperasikan kapal induk dan kapal serbu amfibi yang berfungsi sebagai pangkalan udara terapung di lautan lepas.
Inggris dan Prancis: Warisan Kolonial
Inggris dan Prancis masih mempertahankan sejumlah pangkalan udara di luar negeri sebagai warisan kolonial. RAF memiliki pangkalan udara di Kepulauan Falkland, Pulau Ascension, Gibraltar, serta Siprus melalui Pangkalan Militer Berdaulat, terutama Akrotiri. Inggris juga memiliki kehadiran militer di Qatar dan Uni Emirat Arab. Diego Garcia secara resmi merupakan bagian dari Wilayah Samudra Hindia Britania, tetapi Inggris hanya memiliki kehadiran terbatas di sana dan terutama memanfaatkan pangkalan tersebut untuk pengisian bahan bakar.
Prancis memiliki pengaruh global yang luas. Jaringan ini berpusat pada wilayah dan departemen seberang laut serta bekas koloni Prancis di Afrika. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kehadiran militer Prancis di Afrika mengalami tekanan besar, sehingga Paris menarik sebagian besar pasukannya dari benua tersebut. Meski demikian, Prancis masih mempertahankan pangkalan berskala lebih kecil di Djibouti dan Gabon.
Rusia: Situasi Rumit dan Fokus pada Pasca-Soviet
Situasi Rusia terkait pangkalan udara internasional tergolong rumit. Pangkalan yang cukup jelas antara lain Pangkalan Udara Khmeimim di Suriah, Bandara Erebuni di Armenia, Pangkalan Udara ke-999 di Kirgistan, Baranovichi di Belarus, serta Kambala di Kazakhstan. Rusia mengakui Abkhazia sebagai negara merdeka, meskipun secara internasional wilayah tersebut dianggap bagian dari Georgia.
Setelah runtuhnya rezim Bashar al-Assad pada akhir 2024, belum jelas sejauh mana Rusia masih dapat menggunakan Pangkalan Udara Khmeimim di Suriah. Selain itu, Rusia mempertahankan sejumlah pangkalan udara di wilayah Ukraina yang diakui secara internasional, termasuk Krimea. Keberadaan Rusia di Afrika juga masih samar, dengan operasi sebelumnya dijalankan oleh kelompok tentara bayaran Wagner, yang kini digantikan oleh Korps Afrika.
China, Turki, dan Singapura: Pangkalan yang Lebih Regional
Pangkalan udara internasional China relatif terbatas. China memiliki beberapa fasilitas di Djibouti, sementara landasan pacu di Kepulauan Spratly dan Paracel berada di wilayah sengketa di Laut China Selatan. China juga memiliki akses ke pangkalan udara di negara-negara seperti Pakistan.
Turki memiliki kehadiran angkatan udara yang signifikan di Pangkalan Udara Gecitkale di Siprus Utara, yang dianggap Turki sebagai negara merdeka, meskipun secara internasional diakui sebagai bagian dari Siprus. Singapura juga memiliki pangkalan udara internasional, meski didirikan dengan motif berbeda. Karena keterbatasan wilayah, Angkatan Udara Singapura menempatkan dan melatih pesawatnya di lokasi seperti Guam, Australia, dan Thailand.
Mengapa Amerika Serikat Memiliki Banyak Pangkalan Udara?
Perbedaan dalam jumlah pangkalan udara luar negeri AS dibandingkan negara lain berakar pada satu faktor utama. Amerika Serikat menyesuaikan strategi militernya dengan ambisi globalnya, sementara negara lain umumnya memanfaatkan pangkalan udara untuk memperkuat dominasi regional.
